Cuaca Buruk, Proyek Jalan Trans Papua Rusak Berat

Bagikan Bagikan
Cuaca buruk, proyek jalan trans Papua mengalami kerusakan.(Foto-Detik.com)

SAPA (JAKARTA) - Proyek jalan Trans Papua ruas jalan Jayapura-Wamena mengalami kerusakan berat. Kerusakan disebabkan oleh cuaca buruk ditambah banyak kendaraan yang melintas.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVIII Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Osman Harianto Marbun menerangkan, jalan Trans Papua Jayapura-Wamena sepanjang 575 km baru tembus 2018. Sepanjang 230 km masih berupa jalan tanah dan kerikil.

Dia melanjutkan, jalan tanah dan kerikil ini rawan rusak karena masih dalam proses pekerjaan. Apalagi, belakangan hujan terus mengguyur Papua.

Sementara, masyarakat Papua yang mengetahui jalan sudah tembus antusias untuk melewatinya. Padahal, jalan-jalan itu belum resmi dibuka.

"Tahun ini tersambung, memang anggaran tahun 2018 belum membuka resmi, karena masyarakat mengetahui terbuka mereka lewat," kata dia, Minggu (13/1).

"Dari 575 km, itu 230 km masih terdiri dari jalan tanah, jalan tanah sangat konvergensial untuk rusak, harapan kita mempercepat untuk mengaspal ini," tambahnya.

Dia melanjutkan, titik yang rusak dan dan kini sedang tahap perbaikan yakni KM 276, KM 306, KM 310, dan KM 386. Saat ini, titik tersebut sedang dalam penanganan dengan menambah alat berat.

"Umumnya kerusakan di daerah Yalimo dan Keerom, Membramo ke atas lah," ujarnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, masyarakat antusias untuk melewati Trans Papua khususnya Jayapura-Wamena karena memangkas biaya logistik.

"Karena tahu sudah tembus mereka lewat aja, ya kan, kita nggak bisa melarang masyarakat lewat dengan terbukanya jalan Jayapura-Wamena, harga logistik, harga kemahalan tertekan menjadi lebih murah sampai Rp 5.000-6.000 per kg, dibanding naik pesawat, akhirnya antusiasme masyarakat untuk lewat jalan darat sangat besar, sehingga tak bisa kita bendung," katanya.

Dia menjelaskan, selama ini masyarakat mengirim barang dari Jayapura ke Wamena menggunakan pesawat. Secara kasar, biaya logistik menggunakan pesawat sebesar Rp 13.000 per kg. Sementara, dengan menggunakan akses darat biayanya bisa terpangkas hingga separuhnya.

"Selama ini pakai pesawat, biaya 1 kg per pesawat Rp 13.000 jadi sekarang mereka angkut 3,5 ton per kendaraan itu, biayanya Rp 21 juta, jadi rata-rata Rp 6.000-7.000 per kg itu menghemat Rp 6.000 per kg dengan jalan darat," terangnya.

Dia mengatakan, sebenarnya jalan yang dalam proses pembangunan itu ditutup. Namun, karena warga tetap berniat melintasi jalan maka dibuka seminggu sekali.

"Akhirnya kami buka satu kali seminggu, tiap hari Minggu kita buka, mereka udah pada antre tempat kita kerja, tiap hari minggu. Kemudian semakin banyak kendaraan yang lewat, dan berbagai jenis tidak terbatas lagi muatan yang dibawa," katanya. (Detik.com)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment