70 Orang Meninggal Dunia Akibat Banjir Bandang di Sentani

Bagikan Bagikan
Anggota TNI sedang membantu menangani para korban banjir bandang di Sentani.(Foto-Istimewa)
SAPA (JAYAPURA) - Polisi menyatakan jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di Sentani, Jayapura, menjadi 70 orang. Dari total korban jiwa, 22 di antaranya sudah teridentifikasi.

"Korban meninggal dunia 70 orang, korban luka-luka 43 orang," ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal di Jayapura, Minggu (17/3).

Dijelaskan, sebanyak 15 jenazah sudah diserahkan polisi ke pihak keluarga. Untuk jasad lainnya, polisi masih melakukan identifikasi.

"Sebanyak 15 Jenazah telah diserahkan kepada keluarga korban, sedangkan 2 jenazah belum diserahkan menunggu keluarga korban," katanya.

Sedangkan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jayapura Putu Arga Sujawadi mengatakan 63 orang meninggal di Kabupaten Jayapura dan 7 korban tewas lain di Kota Jayapura.

"Data yang kami terima dari posko utama, korban jiwa meninggal sampai 14.50 WIT sebanyak 63 Jiwa dan ditambah 7 orang di Kota Jayapura. Untuk korban luka ringan 75 orang dan luka berat 30 orang," Kata Putu.

Sedangkan untuk korban luka sebanyak 105 orang. Mereka dirawat di berbagai tempat.

"Ada di Puskesmas Sentani, RSUD Yowari, dan Dian Harapan," ucap Putu.
Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengatakan sebanyak 4.273 orang mengungsi akibat banjir bandang di sejumlah lokasi di Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu.

"Totalnya 4.273 warga yang mengungsi akibat banjir bandang semalam," kata Kombes Pol AM Kamal di Kota Jayapura, Papua, Minggu (17/3) petang.

Ia merinci, pengungsi itu dari kompleks BTN Gajah Mada 1.450 orang, BTN Bintang Timur 600 orang, Doyo Baru 200 orang, Kemiri 200 orang dan di panti jompo 23 orang.

"Dari kompleks HIS Jalan Agus Karetji 300 orang, di Gunung Merah 200 orang, di kompleks SIL 300 orang dan di kediaman bupati 1.000 orang," katanya

Kamal mengatakan pengungsi sebanyak itu tersebar di empat posko yang ada di Kabupaten Jayapura, salah satunya di kompleks perkantoran bupati Jayapura.

"Berbagai bantuan makanan dan minuman juga sedang mengalir dari sejumlah pemangku kepentingan," katanya.

Sementara terkait jumlah korban meninggal, Kamal menegaskan sebanyak 61 orang, 22 di antaranya sudah teridentifikasi.

"Sebanyak 19 jenazah sudah diambil oleh keluarga dan tiga lainnya masih diproses untuk dibersihkan, termasuk diberikan surat keterangan wafat," katanya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta penanganan banjir bandang di Sentani, Papua lebih difokuskan kepada evakuasi korban. Jokowi sudah memerintahkan Kepala BNPB Doni Monardo untuk mengecek langsung penanganan banjir bandang di Sentani.

"Saya sudah perintahkan (Kepala BNPB) secepatnya untuk datang ke lokasi. Beliau langsung ke sana. Dan kita harapkan, yang paling penting penanganan evakuasi secepat-cepatnya. Agar mengurangi korban yang ada," kata Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/3).

Jokowi juga sudah meminta BNPB memperhatikan kondisi daerah lainnya yang terkena banjir bandang. Dia meminta untuk diberi laporan secepatnya terkait kondisi terakhir Sentani serta daerah lain yang terdampak banjir.

"Kemudian saya sudah sampaikan juga agar segera dilaporkan hal-hal yang penting yang bisa kita lakukan karena banjir bandang tidak hanya di Sentani saja. Di provinsi lain juga ada. Kabupaten lain kota lain juga ada," ujar Jokowi.

Jokowi menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban. Dia telah meminta jajarannya untuk melakukan penanganan di hulu untuk mencegah banjir bandang terulang kembali.

"Terakhir saya ingin sampaikan duka cita yang mendalam pada seluruh korban yang meninggal karena banjir bandang itu," sebutnya.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan banjir bandang yang menyebabkan sekitar 64 warga meninggal di Kabupaten Jayapura diduga akibat pembalakan liar yang terjadi di kawasan Pegunungan Cykloop.

"Bahkan, akibat pepohonan sudah ditebang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab menyebabkan berbagai material, seperti bebatuan dan batang kayu serta lumpur, ikut terseret," kata dia di Jayapura, Minggu.

Banjir bandang yang terjadi Sabtu (16/3) malam itu, disebabkan pepohonan di kawasan Cykloop sudah berkurang sehingga saat hujan deras mengguyur kawasan itu dapat menyebabkan banjir.

Dia mengatakan bahwa Gunung Cycloop merupakan kawasan hutan lindung yang seharusnya dijaga kelestariannya dan bukan sebaliknya ditebangi pepohonannya.

Oleh karena hutan lindung yang tidak dijaga kelestariannya, saat curah hujan tinggi menjadi penyebab banjir bandang yang bahkan mengakibatkan jatuhnya korban, termasuk harga benda.

“Ke depan diharapkan tidak lagi terjadi pembalakan karena dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan korban jiwa dan harta benda,” kata Irjen Pol Sormin. (Detikcom/Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment