Mengatasi Sampah Dengan Bangun PLTSa

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

SAMPAH telah menjadi masalah nasional. Banyak kota-kota besar mengalami darurat sampah, karena timbunan sampahnya terus meningkat dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan gaya hidup. Tempat penimbunan akhir sampah yang ada juga terancam penuh, sedangkan penambahan lahan untuk tempat pemrosesan akhir yang baru semakin sulit diperoleh.

Sementara itu, upaya pengurangan sampah dari sumbernya serta pengelolaan sampah yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan dan pemrosesan akhir, belum mampu menyelesaikan permasalahan sampah yang ada. Untuk itu, diperlukan solusi penanganan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi termal dalam membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

PLTSa Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menjadi cikal bakal untuk kemandirian bangsa dalam mengembangkan PLTSa untuk pengolahan sampah di berbagai daerah di Indonesia.

PLTSa Bantargebang merupakan yang pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi termal yang sudah teruji. Ini membuktikan keberhasilan bangsa yang mampu sendiri membangun teknologi yang berguna untuk kemaslahatan bangsa.

Inovasi teknologi PLTSa dalam pengelolaan sampah khususnya di perkotaan merupakan wujud nyata peran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rangka mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan, yang mencakup upaya mendorong terciptanya kondisi dengan kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pemanfaatan inovasi dan infrastruktur serta keberlanjutan kota dan komunitas.

PLTSa yang dapat mengolah 100 ton sampah per hari itu mampu menghasilkan energi listrik 700 kilowatt per jam, dan infrastruktur ini dapat dibangun di kota-kota atau daerah lain di Indonesia untuk bisa mengelola sampah secara ramah lingkungan.

Proyek percontohan PLTSa dipilih menggunakan teknologi termal dengan tipe insinerasi menggunakan tungku jenis "reciprocating grate". Teknologi tersebut dipilih karena merupakan teknologi yang sudah teruji, banyak dipakai untuk menghasilkan energi dengan memanfaatkan sampah di dunia, ramah lingkungan karena dilengkapi dengan alat pengendali polusi, ekonomis, dan dapat digunakan untuk kondisi sampah di Indonesia, serta mempunyai potensi penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

"Jadi konsep kita itu adalah 'waste to energy', dari sampah bisa hasilkan energi listrik. Sampah yang diolah dalam PLTSa ini adalah sampah dari sumber yang sudah yang sudah tidak termanfaatkan lagi," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam acara peresmian PLTSa Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/3).

Pembangunan proyek percontohan PLTSa itu berlangsung dalam waktu cepat yakni satu tahun, sejak groundbreaking pada 21 Maret 2018 sampai peresmian pada 25 Maret 2019. PLTSa Bantargebang itu diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

PLTSa terdiri dari empat peralatan utama yaitu "bunker" sebagai penampung sampah yang dilengkapi platform, "grab crane" dan ruang bakar sistem reciprocating grate yang dirancang untuk dapat membakar sampah dengan suhu di atas 850 derajat Celcius sehingga pembentukan dioxin dan furan dapat diminimalisir.

Panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air dalam "boiler" (ketel) menjadi uap untuk memutar turbin yang akan menghasilkan tenaga listrik.

Unit PLTSa juga dilengkapi dengan unit Pengendali Pencemaran Udara untuk membersihkan bahan berbahaya yang terbawa dalam gas buang, sehingga gas buang yang keluar memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

Proyek percontohan PLTSa ini juga dilengkapi dengan unit "pre-treatment", untuk memilah sampah tertentu yang tidak diijinkan masuk PLTSa, seperti logam, kaca, batu, limbah bahan berbahaya dan beracun serta sampah-sampah yang berukuran besar.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati menuturkan untuk mewujudkan Indonesia bersih dari sampah pada 2025, maka harus dilakukan percepatan penanganan sampah dari hulu sampai ke hilir termasuk pemanfaatan teknologi dan perubahan perilaku terhadap produksi dan pengelolaan sampah.

PLTSa ini juga bisa untuk daerah-daerah, kota-kota yang kecil yang menghasilkan timbunan sampah yang tidak sebesar Jakarta atau kota-kota metropolitan..

PLTSa dapat menjadi solusi penanganan sampah di daerah yang sangat sulit mencari lahan untuk tempat pemrosesan akhir (TPA) seperti daerah gambut dan pasang surut. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment