Polda Papua Tangkap Seorang Pemilik Toko Emas di Timika

Bagikan Bagikan
Kasat Reskrim Polres Mimika AKP I Gusti Agung Ananta didampingi Wakapolres Mimika Kompol I Nyoman Purnia.(Foto-Salma)

SAPA (TIMIKA) - Polda Papua didukung Polres Mimika menangkap seorang pemilik toko emas di Timika berinisial A  karena membawa logam mulia berupa emas batangan dengan jumlah besar ke luar Mimika.

“Sebelum dilakukan penangkapan, yang bersangkutan telah mengirim emas seberat 5 kilogram melalui bandara.  Kami mendapatkan informasi masyarakat bahwa yang bersangkutan menjual emas bentuk batangan itu ke luar Timika. Kami kemudian cek, dan benar,” kata Kasat Reskrim Polres Mimika, AKP I Gusti Agung Ananta didampingi Wakapolres Mimika, Kompol I Nyoman Punia ketika ditemui Salam Papua di Ruang Data Kantor Pelayanan Polres Mimika, Jumat (25/1).

I Gusti Ananta  menjelaskan, pemilik toko emas “A”, tidak memiliki sertifikat maupun izin penjualan emas sehingga apa yang dilakukannya tergolong Ilegal.

“Polda Papua meminta Satreskrim Polres Mimika untuk menindaklanjuti dengan melakukan pengecekan. Setelah kami cek, teryata benar bahwa pelaku tidak memiliki surat-surat resmi untuk membawa emas dalam jumlah yang besar. Dan saat dilakukan penangkapan, kami mendapati emas dalam bentuk batangan seberat kurang lebih 3,8 kilogram,” kata I Gusti Ananta.

Untuk melengkapi berkas pemeriksaan yang sudah dilimpahkan ke Polda itu, ia mengatakan, sebanyak tiga orang yang merupakan pemilik toko emas lainnya dipanggil sebagai saksi.

Penangkapan terhadap pemilik toko emas ini membuat sejumlah pemilik toko emas di Mimika merasa ketakutan dan memilih menutup tokonya sehingga menyebabkan para pendulang tidak bisa menjual hasil dulangnya dan melakukan aksi pemalangan jalan di Jalan Ahmad Yani Gorong-Gorong.

“Siapapun bisa ditetapkan sebagai tersangka, kalau tidak sesuai prosedur. Kasus ini hampir sama dengan yang ditangani Bareskrim Mabes Polri bersama KPK beberapa waktu lalu di Makassar. Tapi untuk kasus ini, ditangani oleh Polda Papua,” ujarnya.

I Gusti Ananta menambahkan, sebenarnya boleh membawa emas ke luar daerah tetapi tidak dalam bentuk batangan maupun bulatan dan beratnya tidak melebihi batas.

“Tidak masalah kalau sudah dibentuk cincin dan sebagainya. Tapi ilmu ekonominya mereka, kalau dipecah dan dilebur itu dua kali kerja dan untungnya lebih sedikit dibanding yang sudah padatan. Namanya pedagang inginnya cepat untung. Inilah yang menyebabkan pelaku membawa dalam jumlah yang besar. Namun sayangnya tidak dilengkapi dengan surat-surat yang berlaku,” ujar I Gusti Ananta.

“Jadi harus ada surat ijin. Ijin itu didapatkan dengan cara membayar pajak yang tujuannya untuk pembangunan daerah,”  katanya. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment