Kompor Listrik, Kenapa Tidak?

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

SIAPA bakal menduga kalau kompor listrik ternyata justru lebih efisien dibandingkan menggunakan kompor berbahan bakar gas seperti yang digunakan selama ini. Setidaknya hal ini disampaikan dari hasil penelitian yang dikembangkan PT PLN (Persero).

Memang sejauh ini penggunaan kompor gas jauh lebih murah, namun patut juga dipertimbangkan harga di dalamnya terdapat komponen subsidi dari pemerintah. Seandainya komponen subsidi ini dilepas maka harganya hampir setara. Bahkan kompor listrik jauh lebih unggul dari segi ramah lingkungan dibandingkan dengan kompor gas.

Sebagai BUMN penyedia program kelistrikan nasional, PLN ke depan akan berupaya memperluas efektivitas penggunaan kompor listrik-induksi, tidak hanya mengalihkan penggunaan sumber-sumber energi yang selama ini disubsidi melalui anggaran pemerintah dalam bentuk Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kepada subsidi sektor-sektor lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, melainkan secara terpadu, menjadikan Indonesia Biru melalui penggunaan energi listrik yang ramah lingkungan.

Patut juga diingat penggunaan kompor listrik akan lebih aman, karena terhindar dari bahaya kebakaran seperti pada penggunaan kompor gas. Penggunaan kompor listrik juga lebih mudah, karena energi listriknya sudah tersedia.

Aman di sini dalam makna secara lebih luas, adalah dari segi energi buang, maka menggunakan energi listrik dalam memasak, sekaligus juga berarti aman, dalam arti, praktis tidak ada gas buang (reduksi) yang akan mengakibatkan polusi. Dengan suhu panas yang merata secara stabil, proses waktu (lamanya memasak) menjadi lebih singkat.

Di sini menggunakan kompor listrik induksi akan lebih efisien. Para pengguna kompor listrik induksi tinggal mencolokkan kabel listrik pada seteker di rumah. Dengan demikian para pengguna kompor listrik induksi tidak perlu menghabiskan waktu memperoleh energi tersebut, karena sudah dihantarkan oleh PLN, dengan harga yang lebih bersaing.

Dari segi mencegah potensi terjadinya kebakaran, dalam kesempatan ini disampaikan juga, bagaimana mengelola penggunaan listrik secara bijaksana. Artinya bijaksana dengan instalasi yang ada di dalam rumah.

Menyinggung kasus-kasus kebakaran akibat korsleting listrik berdasarkan laporan Kepolisian bukan berasal dari instalasi PLN, tetapi instalasi rumah tangga yang dibuat secara ceroboh seperti menumpuk sakelar listrik atau menyambung kabel secara ilegal.

PLN sendiri kerap mendatangi rumah-rumah terutama di kawasan padat penduduk untuk mengingatkan agar tidak melakukan penyambungan kabel secara sembarangan. Masyarakat bisa memanfaatkan jasa kontraktor yang sudah menjadi mitra PLN agar penggunaan kabel dan instalasi sesuai standar keamanan.

Itulah, sebabnya untuk rumah-rumah baru saat memasang instalasi listrik baru, harus memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO), yang menunjukkan instalasi pemasangan listriknya dijamin oleh para konsultan SLO penerbit Lembaga Instansi Teknik (LIT) yang ditunjuk pemerintah, melakukan inspeksi kelaikan operasi atas instalasi listrik yang dipasang pada bangunan pemohon listrik.

Program penggunaan kompor listrik yang dikemas dalam "electrizen cooking competition" ini akan mengarah pada agenda bidang terkait di seluruh Indonesia. Prioritas terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata kuliner.

Dalam mewujudkan program penggunaan kompor listrik, PLN kerap menggabungkan dengan program CSR. Alasannya melalui program CSR agar memudahkan untuk menggandeng pemerintah daerah dalam melakukan sosialisasi ke masyarakat. 

Secara umum, harga jual kompor listrik induksi yang kisarannya berada di antara Rp350 ribu - Rp400 ribu masih terjangkau harganya.  Harapannya ke depan harga kompor listrik induksi ini akan semakin murah. Dengan demikian terjadi penguatan ekonomi, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat itu sendiri, akan tetapi dirasakan sebagai efek berganda dari penghematan APBN. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment