DBD di Mimika Meningkat 10 Kali dan Satu Meninggal Dunia

Bagikan Bagikan
Nyamuk Aedes.(Foto-Liputan6)

SAPA (TIMIKA) – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Mimika terhitung 24 Desember 2018 hingga 2 Maret 2019 meningkat menjadi 76 kasus atau meningkat 10 kali lebih tinggi dibandingkan jumlah kasus di tahun 2018 lalu. Dari jumlah kasus DBD tersebut terdata satu orang meninggal dunia atau 1,35 persen case fatality rate (Cfr).

Hal ini diketahui berdasarkan laporan epidemilogi kejadian DBD di Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika tanggal 6 Maret 2019. Dimana, dalam kurve epidemiologi menunjukkan perbandingan penemuan kasus pada  Pebruari 2019 dua kali lebih banyak dalam periode hari yang sangat dekat dari pada penemuan kasus di Januari 2019.

Dalam laporan Dinkes Mimika menunjukkan kasus DBD dialami pasien paling muda berusia tiga bulan dan paling tua adalah 54 tahun. Sedangkan rata-rata usia yang banyak menderita DBD adalah 26,5 tahun. Artinya, jumlah kasus terdistribusi secara merata pada semua kelompok usia. Meskipun jumlah kasus paling banyak pada kelompok usia kurang dari 59 tahun dibandingkan kelompok usia diatas 50 tahun.

Sedangkan menurut jenis kelamin menunjukkan kasus DBD yang menimpa laki-laki berjumlah 73 kasus atau 23 kali lebih tinggi dibandingkan kasus pada perempuan yang hanya 3 kasus.

Untuk diketahui, awal mula kasus DBD ditemukan pada tanggal 24 Desember 2018 di wilayah Jalan Patimura Kelurahan Inauga, Distrik Mimika Baru. Setelah itu menyebar ke Jalan Busiri dan ke wilayah timur Jalan Pattimura.

Selanjutnya DBD terus menyebar ke wilayah kelurahan dan distrik yang sama hingga tanggal 5 Pebruari dua kasus ditemukan di wilayah dan distrik yang beberda yakni Kelurahan Karang Senang, Distrik Kuala Kencana. Pada tanggal 5 Maret 2019, kasus DBD telah menyebar ke wilayah distrik Tembagapura dan Distrik Wania.

Berdasarkan data jumlah penderita DBD terbanyak terdapat di kelurahan Inauga, Distrik Mimika Baru yaitu sebanyak 23 kasus. Kelurahan Perintis Distrik Mimika Baru sebanyak empat kasus. Koperapoka Distrik Mimika Baru sebanyak lima kasus. Dingo Narama Distrik Mimkia Baru sebanyak dua kasus. Kwamki Distrik Mimkia Baru sebanyak tiga kasus. Timika Jaya Distrik Mimkia Baru sebanyak tiga kasus. Timika Indah Distrik Mimkia Baru sebanyak dua kasus.pasar Sentral Distrik Mimkia Baru sebanyak sembilan kasus.

Kebun Sirih Distrik Mimkia Baru sebanyak satu kasus. Karang Senanga Distrik Kuala Kencana sebanyak satu kasus. Kuala Kencana Distrik Kuala Kencana sebanyak lima kasus. Wonosari Jaya Distrik Wania sebanyak dua kasus. Nawaripi Distrik Wania sebanyak tiga kasus. Kadun Jaya Distrik Wania satu kasus. Kamoro jaya Distrik Wania satu kasus. Tembagapura Distrik Tembagapura sebanyak dua kasus. Sedangkan korban yang merupakan penyebaran dari pulau Jawa terdapat sebanyak enam kasus.

Dengan demikian, jumlah kasus DBD tertinggi berada di Kelurahan Inauga. Namun peningkatan kasus karena pada satu bulan sebelumnya belum ditemukan kasus DBD yaitu Kelurahan Pasa Sentral. Sedangkan penyeberan kasus menurut wilayah distrik terlihat cenderung lebih cepat penyebarannya ke arah Distrik Wania dibandingkan Distrik Kuala Kencana.

Meski demikian dengan adanya data distribusi kasus merata menurut wilayah tentunya memberikan makna bahwa semua wilayah pada tiga distrik di Kota Timika yaitu, Mimika Baru, Kauala Kencana dan Wania memiliki resiko yang sama untuk penyebaran DBD. Sedangkan yang perlu diwaspadai adalah penyebaran kasus pada pada wilayah distrik Mimika Timur yang berbatasan langsung dengan Distrik Wania dan Iwaka yang berbatasan langsung dengan Distrik Mimika Baru dan Distrik Kuala Kencana.

Dengan ditemukannya peningkatan kasus DBD ini, selanjutnya intervensi yang dilakukan Dinkes Mimika ialah melakukan promosi kesehatan melalui media massa yang berfokus pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melibatkan masyarakat.  Melakukan pengasapan pada lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya.  Meiningkatkan keterlibatan Puskesmas dalam rangka sosialisasi dan advokasi pencegahan dan pengendalian DBD. Melakukan sistim kewaspadaan dini dan respon (SKDR) bagi setiap fasilitas kesehatan secara berjenjang.

Dinkes Mimika juga mengajak agar menilai kembali peran lintas sector dalam penanggulangan DBD  serta melakukan evaluasi efisiensi serta efektifitas promosi kesehatan dan program pengasapan yang telah dilakukan di tengah masyarakat. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment