Warga Sentani Heran Bantuan PT Freeport Sama Dengan Bantuan Petani Miskin dan Pedagang Kecil

Bagikan Bagikan
Aktivitas di tambang Freeport, Papua.(Foto-Istimewa)

SAPA (JAYAPURA) – Sejumlah warga Sentani Kabupaten Jayapura yang menjadi korban bencana banjir bandang pada Sabtu (16/3) lalu merasa heran dengan bantuan yang diberikan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI), yang bentuknya sama dengan yang diberikan pedagang kecil di pasar, nelayan dan petani miskin.

"Kami sangat heran, perusahaan sebesar PT Freeport yang kaya raya itu sampai hari ini masih juga membagikan bantuan yang jenisnya sama dengan bantuan yang diberikan oleh warga Papua yang bermata pencaharian pedagang kecil di pasar, nelayan dan petani miskin. Pedagang di kios-kios kecil dan petani yang tidak terkena banjir memberikan sumbangan mie instan dan air mineral persis sama dengan yang dibagikan PT Freeport, itukan aneh,"  kata Goliat Daud Kogoya, pengungsi dari lereng Cycloop.

Menurut Goliat, apabila petani miskin yang tidak terkena musibah bencana banjir sudah terketuk hatinya memberikan sumbangan mie instan dan air mineral, maka perusahaan tambang emas berkelas internasional seperti PT Freeport tidak perlu lagi memberikan makanan murahan kepada para korban banjir bandang yang sedang menderita. Pengungsi membutuhkan tenda, transportasi dan lainnya.

PT Freeport, kata Goliat, harus mengambil peran lain yang lebih besar lagi, seperti mendatangkan alat berat berupa eskavator dan dozer untuk memperbaiki jalur banjir di berbagai daerah aliran sungai agar banjir tidak meluap lagi sehingga apabila hujan deras turun lagi, masyarakat luput dari luapan banjir yang sangat ganas itu.

Bila perlu, kata dia, PT Freeport menyewa helikopter guna melihat warga di berbagai kampung yang ada di Distrik Depapre dan Ravenirara, atau  menyewa speed boat untuk membantu warga yang ada di pesisir Danau Senatani.

“Banyak orang bilang, PT Freeport itu tidak mau rugi dalam membantu orang yang susah sehingga walaupun rakyat Papua menderita sengsara pun, PT Freeport tetap membagikan mie instan, air mineral, sama seperti yang disumbangkan oleh orang Papua yang setiap hari menjual mie dan telur ayam di kiosnya. Hal ini terjadi karena PT Freeport tidak paham kebutuhan paling penting dan mendesak dari para koirban banjir. PT Freeport hanya ikut-ikutan saja, ketika orang membagikan mie, Freeport juga bagi-bagi mie,” katanya.

Warga korban banjir bandang  lainnya berharap PT Freeport Indonesia bisa memberikan bantuan yang lebih signifikan, bukan saja soal makanan,  tetapi transportasi untuk membantu warga yang terdampak banjir.

Doni Ibo, salah satu warga di kampung Hobong, Kabupaten Jayapura, Kamis (21/3),  menilai apa yang diberikan oleh perusahaan sekelas PT Freeport belum bisa memberikan dampak yang nyata bagi korban banjir bandang, apalagi kini dampaknya mulai kearah Danau Sentani yang ada kampung-kampung di dalamnya.

"Kalau bisa PT Freeport juga melihat kami yang ada hidup di pinggir Danau Sentani. Selain makanan siap saji, kami membutuhkan pelayanan kesehatan dan bantuan lainnya, terutama transportasi," katanya.

Ia menilai PT Freeport telah mengeruk hasil bumi Papua sudah cukup lama, sehingga dana CSR yang ada diperlukan untuk membantu warga yang terdampak banjir, bukan saja dipusatkan di Sentani, tapi juga distrik lain yang membutuhkan bantuan.

"Harapannya PT Freeport bisa melihat kami karena di Hobong juga membutuhkan bantuan, termasuk kampung-kampung yang ada di pesisir Danau Sentani," katanya.

Doni mengaku bantuan makanan siap saji, susu, atau lainnya dari perusahaan penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia itu, belum sampai di warga Kampung Hobong dan sekitarnya.

Sementara itu, salah seorang relawan bencana alam, Florensia Klau Seran menyesalkan tindakan yang dilakukan PT Freeport pada awal terjadinya bencana alam banjir bandang di Kabupaten Jayapura.

“Sepertinya, PT Freeport belum berpengalaman dalam hal menentukan jenis bantuan pada hari pertama pascabencana dan hari kelima usai bencana untuk diberikan kepada para korban. Sangat tidak masuk akal, bencana alam itu terjadi pada Sabtu sampai Minggu(16 -17/3),  pada keesokan harinya, yakni Senin (18/3), Freeport datang ke lokasi banjir membawa mie instan, beras dan telur ayam tanpa membawa kompor minyak dan peralatan dapur darurat untuk memasak bahan makanan tersebut," katanya.

Menurut Florensia hal itu merupakan salah satu bukti bahwa PT Freeport belum mempunyai pengalaman memberikan bantuan kemanusiaan saat bencana.

"Saya cuma dengar ada tim khusus yang jago menangani bencana, tetapi kalau hanya lima orang, saya pesimis, tidak sebanding dengan pendapatan PT Freeport," katanya.

Sebelumnya dua hari lalu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas menegaskan bahwa pihaknya akan terus memberikan bantuan, tidak dalam bentuk uang secara tunai, tapi lebih kepada kebutuhan barang bagi warga yang terdampak banjir bandang.

"Bantuan akan terus kami berikan, tetapi dalam bentuk barang. Yang lainnya tentu akan kami tampung dan pelajari," katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan PT Freeport Jayapura, Sony Worabai yang coba dikonfirmasi lewat pesan singkat media sosial, belum memberikan tanggapan.

Bahkan pesan tersebut, hanya dibaca, tetapi tidak memberikan tanggapan soal harapan masyarakat korban banjir Jayapura kepada PT Freeport Indonesia. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

13 komentar:

  1. Dimana" yg namanya bantuan tidak bisa interfensi sebab yg namanya bantuan itu kembali ke mau memberi dan kami tidak bisa memaksa.apalagi masyarakat yg melihat kalau freeport hanya menyumbang supermi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener banget, ini agak keterlaluan ya menremehkan bantuan dari freeport.. bgmn seandainya freeport tidak memberikan bantuan sama sekali???? harusnya sodara2 di sentani lebih bersyukur dan berdoa semoga bantuan yg datang akan lebih banyak lagi.. jangan malah menghitung2 bantuan yg diberikan

      Delete
  2. Nama Nya Bantuan Tidak perlu di Publikasikan
    Inti nya kasi Dengan Hati dan Doa Semua Itu Yang Utama.
    Siapa Banyak memberi dia Dapat Berkat Juga.

    ReplyDelete
  3. Intinya Bersyukur! Kalau masih di beri Keselamatan dri bencana, dan bantuan itu pasti ada bukan hnya dari PT. FI, tpi msaih bnykk dri tmpt* lain yg memberi bantuan, mencukupi kebutuhan!

    Sdh kena bencana tpi tdk bersyukur jg.

    ReplyDelete
  4. Jangan kita menilai besar atau kecilnya bantuan.. yg penting niat mereka tulus untuk membantu. Khusus untuk warga lereng chiclops yg banyak komentar di koran.. ko stop bcr banyak.. kamulah buang kerok terjadinya banjir bandang.. bikin berkebun dilereng chicloops kaya kamu punya nenek moyang ada tanah sepanggal disitu. Malu sedikit k? Sekarang tuntut bantuan lg. Woiii..

    ReplyDelete
  5. Bukannya bersyukur apapun itu sumbangan yg diberikan. Setidaknya ada bntuan.
    Masa hrus patok kasih alat berat exavator, itu yg pikirkan PemDA setempat lah.

    ReplyDelete
  6. Yang intinya jangan menghakimi yg memberi tetapi mari kita sama2 memberi dgn menerima dgn hati yg iklas maka berkat Tuhan sellu mengalir di tanah ini....mari kita sama2 anak negri jgn saling mengkritik pemberian tetapi mari mmbntu meringankan beban saudara2 kita..SEMOGA DAMAI SELALU DAN BERKAT SELALU MELIMPA DI ATAS TANAH INI..

    ReplyDelete
  7. pendapat di atas tersebut benar jg. kenapa Rakyat Papua yang terkena Musibah hanya Bagi-bagaikan Binggis-binggisan.
    sama seperti kasi makan Hewan..bnar2
    Rasa Lucu in.

    ReplyDelete
  8. Yang namanya bencana itu makanannya yg hrs siap saji. Jgn mengolok2 bntuan yg diberikan krn itu adalah dorongan hati jd diterima jg dgn ikhlas..bentuk apa pun bantuannya hrs diterima dan jgn di olok2..kalau mau yg enak ya mintalah ke pemerintah krn itu urusannya bukan bantuan freeport yg disalahkan...jgn manfaatkan kesempatan utk menyalahkan freeport. Berpikirlah yg profesional sedikit knp..jaga harkat dan martabat org papua bro.

    ReplyDelete
  9. Banyak bersyukur yang tulis artikel ini, bantuan sekecil apapun harus syukuri. 😇

    ReplyDelete
  10. Judul nya kocak skalii.�� Syukuri apa yg diberikan orang/instansi bukan membandingkan bantuan. Masyarakat NDUGA di Wamena juga dalam pengungsian dan Mereka hari-hari makan mie saja.

    ReplyDelete
  11. Wah..berita tidak berbobot dari wartawan siapa itu??
    ������

    ReplyDelete
  12. Hidup sudah susah Di landa oleh musibah tapi masih saja berpikir yang aneh2..
    Ingat sdra2 KU Di sentani.. belajar banyak untuk menyukuri pemberian..Dari mana saja..karena kondisi nya seperti ini.. Freeport peduli terhadap apa sj program pemerintah propinsi Papua..Anda baru bangun tidur jadi tidak tahu persis seperti apa...STOP kasih berita yang tidak berbobot untuk publik.Freeport dari dulu smapi detik ini masih peduli dengan Papua Di segala bidang ..jadi belajar untuk bersyukur Dan Jangan remeh kan pemberian nya..Jangan lihat besar atau kecil nya subangan itu ..karena Freeport memberi subangan nya dengan ikhlas.
    Antara Freeport &sdar/ri Di sentani tdk pernah ada perjanjian untuk jumlah bantuan Sprti yg ramai Di bicarakan itu..SADAR & KOREKSI DIRI..
    Bencana alam yg terjadi Di sentani pada umum nya BUKAN dampak Dari penambangan PT FREEPORT.. jadi sdara/ri harus tahu itu Dan stop mengeluh yang aneh2...
    Kalau perlu bantuan yang lebih tuntut ke pemerintah kab jayapura atau propinsi..bicara itu yang jelas Dan nyata2 saja...coba lihat selain Freeport perusahaan swasta mana yang ada kasih bantuan sperti Freeport.. buka mata Dan hati lihat baik2 smpi Saat ini bantuan dari Freeport masih jalan..Dan bantuan nya Bukan Di kasih per kampung.. cek saja Di posko induk penanggulangan bencana...
    KOREKSI DIRI & STOP BUAT DOSA.JANGAN LAGI MERUSAK ALAM...

    ReplyDelete