Uskup Prihatin Peningkatan Kasus HIV-AIDS di Asmat

Bagikan Bagikan
Uskup Keuskupan Agats ,Asmat, Mgr Aloysius Moerwito OFM.(Foto-Antara)

SAPA (TIMIKA) - Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Agats Asmat Mgr Aloysius Moerwito OFM menyatakan prihatin dengan semakin banyaknya warga di wilayah itu yang terinfeksi HIV-AIDS.

Dihubungi Antara dari Timika, Kamis (14/2), Uskup Moerwito mengatakan tanda-tanda dan gejala semakin banyak orang Asmat terinfeksi HIV-AIDS semakin terasa melalui perubahan drastis kondisi fisik penderitanya.

"Memang ini belum diteliti secara maksimal, tapi indikasi ke arah itu semakin menyatakan bahwa penderita HIV-AIDS di daerah kami memang ada dan semakin banyak," katanya.

Uskup yang sudah mengabdi 15-16 tahun di Keuskupan Agats Asmat itu, mengaku beberapa kali berjumpa dengan warga yang memiliki gejala-gejala fisik diduga telah terinfeksi HIV-AIDS.

"Saya menemui seorang bapak, dulunya gagah perkasa tapi sekarang sudah kurus sekali. Jelas ini indikasi sudah tertular HIV-AIDS dan memang hasil pemeriksaan menunjukkan dia positif HIV-AIDS. Isterinya juga mengalami gejala serupa," katanya.

Uskup Moerwito juga menemui seorang pemuda di wilayah Asmat yang juga mengalami gejala fisik sebagaimana dialami oleh pasangan suami isteri yang telah positif terinfeksi HIV-AIDS tersebut.

Sejumlah warga yang dijumpainya itu, katanya, bukan saja warga yang bermukim di Kota Agats, Ibu Kota Kabupaten Asmat, tetapi justru penduduk dari kampung-kampung yang jauh dari Kota Agats, seperti di Distrik Sawaerma.

Mobilitas yang tinggi dari warga-warga di wilayah itu ke Agats, ke Timika, bahkan ke luar Papua dengan sekaligus mengunjungi pusat-pusat lokalisasi pekerja seks komersial untuk melakukan hubungan seks berisiko menjadi faktor utama peningkatan kasus HIV-AIDS di Asmat, satu wilayah terpencil di pesisir selatan Papua.

"Yang menyedihkan, kalau suami sudah terinfeksi HIV-AIDS maka virus itu akan ditularkan kepada isteri bahkan anak-anak yang masih menyusui sehingga bisa memicu kepunahan dalam satu keluarga bahkan dalam satu komunitas. Ini yang sangat memprihatinkan," katanya.

Menyadari kondisi itu, Keuskupan Agats terdorong mulai terlibat bersama-sama dengan pemkab setempat dan organisasi-organisasi kemanusiaan lainnya guna lebih serius menangani persoalan HIV-AIDS di Asmat.

"Sudah ada beberapa orang yang ditunjuk untuk mengorganisir kerja sama dengan pemerintah untuk menangani masalah ini mengingat masalah HIV-AIDS ini merupakan bom waktu yang dapat membawa orang-orang menuju sebuah penderitaan yang panjang," katanya.

Ia menilai Pemkab Asmat di bawah kepemimpinan Bupati Elisa Kambu dan wakilnya, Thomas Safanpo, bekerja cukup keras untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial, termasuk kesehatan yang dialami warganya.

"Bapak Bupati Asmat cepat sekali tanggap terhadap berbagai persoalan kesehatan di wilayahnya. Kemarin ada juga ditemukan kasus demam berdarah dengue di Asmat. Beliau langsung memerintahkan jajaran Dinas Kesehatan untuk melakukan penyemprotan," katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, hingga September 2018 tercatat 2.299 warga Papua meninggal dunia akibat terinfeksi HIV-AIDS, di mana 26 orang di antaranya warga Kabupaten Asmat.

Korban meninggal akibat infeksi HIV-AIDS terbanyak di Kabupaten Jayawijaya, yaitu 416 orang, disusul Kabupaten Nabire 321 orang, Kabupaten Jayapura 312 orang, Kota Jayapura 185 orang, dan Kabupaten Mimika 170 orang. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment