Masuk Wakia, Masyarakat Minta Diadyani Timber Presentasi Ulang

Bagikan Bagikan
bersama para tokoh Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah. (Foto-Maria Welerubun)

SAPA (TIMIKA) - Tokoh masyarakat bersama tokoh pemuda dari Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah meminta agar PT Diadyani Timber melakukan presentasi ulang sebelum beroperasi di wilayah mereka. Pasalnya, mereka menganggap pertemuan pertama antara perusahaan bersama masyarakat tidak sah, karena hanya dihadiri beberapa warga saja.

Yeremias Imbiri yang mengaku sebagai tokoh pemuda mengatakan, PT Diadyani Timber sebelumnya telah beroperasi pada beberapa kampung yang bersebelahan dengan Wakia. Akan tetapi tetapi, perusahaan ini secara umum belum menjelaskan tentang bagaimana nantinya kontribusi yang akan diberikan dan didapatkan oleh masyarakat setempat.

“Kami minta perusahaan jelaskan kembali kepada masyarakat dan pemerintah setempat tentang pengoperasian di kampung kami. Presentasi ini harus dihadiri orang-orang yang berkepentingan seperti Danramil, Polsek, Kepala Distrik, Kepala Kampung, orang tua-tua kampung dan seluruh masyarakat. Kalau pertemuan hanya dihadiri beberapa warga saja, maka ini tidak sah. Karena tidak ada pihak yang akan bertanggungjawab dikemudian hari,” kata pria yang akrab disapa Yeri ini saat jumpa pers bersama awak media dibilangan Jalan Hasanudin, Minggu (13/1).

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Kepala Distrik Mimika Barat Tengah, Fizer W. A. Monim, S.STP mengungkapkan, pertemuan yang dilakukan oleh perusahaan beberapa waktu lalu tersebut, juga tidak dihadiri oleh pemerintah setempat, baik itu pemerintahan distrik maupun kampung. Padahal, Wakia adalah wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Distrik Mimika Barat Tengah. Karena itu, perusahaan diminta harus melihat semua hal dengan baik.

“Setiap rapat atau pertemuan kami tidak dilibatkan. Jangan sampai ada masalah baru kami yang diminta bertanggungjawab karena itu wilayah kerja kami. Karena itu, kalau bisa pertemuan di buat kembali dengan menghadirkan semua yang berkepentingan dan bertanggungjawab akan Kampung Wakia, agar tidak ada yang merasa dirugikan,” tegasnya.

Sedangkan, tokoh masyarakat Wakia Antonius Tapipeyao menegaskan, bahwa, selama ini yang terjadi banyak perusahaan kayu yang masuk ke beberapa kampung tetangga dan menawarkan pembelian kayu dengan harga yang tidak sesuai. Sehingga, pengalaman seperti itu diharapkannya tidak terulang lagi kepada masyarakat di Wakia.

“Melangkah masuk ke daerah orang lain harus tahu diri. Kalau ingin beroperasi di tempat orang harus di perjelas, hak apa saja yang akan diterima masyarakat dan kewajiban apa yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Jangan hadir untuk menipu masyarakat yang akan menerima dampak langsung dari penebangan itu,” tegas Anton.

Sedangkan dari Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) yang diwakili Lazarus Emaruta dan Andi menyampaikan bahwa, sejauh ini PT Diadyani Timber belum meminta izin kepada lembaga selaku perwakilan masyarakat adat baik secara tertulis maupun secara lisan.

Meski demikian, pada intinya masyarakat setempat menerima kehadiran perusahaan di Kampung Wakia, tetapi harus ada pertemuan bersama yang dihadiri oleh semua pihak yang berkepentingan langsung terhadap kelangsungan kampung nantinya. Meski bisa diterima beroperasi, perusahaan harus melihat hak masyarakat, sehingga alangkah baiknya dilakukan pertemuan ulang dengan semua pihak yang dimaksud. (Maria Welerubun)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment