Umat Katolik Timika Diajak Tanggalkan Budaya Konsumtif

Bagikan Bagikan
Umat Katolik Gereja Paroki Santo Stefanus Sempan Timika menerima abu saat perayaan Hari Rabu Abu.(Foto-Evarianus Supar-Antara)

SAPA (TIMIKA) - Pemuka agama Katolik yang juga Pastor Paroki Santo Stefanus Timika, Maximilianus Dora OFM mengajak umat Katolik di wilayah itu agar menanggalkan budaya konsumtif, namun lebih solider membagikan hartanya kepada sesama yang berkekurangan.

"Memasuki masa Prapaskah ini umat Katolik diajak untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan luhur yaitu melepaskan nafsu dan ambisi-ambisi untuk mengejar dan menumpuk harta duniawi. Sebaliknya harus mendermakan harta yang kita miliki kepada sesama terutama mereka yang miskin dan berkekurangan dan mengalami kesusahan dalam hidup," kata Pastor Maximilianus di Timika, Jumat (8/3).

Pastor Maximilianus mengatakan masa Prapaskah yang merupakan masa puasa bagi umat Kristiani hendaknya menjadi momentum bagi umat Katolik untuk berpuasa dan berpantang serta melakukan perbuatan-perbuatan mulia untuk keselamatan diri pribadi maupun sesama umat manusia.

Ia menekankan agar umat Katolik setempat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti mabuk-mabukan, pesta pora, nafsu untuk membunuh dan membantai sesama, nafsu untuk memperkosa, nafsu untuk berselingkuh ataupun nafsu untuk merebut posisi tertentu dengan cara menjatuhkan orang lain.

Sementara itu Pastor Oktovianus Paena Pr mengatakan terkait masa Prapaskah, Yesus Kristus mengajarkan para pengikutnya untuk banyak melakukan doa, derma dan berpuasa.

"Berderma yaitu usaha melepaskan diri dari kegilaan untuk menimbun dari segala-galanya bagi diri manusia itu sendiri dan dituntut untuk melakukan karya amal kasih kepada sesama yang sangat membutuhkan," jelasnya.

Selanjutnya melalui puasa, umat Kristiani baik Katolik maupun Protestan belajar untuk berpaling dari godaan untuk melahap segalanya demi memuaskan diri pribadi.

Masa Prapaskah yaitu merupakan masa puasa selama 40 hari sebelum umat Kristiani merayakan Paskah, dimulai dari perayaan Rabu Abu.

Pada perayaan Rabu Abu, umat Katolik menerima abu (abu hasil pembakaran daum palma) yang ditandai berbentuk salib pada dahi sebagai lambang kefanaan manusia itu sendiri yang diciptakan dari debu tanah dan akan kembali menjadi tanah. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment