Umat Hindu Mimika Peringati Hari Raya Kuningan dan Siwaratri

Bagikan Bagikan
Umat hindu di Mimika rayakan Kuningan dan Siwa Ratri sekaligus piodalan Pura Mandhira Mihika Mandaloka. (Foto -Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Umat hindu di Kabupaten Mimika pada Sabtu (5/1), merayakan Hari Raya Suci Kuningan dengan melakukan persembahyangan bersama di Pura Mandhira Mihika Mandaloka, Kelurahan Wonosari Jaya – SP 4. Kegiatan ini dihadiri seluruh umat Hindu yang berada di Tanah Amungsa.

Pada perayaan tersebut, dilakukan juga berbagai kegiatan suci bagi umat Hindu yang ada di Mimika, diantaranya mempelajari bahasa sangsekerta di bimbing langsung oleh Dharma Adhyaksa Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat sekaligus pembina PHDI Se-Papua, Ida Sire Mpu Dharma Agni Yoga Sogata yang didatangkan langsung dari Bali.

Perayaan hari raya Kuningan bertepatan dengan piodalan Pura Mandhira Mihika Mandaloka di SP 4, serta bertepatan pula dengan perayaan suci umat Hindu yakni Hari Siwa Ratri atau yang dikenal dengan malam perenungan dosa bagi umat manusia.

Ketua PHDI Mimika, I Made Sudiarta mengatakan perayaan Kuningan di tahun ini merupakan suatu momen yang begitu langka, dimana hari raya Kuningan juga bertepatan dengan hari suci Siwa Ratri.

“Ini momen langka yang konon terjadi paling cepat 46 tahun sekali. Jadi belum tentu semua orang Hindu pernah mengalami dalam kehidupannya. Rupanya kepastian ‘pertemuan’ dua hari raya ini sulit dipastikan, karena malam Siwa (Siwa Ratri) yang pelaksanaannya setiap sehari sebelum tilem sasih kepitu dalam kalender Bali,” Kata I Made Sudiarta.

Dalam perayaan Kuningan serta piodalan pura, umat Hindu di Mimika secara bergotong royong menyiapkan semua sarana-prasarana upacara. Baik sumbangan materil maupun moril.

“Saya selaku pengurus mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh umat Hindu di Kabupaten Mimika yang terdiri dari berbagai suku, yang sudah bekerjasama dan saling membantu untuk menyukseskan acara di hari Kuningan ini,” ucapnya.

Dijelaskannya, bila hari raya Galungan yang dirayakan sebelumnya memiliki arti perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma, kuningan adalah komitmen (Nguningang, menyampaikan-Red) bahwa umat Hindu siap untuk terus merawat, menjaga dan ajeg di jalan Dharma.

“Maka, 10 hari setelah perayaan kemenangan itu, kita menyampaikan komitmen pada diri sendiri, pada leluhur, pada Tuhan, bahwa kita akan merawat Dharma yang sudah dimenangkan itu,” ujarnya.

Sementara Hari Siwa Ratri atau malam Siwa tidak terlepas dari cerita Lubdaka, sebuah kisah yang dimuat dalam Kitab Siwaratrikalpa yang diperkirakan ditulis pada abad ke-15 oleh Mpu Tanakung.

“Malam Siwa adalah malam dimana kita, menepi dari kerakusan sehari-hari, memanjat pohon kesadaran, merenung, mendekatkan diri dan menyebut-nyebut namaNya dalam kekhusukan bhakti,” terangnya.

Perayaan hari raya suci Kuningan juga dirangkai dengan mewinten (mengkukuhkan) dua pasangan calon Pinandita (pemangku) yang berasal dari masyarakat Suku Kei, Tanimbar dan Banyuwangi. Pewintenan ini dilakukan langsung oleh Ida Sire Mpu Dharma Agni Yoga Sogata disaksikan oleh Binmas Hindu Provinsi Papua, Drs Made Suwena serta seluruh umat Hindu yang hadir dalam persembahyangan bersama tersebut.

“Dengan mewinten (mengukuhkan) dua pasangan suami istri yang akan menjadi calon pinandita atau pemangku di pura ini, disinilah kita dapat melihat begitu luasnya negeri kita. Selama ini umat Hindu yang hanya dikenal berasal dari pulau Bali saja, ternyata umat Hindu itu juga ada yang berasal dari luar pulau Bali seperti kedua pasangan yang baru dikukuhkan ini,” terangnya.

Dirinya berharap dengan adanya pinandita atau pemangku dari suku atau etnis lain, umat Hindu di Mimika dapat saling merangkul dan bersama-sama dalam menjalankan ajaran Weda.

“Ini salah satu tugas pokok PHDI selaku organisasi Hindu. Dengan beranekaragam suku dan budaya dapat dipersatukan dalam satu keyakinan, menjadi Hindu nusantara yang majemuk,” tuturnya. (Saldi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment