Kami Tidur Di Atas Emas, Berenang Di Atas Minyak, Tapi Bukan Kami Yang Punya. Kami Hanya Menjual Pinang

Bagikan Bagikan
Salmon Naa.(Foto-Istimewa)
Diskusi Grup Whatsapp ENY tentang Kemiskinan di Papua dan Solusinya (15)

MENGAPA Papua bisa menjadi yang termiskin? Dan apa solusinya? Grup WhatsApp (WA) EME NEME YAUWARE (ENY) di Timika membahasnya dalam diskusi khusus yang digagas oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw (mantan Kapolda Papua dan Sumatera Utara) dan Admin Grup ENY, M. Adri Rumbou, S.Sos, M.Si  sejak Minggu, 20 Januari 2018.

Dengan merujuk pada tulisan Redaksional SKH Salam Papua edisi Senin 30 Juli 2018 dengan judul “Provinsi Papua Juara 1 Termiskin Se Indonesia,” yang diposting di Grup WA ENY oleh Irjen Pol Paulus Waterpauw pada Minggu (20/1) pukul 18.54 WIT,  diskusi yang mengangkat tema, “Kemiskinan di Papua dan Solusinya” berjalan hangat. Bertindak sebagai Moderator diskusi ini adalah Prof. Dr. Hironimus Taime, MBA (Pengamat Ekonomi dan Sosial Indonesia).

Berikut ini sejumlah pendapat, masukan, kritik dan saran solusi yang disampaikan oleh member Grup WA Eme Neme Yauware yang diterbitkan Salam Papua, edisi kelimabelas.

Walau pun diskusi sudah sepakat dan mengarah kepada pembentukan panitia untuk melaksanakan Seminar dengan tema “kemiskinan di Papua dan Solusinya,” namun postingan pendapat, usul dan saran serta solusi berkaitan dengan masalah kemiskinan di Papua masih terus mengalir.

Sebagai moderator diskusi ini, Hironimus Taime memposting ini sebagai salah satu faktor yang ikut memicu kemiskinan di Papua. Eropa yang akhirnya menjadi Uni Eropa dengan merubuhkan Tembok Pembatas Berlin Timur dan Berlin Barat setelah perjalanan sejarah kehidupan memberi pelajaran arti kehidupan. Mereka tampil bersatu membentuk sebuah kekuatan sampai punya Mata Uang sendiri Uero tidak lain sejarahnya dari adanya Borjuis Class dan Gembel Class atau adanya Kaum Kapitalis yang kaya raya memperbudak mereka yang miskin papa. Sejarah Revolusi Industri mereka mulai dengan sebuah kesadaran bersama yang akhirnya dikenal luas dengan sebutan Koperasi.
Hironimus Taime.(Foto-Istimewa)

Di Indonesia, koperasi dikenal sebagai soko guru atau tulang punggung ekonomi masyarakat menjadi penentu maju mundurnya ekonomi masyarakat di pedesaan atau kampung kampung. Apalagi Koperasi di Indonesia mendapat tempat di Konstitusi Negara kita, sehingga ini perlu.kita bicara tuntas dalam alur pikir kita terhadap persoalan Kemiskinan di Papua dan Solusinya.

Saya ingin juga mengarahkan pikiran kita warga group WA ENY bahwa Negara kita Indonesia sampai saat ini memiliki Struktur Ekonomi sebagai berikut : 1. Pemerintah. 2. BUMN/D. 3. Swasta Nasional atau Konglomerat. 4. Masyarakat/Koperasi. Struktur itu berdasarkan besaran Modal yang dihimpun.

Posisi Pemerintah selaku Pengelola Ekonomi Makro menempati urutan teratas karena Pajak, Royalty, Bea Masuk seluruhnya dipungut oleh Pemerintah. Sementara Rakyat atau Koperasi menempati urutan Buntut karena Modalnya berazaskan  kebersamaan. Dan sepanjang status Struktur Ekonomi yang demikian, maka pertumbuhan ekonomi akan tetap tidak banyak memberi manfaat kesejahteraan secara signifikan.

Karena itu dibutuhkan Revolusi Ekonomi terutama Rakyat harus mendapatkan Haknya yang semestinya seperti contoh keluhan Pemilik Tanah Adat 3 (Tiga) Kampung sekitar Tembagapura yaitu Waa, Tsinga dan Arwanop  yang dipublish SKH Salam Papua (SAPA) tentang Posisi Tawar (Bargaining Position) mereka yang lemah akibat tidak adanya keberpihakan pemerintah. Sementara Konstitusi Negara kita mengamanatkan Hak Masyarakat Hukum Adat (MHA) sebagaimana tercantum di dalam UUD 1945 Pasal 18 B Ayat (2), Pasal 20, Paaal 21, Pasal 28 I Ayat (1), Pasal 32 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 33 Ayat (3).

Selain itu telah pula dinyatakan oleh proses Hukum melalui Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK RI) Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat yang menyatakan bahwa Hutan Adat bukan Hutan Negara, yang artinya termasuk areal Konsesi PT. Freeport Indonesia yang seingat saya mulai dari Mille 50 keatas masih dalam Hak Ulayat Tanah Adat milik Masyarakat Tsinga, Waa dan Arwanop yang perlu kita akui (Recoqnized) dan berikan bahagian hak yang semestinya berdasarkan Peraturan Perundangan yang berlaku di Republik Indonesia. Demikian juga Penanaman Modal atau Investasi lain di seluruh Papua maupun di seluruh Indonesia.
Lamberth Nunaki.(Foto-Istimewa)

Lamberth Nunaki menanggapi postingan Hironimus Taime ini. Orang Papua sangat kaya tetapi mereka dibuat supaya miskin. Siapa yg membuat orang Papua miskin? "Sistim.” Sistim yang dibangun di Papua sangat tidak pas dan tidak cocok untuk daerah yang memiliki kebudayaan unik ini. Keunikan budaya di Papua tidak ditemukan di belahan daerah lain di dunia.

Budaya Papua yang unik ini sebenarnya merupakan kekuatan dari sebuah sistim ekonomi yang kuat untuk suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa. Kalau ini dari awalnya diterapkan di Papua, maka yang terjadi adalah Papau yang sekarang bisa menjadi daerah yang memiliki kekuatan ekonominya kuat..

Salam. Ini suara hati. Semoga menjadi bahan renungan kita. Papua hanya dijadikan KEBUN. Setelah PANEN bawa hasil kebun ke KAMPUNG masing-masing.

Salmon Naa yang juga karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) menanggapi dengan memposting lirik lagu “Suara Kemiskinan” ciptaan Frangki Sahilatua yang dipopulerkan oleh artis nasional kebanggaan Papua, Edo Kondologit. Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami yang punya. Kami hanya menjual pinang.

Tambahan dari Redaksi Salam Papua. Lirik lagu “Suara Kemiskinan” ini selengkapnya berbunyi : Aku adalah Papua, aku adalah makhluk-Mu, akulah Nusa Tenggara, akulah Sulawesi, yang tak pernah berujung semenjak republik ini berdiri…. tanah kami tanah kaya. laut kami laut kaya…. kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami punya, kami hanya menjual buah-buah pinang….. semua anugerah itu…. kami tak mau bersalah anak-anak cucu…. harusnya ada perubahan… harus ada perubahan…. ole sio sio… rambe yamko.. rambe yamko….”

Lirik lagu ini menggambarkan kondisi nyata di Papua sejak bergabung ke NKRI tahun 1969 hingga saat ini. Tanah Papua, tanah yang diberkati Tuhan, sangat kaya akan sumber daya alamnya, tepat diibaratkan ‘penuh dengan susu dan madu’ tapi masyarakatnya hidup dalam kemiskinan, kekurangan gizi dan belenggu hidup lainnya. Hampir tepat seperti peribahasa ‘Bagai tikus mati di lumbung padi.’

Seminar yang akan dilaksanakan, diharapkan dapat mengupas permasalahan kemiskinan di Papua secara komprehensif, dibuka secara transparan, faktor-faktor penyebabnya. Seminar ini harus bisa menjawab pertanyaan, “Mengapa orang Papua bisa miskin di atas tanah  yang kaya, laut yang  kaya,  tidur di atas emas, berenang di atas minyak ini.” Lalu memberikan solusi nyata terhadap penyebab-penyebab dari kemiskinan tersebut. (Yulius Lopo/Bersambung)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment