Pendapatan Freeport Anjlok Bagaimana Bayar Utangnya?

Bagikan Bagikan
PT Freeport. Indonesia(Foto-Detik)

SAPA  (JAKARTA) - Pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) PT Freeport Indonesia (PTFI) akan anjlok di tahun 2019. EBITDA PTFI bakal turun dari US$ 4 miliar di tahun 2018 menjadi sekitar US$ 1 miliar di 2019.

Penurunan ini karena pergeseran pengelolaan dari tambang terbuka (open pit) menjadi bawah tanah (underground).

Lalu, apakah turunnya EBITDA PTFI membuat PT Inalum (Persero) sebagai pemegang saham mayoritas sulit bayar utang?

Menanggapi itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono meyakini Inalum telah memiliki perencanaan yang baik untuk membayar utang.

"Itu urusan Inalum lah bagaimana, kan mesti sudah di-plan kan bagaimana mencicilnya, mestinya sudah di-plan semua," ujarnya di Kantor Direktorat Jenderal Minerba Jakarta, Rabu (9/1).

Apalagi, kata dia, Inalum merupakan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tambang. Dia bilang, Inalum pasti punya perencanaan yang matang.

"Itu tanggung jawab korporasi lah, Inalum kan perusahaan holding mestinya dia pinter itungnya. Pinter lah, masa dia kuasai Aneka Tambang di bawah dia, Timah, PTBA masa nggak bisa," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Inalum baru saja menggenggam 51% saham PTFI. Untuk mengambil saham tersebut, Inalum menerbitkan surat utang global dengan nilai US$ 4 miliar.

Surat utang itu terdiri dari 4 tenor yakni sebanyak US$ 1 miliar tenor hingga tahun 2021, US$ 1,25 miliar tenor hingga 2023, US$ 1 miliar tenor hingga 2028, dan US$ 750 juta tenor hingga 2048. Rata-rata kupon obligasi tersebut sebesar 5,9991%.  (Detik.com)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment