600 Prajurit TNI Kostrad dan Zipur Makassar Dikirim Ke Nduga

Bagikan Bagikan
Komandan Korem 172/Praja Wira Yakti Kolonel Jonathan Binsar Sianipar.(Foto-Evarianus Supar-Antara)

SAPA (TIMIKA) - Komandan Korem 172 /Praja Wira Yakti Kolonel Jonathan Binsar Sianipar menegaskan 600 prajurit TNI dari Batalyon 431 Kostrad Makassar dan Batalyon Zipur 8 Makassar yang sudah berada di Timika sejak Sabtu (9/3), dikirim ke Kabupaten Nduga, Minggu (10/3) untuk melanjutkan pekerjaan jalan dan jembatan Trans Papua.

"Mulai pagi ini kita geser mereka ke titik masing-masing. Ada dua sektor, satu sektor di wilayah Kenyam dan satu lagi di wilayah Mbua. Jadi kita bekerja paralel dari dua sektor itu," kata Kolonel Binsar di Timika, Minggu (10/3).

Danrem 172/PWY Kolonel Jonathan Binsar Sianipar dipercayakan sebagai Komandan Pelaksanaan Operasi Pembangunan Jalan dan Jembatan Proyek Trans Papua.

Danrem menjelaskan prajurit TNI yang dikirim ke Nduga itu berkekuatan dua Satuan Setingkat Yonif (SSY) berjumlah 600 personel, terdiri atas 150 prajurit Batalyon Zipur 8 yang bertugas mengerjakan jalan dan jembatan Trans Papua serta 450 prajurit Batalyon 431 Kostrad yang melakukan pengamanan selama pekerjaan berlangsung.

Prajurit TNI yang didroping ke Kenyam, ibukota Kabupaten Nduga akan melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan dan jembatan dari arah Kenyam menuju Batas Batu dan Mumugu Kabupaten Asmat.

Sektor lainnya di wilayah atas akan melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan dan jembatan dari arah Mbua menuju Paro.

Dua lokasi di ruas jalan Trans Papua itu sebelumnya ditangani oleh PT Brantas Abipraya dan PT Istaka Karya, namun terhenti sejak awal Desember 2018 menyusul insiden pembantaian belasan pekerja PT Istaka Karya oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

Para prajurit TNI yang dikirim ke Nduga itu diberi target hingga akhir tahun menyelesaikan pembangunan 30 jembatan di ruas jalan Trans Papua yang belum terselesaikan.

"Kita harapkan paling tidak setengah dari proyek ini bisa selesai sampai akhir tahun. Di 2019 ini paling tidak 70-80 persen dari 30 jembatan yang ditargetkan itu bisa kita selesaikan. Penugasan ini normalnya sekitar sembilan bulan, tapi bisa saja dalam perkembangan bertambah satu sampai dua bulan. Yang jelas, kami menargetkan, proyek ini harus tuntas, apapun ceritanya," tegas Kolonel Binsar.

Danrem mengatakan terus berkoordinasi dengan Markas Besar TNI di Jakarta serta Kementerian PU-PR untuk menambah personel pasukan Zipur yang akan terlibat dalam pembangunan jalan dan jembatan Trans Papua agar progres pembangunan lebih cepat.

Menurut Danrem, pasukan yang dikirim ke Nduga untuk melanjutkan pembangunan jalan dan jembatan Trans Papua tidak terlibat dalam pengejaran KKSB pimpinan Egianus Kogoya selaku pihak yang dinilai paling bertanggung jawab dalam serangkaian aksi kekerasan bersenjata di Nduga selama ini.

"Mereka ini khusus untuk bangun jalan dan jembatan. Yang melakukan pengejaran KKSB ada satuan lain yang sudah ada saat ini di wilayah pegunungan," ujar Danrem.

Sebanyak 600 prajurit TNI dari Batalyon 431 Kostrad Makassar dan Batalyon Zipur 8 Makassar, Sabtu (9/3) pagi tiba di Pelabuhan Portsite Amamapare, Timika, Papua menggunakan KRI Dr Soeharso, kapal rumah sakit milik TNI-AL.

Sementara itu, saat memimpin barisan pada saat 600 prajurit TNI  tiba di pelabuhan Amamapare,  Danrem  meminta pasukannya untuk selalu siap melaksanakan tugasnya dengan baik, yang mana tugas tersebut merupakan pengabdian seorang prajurit TNI kepada Negara.

Danrem Binsar menyebut situasi dan kondisi yang ada Nduga sekitar 70 persen dikuasai TNI, namun tetap mengingatkan kepada pasukannya untuk tetap waspadah karena kedatangan pasukan TNI tentunya sudah diketahui KKSB dan KKSB akan kerahkan kekuatannya untuk menghadang.

“Saya harap semua prajurit yang ada dalam pelaksanaan misi operasi di sana, dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan prosedur kemiliteran yang baik, yang siap menjalankan tugas karena dalam misi akan ada saja gangguan-gangguan dan dinamika lainnya dimana cuaca, dan juga medan yang luas,” kata Danrem.

“Kalian adalah prajurit yang terbaiklah yang dikirim ke Papua untuk melaksanakan misi operasi dan juga pembagunan jalan dan jembatan trans Papua,” kata Danrem menambahkan.

Sementara Kapendam 17/Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi  mengatakan pasukan satgas  yang  ditugaskan untuk mengerjakan proyek lanjutan jalan dan jembatan Trans Papua karena situasi  dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan oleh masyarakat sipil.

"Selain untuk mengerjakan proyek tersebut ,juga untuk menjaga keamanan  yang ada di wilayah Nduga. Setelah keadaan normal maka akan dikerjakan kembali  oleh PT Istaka Karya, tapi akan terus  dilakukan pengamanan oleh TNI," kata Kependam. (Antara/Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment