Hidup Dalam Ucapan Syukur

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

DALAM relasi dengan sesama, kita lebih mudah mengingat kelemahan daripada kebaikan. Tidak demikian dengan Rasul Paulus, persoalan jemaat di Korintus tidak membuatnya berhenti mengucap syukur. Ia mengingat umat Allah di Korintus serta menaikkan ucapan syukurnya atas mereka (4).


Ada tiga hal yang menjadi dasar ucapan syukur Rasul Paulus. Pertama, jemaat di Korintus telah menerima dan mengalami kasih karunia Allah. Inilah sumber kekayaan mereka (7). Karunia ini akan digunakan sebagai sarana untuk memuliakan dan menyaksikan Allah. Kedua, mereka sudah menjadi saksi Kristus. Ketiga, Allah—yang melimpahkan kasih karunia dan rahmat kepada mereka—adalah setia.

Rasul Paulus menguraikan kekayaan karunia yang ada pada gereja di Korintus. Sebagai jemaat, iman mereka sudah semakin teguh. Mereka juga memberikan kesaksian. Anugerah dan karunia ini hadir lewat perkataan dan pengetahuan (5).

Bagi Rasul Paulus, kebenaran Injil akan menggugah. Ia bukan hanya membangun semangat, tetapi juga menyelaraskan karakter seturut teladan Kristus.

Paulus mengingatkan jemaat tentang keistimewaan yang telah mereka terima dalam iman kepada Kristus. Sebagaimana Allah adalah setia, demikianlah seharusnya jemaat Korintus. Mereka harus terus bertumbuh dalam pengenalan dan iman kepada Kristus.

Pengucapan syukur dalam Kristus harus dimulai dari pemahaman dan kesadaran. Kita harus sadar tentang siapa kita di hadapan Allah. Kita wajib mengenal siapa Tuhan serta Pemimpin kehidupan kita. Tanpa pemahaman ini, maka pelayanan hanya sebatas kesibukan belaka.

Pelayanan seperti itu tidak akan menarik manusia kepada Kristus. Pelayanan dan iman terkait secara erat. Pertumbuhan iman yang benar akan mengarahkan dan menuntun pelayanan untuk memuliakan Kristus. Inilah dasar yang sejati dari hidup yang bersyukur.

Tuhan, tolong kami memahami keberadaan diri kami di hadapan-Mu dan senantiasa bersyukur kepada-Mu. (Santapan Harian)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment