Bencana di Hari Bakti Rimbawan

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

TIDAK banyak orang yang tahu, ada gerakan penanaman pohon yang  dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia dalam momentum peringati Hari Bakti Rimbawan ke 36, yang jatuh pada Sabtu 16 Maret 2019.

Mungkin karena ketidaktahuan tersebut, banyak pemerintah kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Mimika, Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang tidak melakukan penanaman pohon pada hari tersebut. Apalagi jatuh pada hari Sabtu, dimana merupakan hari libur kantor.

Entah kebetulan atau memang sebagai peringatan dari Tuhan karena daerahnya sudah gundul dan tidak melakukan penanaman pohon pada Hari Bakti Rimbawan tersebut, sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura di Provinsi Papua, justru mengalami musibah bencana banjir bandang dan longsor. Salah satu akibat dari penebangan pohon secara liar dan tidak dilakukan penanam kembali atau reboisasi sehingga lahan menjadi gundul dan tidak bisa menahan air saat hujan turun lebat.

Seorang mantan wartawan di Jayapura, Steve Dumbon menyebutkan sudah hampir 30 tahun tinggal di Jayapura, baru kali ini menyaksikan banjir yang begitu dahsyat mengamuk meluluhlantakan Kota Sentani dan sejumlah distrik di Kabupaten Jayapura. Batangan kayu berbagai ukuran, hasil penabangan di pegunungan Cycloop bercampur lumpur menerjang pemukiman, menghancurkan rumah, merusak harta benda dan membunuh warga tak berdosa.

Sejumlah pejabat daerah, termasuk Bupati Jayapura, Kapolda Papua, Kepala BNPB, Kepala BBKSDA Papua, mengatakan banjir bandang ini terjadi karena hutan rimba di pegunungan Cycloop telah dibabat habis untuk dijadikan perkebunan. Berbagai imbauan agar masyarakat tidak menebang hutan di pegunungan ini tidak digubris. Bahkan pembabatan hutan semakin meluas.

Bencana banjir bandang ini bisa dikatakan sebagai alam menangis, karena diperlakukan secara tidak bertanggung jawab. Tanah yang gundul tidak bisa menahan air mata dari tangisan alam, meluap dan menerjang, membunuh warga. Sayangnya yang menjadi korban dari bencana banjir ini, mungkin bukan orang yang telah menggunduli pegunungan Cycloop. Para korban mungkin ‘tidak berdosa’ terhadap alam pegunungan Cycloop. Sementara yang ‘berdosa’ karena membabat hutan, mungkin selamat. Dan mudah-mudahan ikut berduka dan menyesali perbuatannya telah membunuh sesamanya. Dan lebih dari itu, tidak menebang hutan lagi.

Setuju atau tidak, bencana banjir bandang atau longsor di Hari Bakti Rimbawan, sesungguhnya mau menyadarkan umat manusia akan pentingnya hutan atau rimba. Tidak hanya sebagai pohon yang tumbuh, hutan sesungguhnya adalah tempat Tuhan menyediakan berbagai berkat sebagai kebutuhan hidup manusia secara gratis. Hutan juga berfungsi membuat air hujan terserap ke dalam tanah dan airnya bisa sumber hidup bagi manusia. Hutan juga adalah paru-paru dunia.

Karena itu, bencana yang terjadi sesungguhnya mau mengingatkan manusia untuk stop tebang pohon. Mengingatkan manusia untuk semakin banyak menanam pohon, terlebih di lahan yang tandus. Menanam pohon sama dengan merawat alam dan menjaga kehidupan. Sebalinya menebang pohon sama dengan merusak alam dan membunuh kehidupan. (Yulius Lopo) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment