Tidak Ada Ambulance di Puskesmas, Pasien Digonceng Suster

Bagikan Bagikan
Suster membonceng pasien yang butuh perawatan.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) - Akibat tidak adanya ambulance di Puskesmas Timika, seorang pasien terpaksa digonceng oleh dua orang suster menggunakan kendaraan roda dua.

Kejadian ini terjadi Senin (3/12) pagi, ketika pasien yang merupakan seorang ibu muda yang mendatangi Puskesmas Timika hendak berobat. Namun, dikarenakan kondisi pasien kurang baik, dimana terlihat sekujur kaki, sebagian muka dan jari-jari tangan pasien mengalami pembengkakan dan sulit digerakan. Pasien yang awalnya hendak berobat , langsung dilarikan oleh petugas menggunakan sepeda motor untuk mendapatkan perawatan lanjutan dan penanganan yang tepat.

Pasien lain yang sempat mengabadikan momen ini langsung menyebarkan informasi melalui pesan singkat WhatsApp. Bahkan beberapa warga yang juga sedang berobat menyayangkan kejadian ini. Menurut warga, seharusnya ada Ambulance yang stanby di sini, meskipun ini gedung sementara. Apalagi ibu yang dibonceng itu sepertinya ibu hamil atau penderita diabetes. Karena kaki dan jari-jari tangan bengkak semua sampai memerah.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Rizal Ubra mengatakan, selama tahun 2018 tidak tersedia mobil ambulance ataupun Puskesmas Keliling (Pusling) di Mimika. Sebab, Dinkes baru mengorder ambulance dan Pusling beberapa waktu lalu dan saat ini sedang dalam perjalanan.

“Memang untuk saat ini tidak ada ambulance dan Pusling di Puskesmas Timika. Kami sudah pesan 10 unit pusling dan tiga unit ambulance 119 dan sekarang sementara dalam perjalanan ke Mimika. Masa kontraknya selesai tanggal 29 November, tapi karena barangnya belum tiba di Mimika, maka pembayarannyapun tidak bisa dikeluarkan Bagian keuangan,”  ungkap Reynold saat ditemui di Kantor Dinkes, Senin (3/12).

Dijelaskan, Pusling roda empat itu akan ditempatkan di Puskesmas Potowaiburu dan Puskesmas Agimuga. Sedangkan ambulance akan ditempatkan di Puskesmas dalam wilayah kota dan Puskesmas pinggiran kota untuk pelayanan sebelum ke RS.

Namun ia mengatakan, kejadian tersebut sebetulnya akibat dari prilaku manusia. Dimana, banyak masyarakat yang mendadak mencari layanan kesehatan ketika penyakit yang dideritanya sudah parah atau  dalam keadaan sekarat. Padahal, jika setiap manusia menyadari dan peduli akan kesehatan diri, pengobatan harus rutin sejak adanya gejala penyakit tertentu.

“Sekarang kita tahu kebanyakkan orang itu menunggu sakitnya parah baru ke Puskesmas. Untuk persoalan ini seharusnya keluarga dari penderita diabetes itu yang harus sigap untuk mengantarkan korban ke RSUD. Kalau sudah tahu menderita diabetes, maka harus rajin control dan konsultasi kepada petugas kesehatan di Puskesmas atau RSUD,” tuturnya.

Penanganan pasien di Puskesmas merupakan pasien rujukan lanjutan. Dengan demikian, pasien jantungan dan diabetes merupakan pasien RS yang dititipkan di Puskesmas dan masuk dalam program penanggulangan penyakit kronis. Dengan demikian, Puskesmas hanya melanjutkan pengobatan yang telah dilakukan oleh RS.

“Kami berharap adanya kerja sama dari masyarakat. Dalam artian, kalau ada anggota keluarga yang sakit, tidak boleh ditahan terlalu lama di rumah, tapi harus selalu dicek dan dikonsultasi secara rutin. Karena sesuai dengan standar pelayanan minimal, Puskemas itu melakukan pertolongan terhadap penyakit gawat darurat level satu seperti pendarahan ringan atau pata tulang dan level tingkat satu lainnya,” jelasnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment