Mengenang Silas Natkime : "Kepergianmu Tinggalkan Duka Yang Amat Dalam."

Bagikan Bagikan

Silas Natkime (alm) baju putih dan Richard C. Adkerson (baju biru). ( Foto -Istimewa)
Oleh : Samuel Pakage

MASIH segar dalam ingatan saya, bahwa perjuangan hidupmu yang sangat panjang dan melelahkan dalam rangka mempertahankan jati diri / harga diri / harkat dan martabat sebagai seorang manusia, kini semua tinggal kenangan seketika menghadap SANG KHALIK.

Perjuangan hidupmu yang sangat panjang, penuh dengan duri dan kerikil adalah perjuangan yang sangat MULIA selama ini. Apa yang saudaraku perjuangkan dengan gigih adalah melanjutkan jejak orang tuamu Bpk. TUAREK NATKIME, Kepala Suku Besar Amungme Tembagapura, pemilik hak ulayat area penambangan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Kini saudaraku telah pergi bersama segudang kehidupan suka duka, pahit manis, hidup diatas kota emas Tembagapura. Suatu kelak saudaraku akan menjadi saksi hidup, kehidupan  di dua dunia yang berbeda antara surga dan naraka.

Silas Natkime adalah salah satu anak dari Kepala Suku Besar Amungme Tembagapura Bapak TUAREK NATKIME ( alm ). Pemilik gunung Emas, Tembaga, Uranium, Kapur.

Mereka hidup dan menetap di kampung kecil diatas gunung yaitu kampung MULKINDI ( sekarang pusat kota tembagapura milik PT Freeport, mile 68 ).

Pada saat PT Freepot membangun kota Tembagapura, Kepala Suku Amungme Bpk Tuarek Natkime dan saudara saudaranya digusur secara paksa oleh Freeport dengan menggunakan TNI - POLRI agar keluar dari kampung Mulkindi, tanpa ada gangi rugi maupun ada kata sepakat. Saat itu beberapa orang suku Amungme menjadi korban.

Berkenaan dengan memanasnya keadaan di kampung Mulkindi, maka James R Moffet pemilik Freeport Mc MoRan saat itu tiba di Tembagapura dari Amerika. Dalam kerumunan massa, Moffet sampaikan kepada Bpk Tuarek Natkime serta suku Amungme yang lain di kampung Mulkindi  bahwa  :

"Saya datang bawa bibit pohon Apel dari Amerika untuk tanam di tempat ini. Apabil sudah besar dan berbuah, anak anak kita akan petik bersama  sama dan akan menikmati bersama sama pula.".


Bpk Tuarek Natkime serta beberapa marga / klan suku Amungme yang lain digusur secara paksa oleh Freeport dan pindahkan mereka di Kampung Waa (pinggiran Kota Tembagapura).

Kenyataannya apa terjadi...? Sejak Freeport mulai produksi tahun 1973, buah APEL yang sudah dijanji Mr. Moffet bahwa akan dinikmati kita bersama itu tak kunjung tiba,  hingga Bpk Tuarek Natkime mengakhiri hidupnya menghadap Sang Khalik. Tuarek Natkime menghadap Allah dengan sakit yang tak ada obatnya.

Yang menikmati Apel selama ini adalah Amerika dan sekelompok  orang Jakarta.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Bpk Tuarek Natkime, kepala suku besar Amungme Tembagapura berpesan kepada anak anaknya serta saudara saudara yang lain, bahwa :

1. Masalah antara kami dengan Freeport ini, TUHAN YESUS yang akan selesaikan di meja
     pengadilan surga.
 
2. Setelah saya mati, tolong potong potong tubuh saya lalu letakkan di sepanjang jalan
     perusahaan Freeport sampai di Grasberg  (puncak gunung).

Silas Natkime serta suku Amungme yang lain,dilarang masuk sekolah milik Freeport di Kota Tembagapura. Akhirnya rombongan Silas Natkime, Anis Natkime dll, dikirim sekolah di BEOGA (sekarang Kabupaten Puncak Papua). Silas dan kawan kawan masuk SD kelas 1. Mereka dikucilkan dari orang tua dan  kampung halamannya (Kampung Waa).


Beberapa tahun kemudian Silas bersama teman temannya putus sekolah dan kembali ke kampung Waa Tembagapura. Saat itulah SDM anak anak suku Amungme hancur hingga kini. Butuh waktu utk benahi kembali.

Silas Natkime setelah besar mulai bantu bantu bersihkan halaman dll, di salah satu Karyawan PT Freeport.

Beberapa tahun kemudian Silas masuk kerja di Freeport tanpa Ijazah. Modalnya fasih berbahasa Inggris.

Dua puluhan tahun lebih jadi karyawan PT Freeport. Dan baru dua tahun diangkat jadi VIP Freeport, membidangi hubungan masyarakat dan Karyawan Freeport. Beliau meninggal dalam usia telatif muda. Silas meninggalkan seorang isteri dan lima orang anak.

Salah satu anak kepala suku Amungme Tembagapura Bp Tuarek Natkime, yang  baru menyelesaikan pendidikan S2  adalah TITUS NATKIME, SH. MH. Ade Titus Natkime berprofesi sebagai Advokad / Pengacara di Bandung Jawa Barat (adik kandungnya Silas Natkime ).

Silas Natkime adalah salah satu Tokoh dalam kalangan suku Amungme secara keseluruhan di Kabupaten Mimika.

Selamat jalan saudaraku SILAS NATKIME  ke rumah Allah Bapa di surga.

Demikian sekilas cerita singkat mengenai Silas Natkime.

Jayapura, 24 April 2019.

(Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment