Pemkab Asmat Gencar Lakukan Pendampingan Pasca KLB Gizi Buruk

Bagikan Bagikan
Bupati Asmat, Elias Kambu.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) – Bupati Asmat, Elias Kambu mengatakan, hingga saat ini gencar melakukan pendampingan kepada seluruh masyarakat pasca berakhirnya kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk yang terjadi di awal tahun 2018 lalu.

Elisa menjelaskan, pendampingan yang dilakukan tersebut bersamaan dengan pelayanan kesehatan dan sosialisasi tentang arti penting pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan mengingat, KLB yang terjadi merupakan akumulasi dari kepedulian ataupun pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

“Kalau kita melihat kembali, KLB tahun 2018 itu terjadi karena masyarakat itu sendiri terlambat berobat. Intensitas kami sejak kasus itu berakhir adalah gencar melakukan pendampingan ke kampung-kampung supaya masyarakat tahu saat seperti apa mereka harus ke puskesmas atau rumah sakit,” ungkapnya saat ditemui Salam Papua usai menghadiri peresmian dan penyerahan sumur bor air bersih di  Kelurahan Mapurjaya Distrik Mimika Timur, Minggu (10/3).

Ia mengatakan, sebelum adanya KLB gizi buruk, operasional puskesmas keliling (pusling) hanya dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Akan tetapi, setelah terjadinya KLB itu hingga saat ini pelayanan pusling terus ditingkatkan hingga dua kali dalam sebulan.

Selain upaya tersebut menurut dia, pasca kasus tersebut dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) telah menambah utusan tim nusantara sehat serta penempatan dokter spesialis. Selanjutnya, dari Kementerian PU juga gencar melaksanakan pengembangan infrastruktur termasuk upaya pasokan air bersih dari Kementerian ESDM.

“Memang sekarang sudah tidak ada lagi bantuan berupa makanan, obat-obatan dan bantuan lainnya seperti saat terjadinya kasus itu. Tapi kami selaku Pemda di sana tetap memberikan pelayanan rutin. Kita juga punya kebijakan 1000 hari pertama, pemberian makanan sehat untuk ibu hamil dari nol bulan sampai anaknya dilahirkan dan berusia dua tahun,” tuturnya.

Sedangkan ketika ditanya terkait adanya pasien rujukan dari Asmat  dengan dugaan korban gizi buruk yang di rawat di RSUD Mimika, ia menuturkan bahwa hal tersebut belum dipastikan sebagai gizi buruk. Rujuknya pasien tersebut juga bukan dikarenakan kurang memadainya pelayanan di RSUD Asmat.

Menurut dia, RSUD Asmat merupakan rumah sakit dengan tipe D. Dengan demikian  RSUD Mimika dan Merauke merupakan rumah sakit rujukan dari Kabupaten Asmat, dalam hal ini jika di RSUD Asmat tidak lagi mampu memberikan pelayanan maka akan dirujuk ke Mimika ataupun ke Merauke.

“Bukan berarti di RSUD Asmat tidak mampu lagi, tetapi karena RSUD Mimika merupakan rumah sakit rujukan maka sebagian pasien kami dari Asmat dipindahkan ke Mimika. Memang prosedurnya seperti itu. Kalau ada hal-hal yang tidak bisa kami atasi di Asmat maka dirujuk ke Mimika atau Mereuke,” tuturnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment