Masalah Sampah Ada Pada Pemerintah dan Masyarakat

Bagikan Bagikan
Tumpukan sampah dipinggir jalan Hasanuddin (Irigasi) tembusan SP 2-SP 5. (Foto-Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) - Kesadaran masyarakat di Kabupaten Mimika untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya dinilai masih sangat minim. Hal itu terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah disembarangan tempat. Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika telah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) terkait dengan penanganan sampah di Mimika, namun aturan itu belum secara serius ditegakkan pemerintah.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mimika, Thadeus Kwalik menilai, kebersihan kota dan lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah saja, harus ada kesadaran masyarakat. Karena, menurut dia, jika lingkungan kotor akan membawa penyakit sehingga dampaknya justru kepada masyarakat yang membuang sampah itu sendiri.

Oleh karena itu, Ia meminta dinas terkait (Dinas Lingkungan Hidup) agar dapat menambah lokasi  pembuangan sampah dan bak sampah sebagai tempat pembuangan sementara. Karena, dalam setiap  tahunnya jumlah penduduk di Mimika semakin bertambah.

"Tolong ketua-ketua RT, kepala kampung dan kepala lurah hingga distrik juga mengawasi itu. Jadi tidak semata itu tanggung jawab oleh DLH, tapi juga dari kita semua," ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Mimika, Jalan Cenderawasih, Senin (15/4).

Ia juga meminta Pemkab Mimika dalam hal ini DLH maupun Dispol PP untuk menegakkan aturan yang ada, sehingga sanksi dari aturan itu dapat memberikan efek jera kepada masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan.

"Masyarakat harus sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah  pada tempatnya, karena daerah kita ini adalah daerah yang curah hujannya sangat tinggi. Jika sampah dibuang sembarangan maka akan menimbulkan musibah baru selain penyakit, yakni banjir," ujarnya.

Sementara itu menanggapi persoalan sampah di Mimika, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Timika, Rahadian Rizky, menilai bahwa masalah sampah di Mimika sudah lama terjadi.

Permasalahan tersebut, kata Rizky, terdapat dua hal yang menjadi persoalan, yakni persoalan manusia dan sampah itu sendiri.

"Untuk menangani masalah tersebut, selama ini yang terjadi, Pemda lebih cenderung kepada sampahnya. Sebanyak apapun sampah yang dibuang hari ini, dan manusia masih liar dalam menciptakan sampah, maka besok akan ada sampah yang lebih banyak lagi. Karena yang ditangani adalah sampahnya, bukan mindset manusianya," terangnya saat ditemui Salam Papua, Senin (15/4).

Menurut dia, jika mindset atau cara berpikir masyarakat belum terbentuk soal kesadaran akan kebersihan lingkungan, tentunya sampah terus terproduksi dan mungkin akan lebih banyak lagi. oleh karena itu menurutnya yang harus diubah terlebih dahulu adalah mindset masyarakat akan kesadaran pentingnya kebersihan lingkungan.

"Kita tidak selamanya harus salahkan pemerintah, karena kita yang memproduksi sampah dan lingkungan adalah bagian dari kita, sehingga ini menjadi tanggungjawab bersama bukan sertamerta tanggungjawab dari pemerintah," ujar Rizky.

Pasalnya, lingkungan dapat mempengaruhi banyak hal yang salah satunya adalah kesehatan bagi masyarakat, dan juga pandangan orang lain tentang bagaimana wajah Kabupaten Mimika yang disebut sebagai dapur Indonesia.

Oleh karena itu, Risky berharap masyarakat Mimika agar dapat memainkan peranannya dalam menjaga kebersihan lingkungan. Apalagi dalam waktu dekat Mimika akan menjadi tuan rumah (Cluster) perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tahun 2020 mendatang. Masyarakat dapat bersinergi bersama pemeritah menjaga kebersihan lingkungan Kabupaten Mimika, sehingga orang lain dapat menilai bahwa Kabupaten Mimika tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, melainkan juga masyarakatnya yang kaya akan pemikiran-pemikiran yang hebat.

Selanjutnya, Rizky menilai dalam hal larangan kepada masyarakat untuk membuang sampah bukan pada tempatnya dan juga waktunya. Terkait hal itu, pemerintah dinilai belum sepenuhnya serius dalam menerapkan aturan tersebut, dimana aturan itu belum diindahkan oleh masyarakat, sehingga masyarakat masih membuang sampah secara sembarangan.

"Tentunya harapan kita kedepan pemeritah lebih tegas dalam menegakkan aturan, sehingga aturan tidak menjadi hal yang harus dilanggar oleh masyarakat, tapi aturan adalah hal yang harus dibuat oleh masyarakat," katanya.

Selain itu, salah satu mahasiswa STIE Jambatan Bulan, Hasmiati, juga mengatakan kalau permasalahan sampah di Mimika bukan menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemkab Mimika sendirian, melainkan juga menjadi PR bagi masyarakat dalam menjaga kebersihan dilingkungan sekitarnya.

Hasmiati mencontohkan hal yang terjadi dilingkungan tempat tinggalnya, yang mana juga terdapat tempat untuk membuang sampah sementara. Dari pengamatannya, banyak masyarakat yang membuang sampah tidak pada waktu yang ditentukan pemerintah sesuai dalam perda. Bahkan, ada masyarakat yang ditegur saat membuang sampah sembarangan justru berbalik melontarkan kata-kata kasar kepada masyarakat yang menegurnya.

"Seharusnya ketua-ketua RT atau yang lainnya dapat mengontrol itu, tapi hingga saat ini saya belum pernah lihat ada kontrol atau pengawasan dari mereka," ujar Hasmiati saat ditemui Salam Papua, Senin (15/4).

Oleh karena itu Ia berharap pemerintah lebih banyak melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang aturan dan dampak dari lingkungan yang tidak sehat, sehingga masyarakat lebih sadar dalam menjaga lingkungan sekitarnya.

Fenomena lain dari hasil pantauan Salam Papua, masih ada saja masyarakat yang membuang sampah bukan pada tempatnya, seperti yang terjadi di Jalan Hasanuddin (Irigasi) tembusan SP 2-SP 5 atau tembusan Caritas. Di wilayah itu, atau disekitaran sebelum jembatan kali Waker (Area bekas galian C), terdapat tumpukan sampah yang berserakan dipinggiran jalan. Adanya tumpukan sampah akibat ketidaksadaran manusia itu seharusnya pemerintah segera mengambil langkah guna mencegah masyarakat membuang sampah pada area tersebut, bukan justru membiarkan hal itu terus-terusan terjadi. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment