Tidak Kompromi Selesaikan KKB

Bagikan Bagikan
Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto.(Foto-Elshinta)

SAPA (JAKARTA) - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak pernah kompromi dalam menyelesaikan keberadaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, yang telah membunuh warga negara.

"Kami tidak pernah kompromi karena tidak setara dengan kelompok tersebut," kata Wiranto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/12).

Hal itu dikatakannya terkait kasus tewasnya sejumlah pekerja di daerah Nduga, Papua pada Minggu (2/12) akibat dibantai secara sadis oleh KKB.

Wiranto mengatakan pandangan pemerintah tidak menempatkan setara terhadap kelompok yang menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan memandang mereka adalah orang khilaf dan tersesat.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara demokratis akan menerima mereka kembali apabila telah sadar dan mengakui selama ini telah tersesat.

"Indonesia sebagai negara demokrasi akan menerima mereka kalau telah sadar, namun tidak ada negosiasi dalam proses ini," ujarnya.

Wiranto mengatakan terbuka peluang bagi pemerintah Indonesia untuk menggunakan pendekatan militer dalam memberantas KKB di Papua.

Menurut dia hukum internasional memperbolehkan penggunaan senjata kalau ada kelompok yang melawan pemerintah dengan menggunakan senjata.

Dia menilai kelompok bersenjata yang membunuh masyarakat tidak berdosa, tidak bisa dilawan hanya langkah persuasif dengan menggunakan kata-kata.

"Ini sudah berlangsung lama. Saya pernah menangani kelompok di Aceh, Kalimantan dan Papua, mereka ketika memegang senjata merasa hebat," tuturnya.

Menurut dia, aktivis HAM harus adil melihat dan menilai persoalan di Papua karena jangan sampai KKB yang telah membunuh masyarakat yang sedang membangun di Papua tidak dikatakan pelanggaran HAM.

Karena dia menilai setelah peristiwa di Nduga, tidak ada aktivis HAM yang mengutuk kejadian tersebut, sehingga dirinya mengajak semua anak bangsa untuk membuka mati hati untuk bersama-sama membela NKRI dari rongrongan kelompok bersenjata.

Sementara itu, Polisi sedang menelusuri akun-akun media sosial yang menjadi alat propaganda kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya. Ada 20 akun media sosial yang ditelusuri.

"Baik di YouTube, beberapa (akun) Facebook, dan sebagian besar di Facebook. Twitter juga ada, tapi cuma beberapa," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes
Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/12).

Polisi menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk menangani akun-akun tersebut.
"Sekarang kan dunia IT, mereka juga menggunakan IT untuk melakukan propaganda. Perang sibernya digunakan juga. Kita antisipasi," imbuh Dedi.

KKB, sambung Dedi, tak hanya memanfaatkan media sosial sebagai alat propaganda, tapi juga menyiarkan kabar tak benar ke dunia internasional soal kondisi di Papua dan perlakuan pemerintah terhadap masyarakat Papua.

"Berita-berita yang tidak benar atau kejadian-kejadian lama diunduh kembali dan dibuat narasi lagi. Sama seperti penyebaran berita hoax," ujar Dedi.

Dari hasil penyelidikan awal, pemilik akun-akun media sosial yang dimaksud adalah simpatisan KKB dan berdomisili di Papua.
"Kita juga berikan edukasi kepada masyarakat bahwa kejadian itu adalah kejadian lama yang sudah ditangani masa lalu," jelas dia. (Ant/Dtc)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment