KKB dan Mahasiswa Masih Jadi Ancaman

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

SAMPAI sejauh ini Papua sesungguhnya belum bisa dikatakan betul-betul aman dan damai. Sejatinya Papua berada dalam situasi dan kondisi yang aman tapi tidak aman. Atau sebaliknya, tidak aman tapi aman. Damai tapi tidak damai. Tidak damai tapi damai. Aman dan tidak aman, damai dan tidak damai, ibarat dua sisi pada mata uang. Saling berhubungan satu sama lain.

Walau pun harus jujur diakui, kondisi aman dan damai lebih dominan dirasakan masyarakat. Kondisi tidak aman sesekali muncul tapi bisa saja sangat meresahkan, bahkan bisa diwarnai dengan jatuhnya korban jiwa. Itulah Papua. Konon disebut sebagai Tanah yang diberkati. Bahkan telah dideklarasikan sebagai Zona Damai. Tapi aman dan damai sering terasa masih sangat mahal. Karena itu sikap waspada dan mawas diri masih sangat dibutuhkan. Terlebih bagi aparat keamanan yang bertugas di provinsi ini.

Menjelang Pemilu 17 April 2019, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan, saat ini kelompok kriminal bersenjata (KKB) masih menjadi ancaman baik bagi anggota Polri maupun warga sipil. “Karena itulah anggota yang bertugas dalam pengamanan pemilu diminta selalu waspada,” kata Kapolda Sormin di Jayapura, Senin (15/4).

Walaupun ada KKB yang mengancam, jelas Kapolda secara keseluruhan situasi kamtibmas di wilayah hukum Papua menjelang pemilu, Rabu, 17 April 2019  ini aman.

Dikatakan, keberadaan KKB itu susah dideteksi karena suka berpindah-pindah. Karena itu masyarakat dan anggota keamanan diminta waspada dan tidak lengah. Bila lengah maka akan menjadi sasaran empuk.

Ketika ditanya tentang kondisi di Nduga, mantan Kadiv Propam Mabes Polri itu mengaku, hingga kini masih kondusif. Secara keseluruhan situasi kamtibmas di Nduga aman dan terkendali.
  
Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda Swadaya mengatakan KKB sempat mengeluarkan beberapa tembakan namun situasi masih terkendali. "Hal menonjol terakhir adalah di Distrik Keneyam. Kemarin kelompok itu sempat teror dengan mengeluarkan tembakan untuk mengancam masyarakat, namun dipastikan hal itu tidak menghambat pemilu di Kabupaten Nduga. " katanya, Senin (15/4).

Bila di Papua, ancaman masih berasal dari KKB, di luar Papua, di daerah lain di Indonesia, sejumlah oknum mahasiswa asal Papua dan Papua Barat masih sering melakukan aksi yang mencoreng nama Papua. Beberapa bulan lalu misalnya, ada aksi mahasiswa Papua di Kota Surabaya, yang cukup menggemparkan. Memaksa Gubernur Jawa Timur dan Walikota Surabaya ikut turun tangan bersama kepolisian mengatasi aksi tersebut.

Masalah terbaru terjadi pada H-2 menjelang Pemilu 17 April 2019.  Polresta Denpasar, Polda Bali, membubarkan aksi unjuk rasa untuk mengajak masyarakat melakukan golput (tidak memilih) dalam Pemilu 2019 yang dikampanyekan 20 orang pemuda dari aliansi mahasiswa Papua Barat di Lapangan Renon, Denpasar, Bali, Senin (15/4).

Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Ruddi Setiawan mengatakan pihaknya sudah mengingatkan kepada koordinator aksi demo agar tidak melakukan aksi tersebut,  karena sudah masa tenang jelang Pemilu, namun tetap dilakukan sehingga Polresta Denpasar melakukan tindakan tegas. Polisi langsung menyelidiki motif para pendemo ini melakukan aksinya dengan membawa spanduk yang bertuliskan tolak Pilpres 2019 dan berikan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua Barat.

"Masyarakat Bali cinta damai. Aksi ini menunjukkan tidak ingin adanya kedamaian," ujar Ruddi.

Menurut Ruddi,  aksi demo tersebut berifat provokatif mengajak masyarakat untuk tidak datang ke TPS.

"Saya sempat tanya kepada mereka dari mana, mereka hanya mengatakan saya dari Papua dan bukan Indonesia. Sehingga saya melakukan upaya tegas untuk menjaga NKRI ini, agar Indonesia tidak terpecah belah," katanya.

Kepolisian masih melakukan pendalaman atas identitas mereka dan sementara para pendemo ini hanya mengaku dari salah satu universitas negeri di Bali. (Antara/Yulius Lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment