Banyak Masalah di Mimika, Peran Pemuda yang Independen Dipertanyakan

Bagikan Bagikan
Ketua KAHMI Mimika, Suraya Madubun (kiri) dan Ketua Umum GEMAPI, Habelino Sawaki (kanan). (Foto-Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) - Peran pemuda sebagai garda terdepan dalam peradaban ini khususnya di Kabupaten Mimika, belum terlihat dalam menyikapi masalah-masalah yang ada dan kesemrawutan yang terjadi di tanah Amungsa.

Tokoh perempuan yang juga tokoh pemuda Mimika, Suraya Madubun, menilai pemuda dalam cakupan mahasiswa yang diketahui independen mempunyai peran penting. Namun, kini tidak  lagi mempunyai keinginan dan kepedulian sosial terhadap apa yang sedang terjadi di masyarakat terutama masalah-masalah yang timbul.

"Ini adalah satu hal yang kalau kita lihat sangat miris. Karena pemuda sebagai generasi penerus dan sebagai ujung  tombak bangsa dan daerah ini,  seharusnya sudah memiliki kesadaran (akan) hal itu dan memiliki wawasan itu," kata Suraya Madubun saat ditemui di Hotel Serayu, Jalan Yos Sudarso beberapa waktu lalu.

Suraya Madubun yang juga sebagai Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mimika itu menuturkan, peran tersebut jarang sekali terjadi di Mimika, bahkan hampir tidak kelihatan baik itu peran pemuda yang ada pada perguruan tinggi swasta (PTS) di Mimika. Bahkan juga juga tidak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap permasalahan sosial yang ada di daerah.

"Kita tidak bisa harapkan pemuda yang hanya dengan diri datang dan kuliah lalu pulang. Setidaknya mereka harus  berorganisasi untuk melatih karakter dan juga menambah wawasan dengan terus melakukan diskusi-diskusi.Peluang untuk menggali wawasan itu hanya ada di organisasi," tuturnya.

Padahal, banyak masalah dan kesemrawutan terjadi di Mimika yang seharusnya dikritisi oleh pemuda. Tetapi pemuda hanya bisa diam dan menopang dagu sehingga tidak ada gerakan- gerakan yang terbangun untuk mengkritisi masalah yang ada. Menurut Suraya, sebetulnya hal tersebut merupakan tugas pemuda sebagai kontrol sosial.

"Saya harap kepada pemuda dan semua OKP, Badan Kemahasiswaan di Mimika, punya kepedulian untuk menyikapi masalah yang ada. Sehingga kita dapat bermanfaat tidak hanya bagi pribadi, perguruan tinggi berada, organisasi berada dan juga masyarakat, tapi juga bagi pemerintah," tuturnya.

Hilangnya fungsi kontrol sosial dari pemuda dalam hal ini mahasiswa, menurut dia, dimungkinkan karena kebanyakan mahasiswa di Mimika tidak lagi menjadi mahasiswa yang murni, namun kebanyakan mahasiswa sudah bekerja dan hal tersebut yang menyebabkan kurangnya kontrol sosial yang dimaksud. Karena banyak yang melanjutkan pendidikan bukan untuk mencari pengelaman dan bekerja, namun hanya untuk mendapatkan gelar.

Faktor lain yang membuat hilangnya kontrol sosial dari pemuda yaitu faktor lingkungan atau kampus dimana mahasiswa itu menempuh pendidikan. Menurutnya, bisa saja kampus tidak  memberikan ruang yang bebas kepada mahasiswa sebagai pemuda untuk "berekspresi" yang bersifat positif. Jika kampus atau lingkungan tidak memberikan ruang itu maka secara langsung telah mematikanhak dan membelenggu hak demokrasi pemuda.

Hal seperti itu dianggap berbahaya karena pemuda tidak diberikan ruang untuk mempunyai intelektual yang luas. Hal demikian juga harusnya menjadi perhatian pemerintah, dimana pemerintah dapat memberikan ruang yang besar pula kepada pemuda untuk berekspresi, karena pemerintah pun mempunyai kewajiban besar terhadap kemajuan dan perkembangan pemuda. Dalam hal ini pemerintah harusnya dapat memfasilitasi kegiatan-kegiatan pemudaan dengan mengalokasikan anggaran tersendiri bagi pemuda. 

"Kalau pemerintah saja tidak peduli, dan pemuda dengan keterbatasan yang ada, tidak akan berkembang pesat. Oke lah, pemuda pasti akan bergerak, namun tidak di back up dengan dukungan itu maka pemuda tidak akan berkembang. Karena tidak ada sinergitas antar pemuda dan pemerintahan," ujarnya.

Sementara itu Tokoh Pemuda yang juga Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia (GEMAPI), Habelino Sawaki, mangatakan bahwa sejarah dalam peradaban di buat oleh pemuda. Namun disayangkan banyak pemuda tidak mengetahui nilai strategis dari pemuda itu sendiri, padahal pemuda paling diharapkan untuk menjadi yang progresif. 

Dimana hal tersebut tidak lari dari tanggung jawab pemerintah untuk membangun, mengarahkan dan memperhatikan pemuda, sehingga pemuda dapat belajar dan membantu persoalan yang ada dan siap untuk memimpin peradaban dalam konteks di Kabupaten Mimika.

"Tapi pemuda tidak boleh menunggu dan mengharapkan bantuan itu jatuh dari langit. Yang namanya pemuda itu tidak boleh menanti bantuan dari pemerintah, pihak ekonomi atau bantuan dari luar, dan itulah pemuda yang sejati. Pemuda harus menguatkan dirinya dan bergerak membantu dirinya sendiri dan menjadi solusi bagi orang lain," tegasnya saat ditemui Salam Papua disalah satu café bilangan Jalan Yos Sudarso, Selasa (12/3).

Mimika dengan tingkat masalah sosial yang begitu tinggi, kekerasan dan kriminalitas, disitulah peran pemuda harus ada. Dalam era sekarang banyak pemuda yang tidak lagi mempunyai tanggung jawab sosial untuk membangun dan mengembangkan peradaban ini, karena banyak pemuda yang belum keluar dari zona nyaman dan hanya ingin mabuk- mabukan dan menggunakan obat terlarang pada usia sekolah. Hal tersebut menurutrnya menjadi realita  yang kerap terjadi.

"Pemuda  harus mampu melihat hal itu dan mencari  solusi dan langkah apa yang harus  diambil. Berharap OKP dan kepemudaan yang lain dapat  menjadi mercusuar ditengah  kegelapannya masyarakat Kabupaten Mimika. Pemuda harus  menjadi problem solfer karena  untuk menyikapi masalah yang terjadi  tidak harus pemerintah yang sendiri menyelesaikan, namun pemuda juga muncul untuk mencari dan menawarkan solusi," terangnya. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment