Orang Asli Papua Mau Makan Ikan dan Udang Beli Dari Nelayan Pendatang, Ini Salah Siapa?

Bagikan Bagikan
M. Adrid Rumbou, Penggagas Diskusi tentang Kemiskinan di Papua dan Solusinya.(Foto-Istimewa)
Diskusi Grup Whatsapp ENY tentang Kemiskinan di Papua dan Solusinya (3)

MENGAPA Papua bisa menjadi yang termiskin? Dan apa solusinya? Grup WhatsApp (WA) EME NEME YAUWARE (ENY) di Timika membahasnya dalam diskusi khusus yang digagas oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw (mantan Kapolda Papua dan Sumatera Utara) dan Admin Grup ENY, M. Adri Rumbou, S.SoS, M.Si  sejak Minggu, 20 Januari 2018.

Dengan merujuk pada tulisan Redaksional SKH Salam Papua edisi Senin 30 Juli 2018 dengan judul “Provinsi Papua Juara 1 Termiskin Se Indonesia,” yang diposting di Grup WA ENY oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw pada Minggu (20/1) pukul 18.54 WIT,  diskusi yang mengangkat tema, “Kemiskinan di Papua dan Solusinya” berjalan hangat. Bertindak sebagai Moderator diskusi ini adalah Prof. Dr. Hironimus Taime, MBA (Pengamat Ekonomi dan Sosial Indonesia).

Berikut ini sejumlah pendapat, masukan, kritik dan saran solusi yang disampaikan oleh member Grup WA Eme Neme Yauware yang diterbitkan Salam Papua, edisi ketiga.

Setelah memposting tentang defenisi miskin, selaku moderator, Hironimus Taime menawarkan kepada member Grup ENY, siapa yang mau lanjutkan penjelasan masing-masing aspek kemiskinan yang disebutkan. Karena belum ada member yang menanggapi, Hironimus Taime pun langsung menjelaskan.

Absolut. Itu artinya orang yang tidak punya tanah untuk bercocok tanam dan hidup dengan menumpang ditanah orang dengan menjadi Penggarap Tanah Orang lain untuk mempertahankan hidup sehari-hari. Pertanyaannya,  Adakah Orang Papua seperti itu? 

Struktural. Ada struktur Adat Istiadat yang terbentuk dan hidup turun temurun yang disebut Strata Masyarakat dimana ada Kepala Suku Adat dan Jabatan Bawahnya dengan menempatkan Perempuan dan Anak anak jadi Pekerja Keras sementara Kepala Suku jadi Bos. Pertanyaannya, Adakah seperti itu di Papua?

Kultural. Budaya setempat bahwa yang bisa pikul Noken Hasil Kebun itu hanya Perempuan, Laki-laki Pamali. Pertanyaannya, Adakah seperti itu di Papua?

Mental. Perempuan yang bisa kerja keras, laki-laki santai saja. Pertanyaannya, Adakah seperti itu di Papua?

Maka kenapa lahir Cap Papua Miskin? Apa indikatornya?

Hironimus Taime pun melanjutkan. Kalau dari aspek Absolute, Papua tidak masuk kategori miskin karena Tanah Papua yang luas itu perbandingannya 1 Orang Papua mampu memiliki 5 Ha Tanah dan itu lebih dari cukup untuk bertahan hidup 500 Tahun.

Kalau dari Aspek Struktural sangat mungkin terjadi karena sampai saat ini Tanah Papua yang luas tidak mampu diolah sendiri apalagi dipengaruhi : 1. Faktor Sosiologi. 2. Modal. 3. Tekhnologi.

Dari segi Adat, biasa ada Sasi oleh Kepala Suku melarang tidak boleh ambil kelapa sampai jatuh-jatuh dan Sasi dibuka baru boleh ambil. Atau Sasi Ikan dan lain lain. Jadi bertahun-tahun masyarakat hidup dengan Pola Struktur Adat dan Sanksi Adat sehingga hampir tidak bebas atur Tanah Adat Komunal secara individu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat berdasarkan permintaan pasar.

Cultural atau Budaya juga bisa sangat mempengaruhi hidup terkungkung oleh keadaan yang tidak banyak.berubah secara regenerasi.

Mentalpun demikian. Kalau mental malas dan minum.mabuk mendominasi dikalangan Laki-laki maka kemiskinan pun bisa hinggap di keluarga sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam rumah tangga.

Sekali lagi kita ingin ada indikator yang jelas sampai lahir Cap MISKIN. Silahkan yang lain berpendapat.

Postingan Hironimus Taime ini direspon oleh Nikolaus Raing yang juga Ketua Ikatan Flobamora (IKF) Kabupaten Mimika.  Mantappp ulasan Pak Hiro. Problemnya ya spt itu sudah. Oleh karena itu sangat penting  kehadiran pemimpin Papua yg kuat dan berkomitmen tinggi mengangkat harkat dan martabat OAP. Maksudnya pemimpin2 di daerah karna kalau pemerintah pusat sdh berikan Otsus dgn segala keistimewaannya.

Tanggapan berupa motivasi datang dari Apolonia. Bapak2 bicara masalah kemiskinan??, kata kunci; maju atau tdk niat individu bersangkutan, selain itu ada dorongan dan dukungan dari eksternal. Sehingga pentingnya pendidikan. Semua manusia Tuhan menciptakan derajat yg sama. Hanya saja individu tersebut dikatakan bodoh, miskin dan lain2 karena korban kebijakan  penguasa. Supaya tdk ada istilah miskin maka org tua dan Pemerintah mendukung sepenuhnya untuk mencapai tujuan yg diidamkan

Tanggapan yang agak keras disampaikan Vinsensius Apoka.  Saya salah Satu pelaku Penulis Otsus Perwakilan dari Kabupaten Mimika anak Kamoro,  dgn Senior sy Matea Mameyau, OTSUS TIDAK BERHASIL.

AKP Frits Erar.(Foto-Dok-Sapa)
Salah satu Putra Papua di Kepolisian yang kini menjabat Kasat Bimas di Polres Mimika, AKP Frits Erari menanggapi dengan cara berbeda, langsung mengajak member yang ada bisa melihat contoh nyata yang ada di Kabupaten Mimika. Coba besok pagi semua turun ke Pomako baru lihat, sepanjang kali kiri dan kanan perahu2 nelayan dari luar sdh banyak yg masuk, nelayan2 luar dgn alat tangkap ikan dan udang yg canggih, dan orang asli mau makan ikan, udang , karaka harus beli lagi ke mereka2 yg dari luar, ini salah siapa?

Frits melanjutkan. (Ini) Fakta di depan mata kita, kalau bisa ada perda yg melindungi hak2 orang asli, yg jual pinang di sepanjang jalan yos sudarso bukan orang papua, siapa yg salah? Dan semakin banyak orang luar datang jd beban daerah, dan daerah sendiri tdk perna merespon hal ini, utk mengamankan hak2 masyarakatnya,

Di jayapuara, masyarakat serui yg biasa cari cakalang di laut sdh kala saing dgn pendatang krn mrk pakai perahu kayu dan yg dari luar pakai fiber, ini salah siapa? Jadi tlg jd renungan bersama. ( Kasbi)

Nikolaus Raing menanggapi postingan Frits Erari di atas. Pak, menurut saya ada beberapa hal yg selama ini kita tertipu oleh pernyataan2 seperti yg pak sampaikan ini, banyak orang menggunakan kata-kata itu: ada yg bilang SDM orang papua kuranglah, pada hal orang papua sudah mampu.

Ada juga yg bilang  terbelenggu oleh keterbelakangan dan ketertinggalan"  tpi bertepatan saat ini saya mau laju  ke depan justru  terpele oleh pak punya baleho,  saya jadi lemah karena kita sama2 dan harus bersama jadi biar pak di depan dulu, jadi saya biarkan lagi pak di depan,

Nikolaus Raing menambahkan. Ada juga yg saya ingat waktu itu ada penerbagan ke Honolulu dan Darwin, saya senang karena belum ada bandara di daerah lain di Indonesia selain Jakarta, Bali, Batam yg penerbangan langsung ke LN, sekarang sudah tidak ada lagi, saya akhirnya binggung sekarang,, ini memang keterbelakangan yg membelenggu  atau kemajuan yg tidak mau di terima.

Frits Erari tidak menanggapi postingan Nikolaus Raing, tapi malah menggoda Moderator Hironimus Taime. Pa Hiro coba tanggapi ade kasbi pu Pikiran yg tulis di ats.

Hironimus Taime (mungkin dengan senyum khasnya) menanggapi. Tulisan sudah bagus baru ada kata Kasbi bikin saya tertawa sendiri ah…. (Yulius Lopo/Bersambung)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment