Menjaga Kualitas Amal Kebaikan

Bagikan Bagikan
Tajuk SAPA

Barangkali kita pernah mendengar cerita tentang pertemuan Al-Ghazali dengan seekor lalat. Cerita ini tertulis di antaranya dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Alkisah, suatu kali seseorang bermimpi jumpa dengan Imam Al-Ghazali yang saat itu sudah wafat. Dalam mimpi itu orang tersebut bertanya perihal nasibnya pasca meninggalkan dunia ini. Imam
Al-Ghazali kemudian menjawab pertanyaan orang itu dengan sebuah cerita, bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menyebut satu per satu semua prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.

Di luar dugaan, Allah ternyata menolak itu semua amal ibadahnya. Kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat, dan karenanya ia mendapat kemuliaan surga.

Pertemuan dengan lalat yang dimaksud dimulai ketika Imam
Al-Ghazali sedang tengah sibuk menulis kitab. Seekor lalat yang haus ini mengusiknya sejenak lalu hinggap ke wadah tinta. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu. “Masuklah bersama hamba-Ku ke surga,” kata Allah.

Ada pesan yang sangat kuat dalam hikayat Imam Al-Ghazali dan lalat ini. Bahwa ternyata titik tekan dalam ibadah bukanlah pada berapa banyak yang sudah dilakukan melainkan setinggi apa kualitas ibadah yang kita jalankan. Islam menitikberatkan pada kualitas, bukan hanya kuantitas. Tentu saja ibadah dengan kualitas dan kuantitas yang besar sekaligus, akan lebih utama. Lalu bagaimana menjaga kualitas ini?

Pilar pertama yang harus ditegakkan adalah niat. Niat lebih dari sekadar ucapan. Niat adalah kesadaran hati akan arah, tujuan, dan jenis perbuatan yang seseorang lakukan. Ia juga bisa bermakna pondasi dari perencanaan yang bakal dibangun secara bertahap. Dalam Islam, niat menjadi unsur penentu bagi sah tidaknya setiap ibadah yang dikerjakan. Ingin menjalankan ibaah puasa, harus ada niat. Demikian pula shalat, haji, umrah, wudhu, zakat, sedekah. Artinya, seluruh kegiatan itu harus dilakukan secara sengaja dan penuh kesadaran dalam hati.

Banyak sekali amal perbuatan sehari-hari yang bisa bernilai lebih ketika dimulai dengan niat positif. Sebagai contoh, mengenakan baju. Pekerjaan yang sangat lumrah dan biasa dalam keseharian kita ini akan lebih bermutu bila diniatkan. Misalnya, untuk menutup aurat, menjaga kehormatan, melindungi diri dari penyakit, dan lain sejenisnya.

Sebaliknya, banyak pula amal ibadah yang rutin kita jalankan menjadi buruk lantaran keliru dalam niat. Misalnya, shalat jamaah sekadar untuk menghindari cemoohan orang sebagai orang yang tidak saleh. Atau zakat untuk menarik simpati orang banyak, dan seterusnya.

Dalam dua kasus ini, memakai pakaian memiliki pahala atau derajat lebih tinggi daripada ibadah shalat, zakat dan puasa. Inilah yang disebut kualitas ibadah, yang ruhnya terhimpun dalam niat seseorang.

Pilar kedua yang menjiwai amal perbuatan adalah ikhlas. Ikhlas mengandaikan tidak adanya pamrih apapun dalam sebuah perbuatan. Ikhlas bukan berbuat dengan menghitung keuntungan apa yang baka didapat. Dalam kondisi inilah Allah memerintahkan kita dalam beribadah.

Dzun Nun al-Mishri seperti yang dikutip Imam Nawawi dalam kitab
Al-Adzkâr menyebut ada tiga tanda orang yang berlaku ikhlas. Pertama, tak memberi pengaruh apa-apa kepada si pelaku kala perbuatan tersebut dipuji ataupun dicaci. Amal yang dijalankan secara ikhas sejak awal bukan untuk meraih balasan apapun dari manusia, karena itu komentar apa pun dari mereka tak akan berdampak apa-apa.

Kedua, melupakan kebaikan yang telah dilakukan. Tanda ini menempel secara otomatis pada diri si pelaku yang menganggap kebaikan sebagai suatu kelaziman dalam hidup di dunia. Mengingat-ingat atau menghafal kebaikan hanya hanya berlaku bagi orang yang berharap sebuah balasan atau imbalan, seperti penagih utang yang berharap uangnya kembali atau seorang pedagang yang mendambakan keuntungan. Ketiga, kalaupun berharap imbalan, ia berharap balasan baik di akhirat bukan di dunia.

Cerita di awal tadi adalah contoh bagaimana seorang hamba berbuat tulus dengan pondasi niat dan ikhlas yang kuat. Ia sengaja dan dengan kesadaran penuh rela menghentikan aktivitas menulisnya dan membiarkan lalat ‘usil’ itu meminum tintanya karena rasa belas kasihan. Suatu sifat yang juga Allah miliki sebagai Dzat yang Rahmân dan Rahîm.

Sang imam memberi minum lalat juga tak dibarengi dengan harapan akan pamrih apapun. Kebaikan itu spontan saja beliau lakukan tanpa motif atau prediksi keuntungan yang bakal ia peroleh. Dengan cara seperti inilah, perbuatan memberi minum yang tampak remeh, ternyata memiliki kualitas yang luar biasa di hadapan Allah SWT. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment