Cegah Prostitusi Daring Melalui Pendekatan Kultural

Bagikan Bagikan
Stop prostitusi online.(Foto-Antara)
Oleh Kliwon *)

UNTUK  memberantas sama sekali prostitusi daring (online), sangatlah sulit. Oleh karena itu, perlu pendekatan "law enforcement" (penegakan hukum) berbarengan dengan pendekatan kultural di tengah masyarakat.

Membangun budaya melapor konten negatif di dunia maya suatu keniscayaan supaya pihak berwenang cepat bertindak dengan memblokir akun bermuatan pornografi, perjudian, pemerasan, penipuan, kekerasan, terorisme, radikalisme, SARA, pencemaran nama baik, fitnah, dan/atau berita bohong (hoaks).

Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha pun memandang perlu melakukan patroli media sosial secara gencar serta membuka keran laporan bagi masyarakat guna mengatasi prostitusi daring.

Sebenarnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sudah melaksanakannya. Kominfo menerima laporan melalui pesan WhatsApp di nomor 0811 922 4545.

Ketika menanyakan tata cara pelaporan via nomor WA tersebut, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mempersilakan penanya melapor konten negatif dengan menyertakan "screen capture" beserta link situs.

Dapat pula, membuat aduan melalui website aduankonten.id, atau untuk laporan penipuan dapat melaporkan nomor rekening pelaku penipuan di website cekrekening.id.

Fitur pelaporan prostitusi daring juga tersedia di media sosial. Masyarakat atau warganet bisa melaporkan konten negatif melalui fitur tersebut.

Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) mencontohkan Twitter. Media sosial ini telah menyediakan fitur pengaduan untuk melaporkan akun yang bermasalah.

Caranya relatif sangat mudah. Silakan masuk menu http://support.twitter.com/forms, lalu perhatikan pada daftar pengaduan "report a violation" dan pilih menu "reporting spam".

Menurut dia, praktiknya sudah berjalan, banyak akun porno dan prostitusi yang ditutup Twitter. Begitu pula, Bigo yang dahulu sempat ramai karena menjadi tempat transaksi. Dalam hal ini, Pemerintah sudah menindak dengan baik.

Platform prostitusi daring relatif banyak sekali. Ada yang memakai tinder, WeChat, dan juga Bee Messenger. Bagi masyarakat yang menemui akun prostitusi, kata Pratama, bisa langsung melaporkan dengan fitur yang ada agar segera diblokir.

Laporan Masyarakat Berkat laporan masyarakat, sejumlah kasus pelacuran di media sosial terungkap. Misalnya, kasus prostitusi anak di Facebook. Perkara ini muncul dan ditindaklanjuti aparat atas laporan masyarakat.

Begitu pula, pemblokiran sejumlah akun prostitusi di Twitter, kata Pratama, juga atas laporan masyarakat lewat fitur RAS (report as spam) yang disediakan oleh media sosial ini.

Di Twitter, relatif sangat banyak konten pornografi bercampur penawaran pekerja seks komersial (PSK). Misalnya, dengan mengetikkan kata "becexin", akan muncul banyak konten porno sekaligus PSK yang dijajakan.

Bila dahulu memakai web, menurut dia, ada kerentanan memasukkan virus pada setiap konten porno maupun halaman (page khusus) yang berisi pornografi, PSK, maupun bagaimana cara mem-"booking"-nya.

Dahulu ada grup Facebook. Jadi, seorang germo, mami, atau papi yang mempunyai grup FB, kemudian memberikan akses terbatas ke grup media sosial ini.

Biasanya mereka memulai di situs forum komunitas maya Indonesia, ada "threat" konten Night Life. Saat sudah berkumpul, mereka bersepakat dan membuat grup khusus, bisa WhatsApp, grup FB, atau BBM.

Menurut Pratama, yang masih sering digunakan adalah BBM karena bisa tukar kontak tanpa harus mengetahui nomor masing-masing. Model seperti ini ada proses filter oleh germo agar grup selalu steril dan konten berupa foto PSK yang dijajakan tidak beredar di luar grup mereka. Bila ketahuan ada yang membocorkan mereka, akan dikeluarkan dari grup.

Model komunal ini biasanya dipakai oleh kelas menengah atas. Dalam grup, mereka biasanya melakukan transaksi bersama untuk "show" di hotel dengan harga jutaan rupiah.

Untuk model prostitusi daring "perorangan", kini relatif banyak memakai WeChat, Bee Messenger, dan juga Twitter, bahkan Instagram pun mulai sering dilirik.

Dari segi keamanan siber ataupun ancaman peretasan ini, menurut dia, lebih aman karena info dan komunikasi langsung memakai sarana aplikasi. Bahkan, di WeChat dan Bee, ada "tools" untuk mengetahui siapa saja yang bisa di-"booking" dalam area jarak tertentu.

Tinder Tinder yang cukup marak di kalangan anak muda, misalnya, sejatinya aplikasi ini untuk mencari teman kencan. Namun, kata Pratama, faktanya juga digunakan oleh PSK maupun calon pelanggan.

Pratama lantas menyampaikan data Jurnal Kesehatan Masyarakat di Jakarta Selatan pada tahun 2015. Jurnal ini mengungkap ada 372 dari 1.032 penderita AIDS (acquired immune deficiency syndrome) atau penyakit sistem kekebalan tubuh akibat infeksi retrovirus HIV karena prostitusi daring.

Hal itu, kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini, bisa dimengerti karena adanya Kalibata City yang selama ini dikenal sebagai tempat prostitusi daring yang cukup besar.

Sampai saat ini, menurut Pratama, tidak jelas berapa kasus yang diungkap pihak kepolisian. Namun, setidaknya ada beberapa kasus heboh, seperti artis Ibu Kota VA dan model AS di Surabaya, Sabtu (5/1). Mereka dibanderol puluhan juta sekali kencan.

Kasus prostitusi daring yang melibatkan selebritas itu, kata Wakil Ketua Komisi X (Pendidikan, Olahraga, dan Sejarah) DPR RI Reni Marlinawati kepada Antara di Jakarta, Minggu (6/1), harus menjadi momentum bersih-bersih ruang siber dari prostitusi.

Pemerintah dan aparat kepolisian, kata Reni, harus melakukan aksi represif dengan menyetop di tingkat hulu praktik prostitusi daring yang cukup marak di tengah masyarakat.

Aksi bersih-bersih ruang siber dari prostitusi, sebagaimana yang diutarakan Reni, tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah, tetapi juga seluruh komponen masyarakat.

Warganet perlu aktif melaporkan konten negatif, baik melalui saluran pemerintah maupun fitur pelaporan yang tersedia di media sosial, agar pihak berwenang segera menindaklanjuti konten yang meresahkan masyarakat itu. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment