Hindari Konflik, Jenazah Korban Pembunuhan di Kwamki Narama Dimakamkan

Bagikan Bagikan
Korban pembunuhan saat disemayamkan di kamar jenazah RSUD Mimika. (Foto-Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) – Guna menghindari terjadinya konflik perang adat di Kwamki Narama, pihak kepolisian berupaya berkoordinasi dengan para tokoh dan pihak keluarga korban pembunuhan agar jenazah dimakamkan selayaknya, tidak dengan cara dibakar sesuai kebiasaan masyarakat pegunungan tengah Papua. Pasalnya jika jenazah dibakar dikuatirkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.

Sebelumnya pada Rabu (6/3) terjadi pembunuhan di Kwamki Narama yang dilakukan oknum warga berinisial JM terhadap korban Karamanus Alom. Berawal ketika JM dalam kondisi mabuk dan membuat keributan, kemudian ditegur oleh korban Karamanus Alom.

Karena tidak terima ditegur, JM kemudian menggunakan sebilah pisau yang dibawanya lalu menikam korban pada bagian perut, setelah itu pelaku melarikan diri.

Setelah kejadian itu, pihak keluarga mengevakuasi korban menuju RSUD Mimika untuk mendapatkan penangan medis. Namun sayangnya nyawa korban tidak dapat tertolong karena kehabisan darah, korban akhirnya meninggal dunia.

“Korban langsung dievakuasi oleh keluarga korban dengan menggunakan mobil Avanza menuju ke rumah sakit umum daerah (RSUD) untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayanganya korban tidak dapat tertolong karena kehabisan darah dan MD (Meninggal dunia),” kata Wakapolsek Mimika Baru, Iptu Rannu, Kamis (7/3).

Pihak keluarga karena tidak terima kemudian mencari pelaku pembunuhan untuk melakukan pembalasan. Mereka lalu membunuh Wengkinus Mom yang merupakan rekan JM dengan menggunakan parang, menyebabkan leher korban nyaris putus. Pembunuhan terhadap korban Wengkinus Mom tersebut diduga dilakukan oleh pelaku yang berinisial NA.

“Kita akan proses secara hukum. Sementara pelaku JM dan NA sedang kita cari, dan dalami apakah ada pelaku lain atau tidak,” ujar Iptu Rannu.

Kedua jenazah korban yang disemayamkan di kamar jenazah RSUD Mimika sempat diminta oleh pihak keluarga untuk dibawa pulang kerumah duka untuk selanjutnya melakukan proses adat pembakaran jenasah. Namun, kepolisian bertindak cepat melakukan koordinasi dengan para tokoh dan pihak keluarga dari kedua korban, dan meminta agar jenazah kedua tidak dibakar melainkan dimakamkan secara layak di TPU.

“Kasus pembunuhan yang mengakibatkan dua orang MD (Meninggal dunia) tersebut adalah murni kasus kriminal, bukan perang sehingga harus dibakar,” ujarnya.

Pelaku yang kini dalam pengejaran polisi terancam pasal 135 KUHP ayat 3 tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 7 tahun. Namun, jika dari hasil identifikasi maupun penyelidikan terdapat keterlibatan pelaku lainnya, akan dikenakan pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 9 tahun.

Selanjutnya, guna mengantisipasi terjadinya kasus yang sama, personel kepolisian kini disiagakan di dua lokasi kejadian di Kwamki Narama. Dimana penempatan personel tersebut akan berlanjut hingga pada proses pemilihan umum (Pemilu) 17 April mendatang. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment