Dinkes Lakukan Screening Suspect TB Kepada Pegawai Pemkab

Bagikan Bagikan
Screening TB di Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Mimika.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, bekerjasama dengan Puskesmas Jile Ale melakukan Screening Suspect tuberculosis (TB) bagi seluruh Pegawai di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Mimika.

dr Novita selaku koordinator dari Puskesmas Jile Ale menjelaskan, Suspect TB sangat perlu dilakukan, mengingat TB merupakan salah satu penyakit yang tidak muda dikendalikan dan penularannya melalui udara. Dimana, jika ada orang yang menderita TBC mengalami batuk, bersin ataupun berbicara, maka kemungkinan besar akan menjangkit atau menular kepada orang di sekitarnya.

Suspect TB ini kami lakukan bersama Dinkes. Hari ini (Kemarin-Red) kami lakukan khusus untuk pegawai lingkup Pemkab untuk tujuan pencegahan,”jelasnya di Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Mimika,Jumat (16/3).

Menurutnya, karena penularan TB melalui pernafasan yang disebabkan oleh kuman yang micro Tubercle bacillus. Gejalanya dimulai dari batuk-batuk dengan jangka lebih dari dua minggu dan tidak mudah sembuh meski telah melakukan pengobatan berulang-ulang. Selanjutnya, jika virus telah kuat, batuk yang diderita juga cendrung memberat hingga menimbulkan batuk berdarah.

Selain batuk-batuk, calon penderita TBC akan mengalami demam tanpa sebab. Muncul keringat ketika malam hari tanpa aktifitas hingga banjir keringat. Kemudian,berat badan akan menurun hingga cendrung kurus secara drastis meski telah mengatur pola makan,nutrisi dan pola tidur.

Ia menjelaskan,dari hasil Suspect TB tersebut,jika telah ada pegawai yang terdeteksi,setiap Pegawai diberikan botol untuk mengisi dahak. Botol yang diberikan memiliki kode khusus. Dimana, yang kode S langsung disi sampel dahak dari terduga TBC untuk kemudian diperiksa ke laboratorium. Sedangkan botol berkode P harus diisi dahak sehari setelah Suspect TB. Dalam artian, sebelum calon pasien mengisi perut dengan sarapan ketika bangun pagi.

“Kalau dari botol S dan P terdeteksi positif,pasiennya kita arahkan ke Puskesmas terdekat sesuai tempat tinggalnya. Kita langsung hubungi fasilitas kesehatan (Faskes) berdasarkan tempat tinggal masing-masing pegawai bahwa pasien di wilayah tersebut atas nama terkait telah terdeteksi menderita TBC. Begitu juga untuk di wilayah kerja kami di SP3, berarti kami yang layani,” jelasnya.

Ia menjelaskan,jika memang positif,setiap faskes langung memulai pengobatan secara rutin selama enam bulan pertama. Selama enam bulan pengobatan pertama, petugas faskes juga rutin mengontrol untuk melihat keberhasilan trapinya. Control yang dimaksud untuk mengetahui naik dan turunnya berat badan, nafsu makan, tingkat bertambah dan berkurangnya batuk. Selanjutnya melakukan pemeriksaan lender atau dahak untuk mengetahui tingkat positif. Misalnya, dari positif tiga berkurang ke positif satu ataupun sebaliknya.

“Setelah enam bulan itu tetap kita lakukan pemeriksaan lender untuk mengetahui apakah pengobatannya benar-benar berhasil atau tidak,”jelasnya.(Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment