Memasuki Masa Prapaskah, Umat Katolik Menerima Abu Tanda Pertobatan

Bagikan Bagikan
Umat Katolik menerima Abu tanda pertobatan.(Foto-Maria Welerubun)
Paus Fransiskus : Umat Katolik Memperbaharui Diri Menyambut Paskah

SAPA (TIMIKA) - Ribuan umat Katolik, Rabu (6/3) mengikuti misa Rabu Abu yang dipimpin oleh Pastor Otovianus Taena,Pr, di Gereja Katedral Tiga Raja Timika. Penerimaan Abu di kening atau pada dahi sebagai tanda pertobatan dan menjadi awal masa Prapaskah.

Dalam kotbahnya Pastor Otovianus mengatakan, “masa Prapaskah adalah masa dimana kita memasuki sebuah ret-ret agung bagi umat Allah, bagi kita semua sebagai anggota Gereja selama 40 hari kedepannya. Ini adalah sebuah masa yang kita nantikan untuk membaharui diri dari saat ke saat supaya kita merayakan Paskah dengan hati yang suci dan murni dihari Paskah nanti,”.

Bapak Suci, Paus Fransiskus pada 26 Februari yang lalu, menuliskan pesan Prapaskah kepada seluruh Gereja umat Katolik dengan sebuah tema “Sebab dengan sangat rindu seluruh  mahkluk menantikan saatnya dimana anak-anak Allah akan dinyatakan”.

Dikatakan, dalam pesan Prapaskah ini  diharapkan kita semua sebagai anggota gereja tidak membiarkan masa ret-ret agung ini, 40 hari ini berlalu begitu saja. Sebaliknya kita harus berusaha untuk hidup sebagai anak Allah yang mengakui dan patuh kepada hukum dan ketetapan Allah, serta kita menghayati dengan saudara disekitar kita. Disamping itu juga Paus berharap juga agar umat Katolik membaharui dirinya masing-masing.

“Dosa telah menuntun manusia sehingga mengganggap dirinya sebagai alat ciptaan untuk melihat dirinya sendiri sebagai seorang penguasa, yang  mutlak dan memanfaatkan ciptaan bukan untuk tujuan yang dikehendaki untuk sang pencipta, melainkan untuk kepentingan diri sendiri,” katanya.

“Kita memang perlu dan harus memperbaharui diri, karena kita semua adalah orang yang berdosa. Kita telah berdosa melawan Tuhan dan sesama entah dengan sadar atau dengan sengaja,” katanya menambahkan.

 Ada tiga hal yang Tuhan pesankan kepada kita yaitu Doa, Derma dan Puasa. Ketiga kata kunci ini menjadi ajarannya yang harus kita jalani selama masa Prapaskah.

Pesan pertama adalah Derma. Dalam berderma kita berusaha untuk melepaskan diri dari kegilaan untuk menimbun segalanya dari diri kita. Derma berarti lakukan karya amal kasih pada sesama yang sangat membutuhkan. Sebab melalui sesama, karena merekalah adalah Kristus yang lain yang kelihatan di mata kita.

Pesan kedua adalah Doa. Doa mengajarkan kita untuk meninggalkan sikap menyembah berhala dan kemandirian ego kita serta mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan dan belas kasihNya.

Pesan ketiga adalah Puasa. Berpuasa adalah belajar untuk mengubah sikap kita terhadap orang lain dan semua ciptaan dengan berpaling dari godaan untuk melahap segalanya demi memuaskan segala kerasukan kita dan kita siap untuk menderita karena kasih yang dapat mengisi kekosongan hati kita.

“Kalau kita beramal, berpuasa dan berdoa dengan baik maka Tuhan akan membalasnya kepada kita, itu janjinya. Kita mengawali masa Prapaskah ini dengan menerima abu yang ditaburkan atau ditandai di dahi kita masing-masing. Aku adalah Tanda Pertobatan. Dalam Kitab Suci menuliskan Abu adalah Tanda pertobatan. Artinya kita ini dari tanah karena itu akan kembali menjadi tanah. Kita menggunakan masa prapaskah ini untuk bertobat dan percaya kepada Injil,”kata Pastor Otovianus. (Maria Welerubun)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment