Areal Persawahan di SP7 Sudah Siap Ditanami Padi

Bagikan Bagikan
Kepala Kampung Mulia Kencana Samsul Bahri.(Foto-Yol)

SAPA (TIMIKA) – Areal persawahan milik Kelompok Tani Karya M Mandiri di lokasi transmigrasi SP7, Kampung Mulia Kencana Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika Papua sudah siap ditanami padi.

Penanam padi di areal persawahan milik kelompok  tani  ini rencanya akan oleh Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Pio L. Nainggolan, SE, MTr (Han) bersama Dinas Tanaman Pangan Holtikulturan dan Perkebunan Mimika pada Senin (28/1).

Kepala Kampung Mulia Kencana, Syamsul Bahri mengatakan, sebenarnya penanam padi oleh Dandim dan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Mimika ini dilaksanakan pada Sabtu (26/1). Tapi karena ada kesibukan tertentu diundur ke Senin (28/1).

“Sebenarnya penanaman padi dilakukan pada hari ini (Sabtu – Red), tapi karena ada kegiatan lain, diundur ke Senin (28/1). Saya dan kelompok tani sudah siap untuk melaksanakan penanaman tersebut,” kata Syamsul kepada Salam Papua yang berkunjung ke lokasi persawahan di SP7, Sabtu (26/1). Saat berkunjung ke SP7 ini, Salam Papua didampingi Admin Grup Whatsapp (WA) Eme Neme Yau Ware (ENY), Adrid Rumbau, S.Sos, M.Si dan anggota WA ENY, Eples Isir.
Areal lahan perswahan di SP 7.(Foto-Yol)
 Syamsul menjelaskan, areal persawahan di SP7  yang saat ini sudah siap ditanam sekitar delapan hektare dari luas keseluruhan  yang mencapai ratusan hektare. Saat ini anggota tani Karya M Mandiri terus menggarap lahan yang ada menjadi areal persawahan untuk ditanam padi.

“Kelompok tani yang ada sangat bersemangat untuk membuka lahan yang ada untuk dijadikan sawah, jadi areal persawahan akan terus bertambah. Sebagai Kepala Kampung Mulia Kencana, saya sangat mendukung apa yang dilakukan kelompok tani ini,” ujar Syamsul, satu-satunga warga transmigran asal Palembang Sumatera Selatan di wilayah transmigrasi SP7 ini.

Syamsul yang menjabat Kepala Kampung Mulia Kencana sejak empat tahun lalu itu mengatakan, dukungannya kepada warga kampung yang umumnya berprofesi sebagai petani ini dalam bentuk membantu peralatan pertanian, pupuk dan obat-obatan. Bantuan ini dibeli menggunakan dana desa (DD).

“Bantuan peralatan disesuaikan dengan jenis pertanian yang digeluti. Khusus untuk Kelompok Tani Karya M Mandiri, selain alat pertanian dan obat-obatan, kami juga membantu pupuk dalam jumlah yang banyak. Tujuannya agar kapan pun dibutuhkan, petani bisa gunakan. Jangan sampai petani mengeluh ketiadaan pupuk dan obat-obatan. Lihat saja pupuk yang masih tersedia untuk kelompok tani ini masih sekitar 40 karung,” kata Syamsul.

Bantuan untuk Kelompok Tani Karya M Mandiri ini juga datang dari Dinas Tanaman Pangan Holtikulturan dan Perkebunan Mimika, diantaranya berupa bibit padi, obat-obatan dan traktor tangan. Saat ini ada lima traktor tangan yang digunakan Kelompok Tani Karya M Mandiri untuk membuka dan mengembangkan lahan yang ada.

Syamsul mengatakan, areal persawahan di SP7 sebenarnya sudah dibuka sejak tahun 2010 lalu, saat itu belum ada irigasi. Sementara irigasi baru dibangun pada tahun 2015.

“Jujur saya katakan bahwa irigasi di kampung ini dibangun oleh kepala kampung sebelumnya, Weli Murib. Jadi kalau orang yang harus dipuji dengan adanya irigasi dan berkembangnya sawah di kampung ini adalah mantan kepala kampung Weli Murib, bukan saya. Saya ini hanya meneruskan apa yang dirintis tersebut,” ujar Syamsul.
Masyarakat Asli Papua menanam padi.(Foto-Yol)
 Menurut Syamsul, Kelompok Tani Karya M Mandiri SP7 memiliki anggota sebanyak 15 orang, tidak hanya warga transmigrasi pendatang tapi juga warga asli Papua.

“Jadi areal persawahan yang akan ditanam Pak Dandim dan Dinas Tanaman Pangan itu tidak hanya milik warga pendatang tapi juga milik masyarakat asli Papua. Warga asli Papua ini belajar bertani sawah dari warga pendatang dan sekarang ini mereka sudah bisa menanam dan mengelola sawahnya sendiri,” kata Syamsul.

Syamsul juga mengatakan, sejak irigasi dibangun, Kampung Mulia Kencana bebas dari genangan air saat hujan deras.

“Pada tahun 2011 atau 2012, SP7 ini digenangi air sekitar dua meter, sampai Tim SAR dari Timika membawa peralatan semacam speed boat itu untuk menolang kami di sini. Tapi setelah adanya irigasi, SP 7 tidak lagi digenangi air sampai saat ini,” kata Syamsul. 
Kelompok Tani Karya Mandiri.(Foto-Yol)
 Sementara Ketua Kelompok Tani Karya M Mandiri SP7, Norbertus Lekewatu mengatakan, areal persawahan yang ada sudah dikerjakan sejak beberapa tahun yang lalu dengan hasil panen yang bagus, karena lahannya subur.

“Kalau bibit padi yang ditanam berkualitas, maka padi juga tumbuh subur dan hasil panennya juga bagus. Tapi kalau kualitas bibit padinya buruk, maka tanaman padi juga tidak subur. Hasil panen juga sangat sedikit,” kata Norbertus yang sehari-hari dipanggil Mike.

Mike mengatakan, kendala yang dihadapi beberapa tahun lalu adalah masih banyak hewan berupa sapi dan babi yang berkeliaran bebas dan sering merusak padi yang ditanam. Namun permasalahan tersebut sakarang sudah tidak ada, terlebih saat Syamsul Bahri dipercaya memimpin Kampung Mulia Kencana.

“Beberapa kali terjadi, sapi dan babi masuk makan sampai habis padi yang sudah siap di panen. Kami petani sampai menangis, hasil keringat kami tidak bisa dipanen. Tapi sejak Bapak Syamsul menjadi kepala kampung, semua hewan ditertibkan, sehingga kami sudah bisa menikmati hasil panen,” kata Mike, warga transmigrasi asal Timor, Provinsi NTT. (Yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment