OKP : Pemerintah Harus Waspadai Paham Radikal Masuk Papua

Bagikan Bagikan
Ketua DPD Gerakan Cinta (Gercin) NKRI Provinsi Papua Alberth Ali Kabiay .(Foto-Antara)

SAPA (JAYAPURA) - Pengurus Organissasi kepemudaan (OKP) di Papua meminta agar pemerintah dan pihak terkait mewaspadai paham radikal masuk ke Papua dan merusak tatanan antarumat beragama yang telah tercipta dan terjalin dengan baik.

Ketua DPD Gerakan Cinta (Gercin) NKRI Provinsi Papua Alberth Ali Kabiay di Kota Jayapura, Senin, menyampaikan hal itu guna menyikapi situasi kekinian di Bumi Cenderawasih.

"Kami dengan tegas menolak paham radikalismen masuk di tanah Papua. Pemerintah harus cepat tanggap jangan didiamkan tumbuh menjadi benih-benih perpecahan," katanya.

Mengenai kasus mantan panglima laskar jihad Indonesia Jafar Umar Thalib dan pengikutnya yang sedang diproses hukum oleh Polda Papua, Ali sapaan akrabnya mengaku mendukung sepenuhnya.

"Jafar Umar Thalib telah membuat resah segenap lapisan warga dan antarumat beragama, maka itu kami mendukung penuh proses hukum yang sedang dilakukan oleh Polda Papua," katanya.

Jafar Umar Thalib dan pengikutnya, kata dia, tidak seharusnya berada di Bumi Papua karena memiliki sepak terjang yang tidak bagus, hanya ingin menebarkan kebencian antarumat beragama di negeri ujung timur Indonesia, sehingga Gubernur Papua Lukas Enembe dan Ketua DPRP Yunus Wonda dan Ketua MRP Timotius Murib harus segera bersikap.

"Jafar dan kelompok pendakwahnya ini harus segera dipulangkan ke daerahnya, cekal dia di seluruh tanah Papua karena paham yang diajarkannya bertentangan dengan ideologi Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945," katanya.

Jika tidak segera dilakukan, lanjut Ali, maka bukan tidak mungkin benih-benih perpecahan sejak Jafar Umar Thalib masuk ke Papua pada 2015 akan bertumbuh subur dan sulit untuk dibasmi.
                       
"Masyarakat Papua mencintai keberagaman, kedamaian, kenyamanan dan toleransi antarumat beragama yang sudah mengakar serta terjalin dengan baik. Papua merupakan barometer kebhinekaan di Indonesia," katanya.

"Kami bersaudara dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Tidak ada ajaran agama manapun di dunia ini yang mengajarkan dan menebar kebencian antarsesama umat manusia. Mari kita semua waspadai paham radikalisme yang bisa berujung pada aksi terorisme," katanya lagi.(Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment