Petani Kopi Arabika Pyramid Butuh Fasilitas Untuk Pemasaran

Bagikan Bagikan
Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua.(Foto-Koran.pers)

SAPA (WAMENA) - Petani kopi Arabika di Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua membutuhkan fasilitas penunjang seperti kendaraan untuk mengangkut biji kopi yang dipanen dari enam distrik lainnya, untuk dibawa, diolah serta dijual ke pusat kota kabupaten.
Petani Kopi Distrik Pyramid, Torsina Wenda  di Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Jumat,

mengatakan lahan kopi yang dikelola 12 kepala keluarga di Kampung Perabaga adalah delapan hektare dengan masing-masing hektarenya ditanami 1.600 pohon, yang terdiri dari empat jenis kopi berbeda.

Empat jenis tanaman kopi ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama kopi asal-asalan, kopi boks, kopi handi dan natural dengan tingkat harga berbeda, namun yang paling mahal adalah kopi natural.

Ia mengatakan usaha itu masih terus berjalan, hanya saja mereka terkendala kendaraan pengangkut.

Selain itu, petani  juga terkendala biaya pemetikan sebab di saat panen raya, 12 kepala keluarga itu tidak mampu memanen seluruhnya karena keterbatasan tenaga, sehingga dibutuhkan anggaran untuk membayar tambahan tenaga panen.

"Biasa kami panen per minggu. Satu kali panen ada 200-300 kilogram dan kami jual ke kota. Untuk gabah kami jual Rp60 ribu. Kalau biji kopi kering Rp100 ribu khususnya kopi standar. Kalau kopi natural Rp250 ribu per kilogram," katanya.

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengatakan pemerintah akan mengupayakan untuk memberikan bantuan kendaraan bagi Torsina Wenda dan kelompoknya, sebab selain memiliki kebun, mereka juga biasa menampung biji kopi dari enam distrik lainnya.

"Kami juga akan melihat untuk memberikan kendaraan supaya Ibu Torsina bisa menjangkau enam distrik yang masuk wilayah belanjanya. Enam distrik ini ibu Torsina yang beli, ditampung, dijemur, sampai dengan penjualan," katanya.

Pemerintah memberikan apresiasi kepada Torsina Wenda karena membantu petani kopi distrik lain sehingga tidak kesulitan mencari tempat menjual hasil panen mereka.

"Saya harap OPD terkait melihat dahulu kebun kopi yang ada, setelah itu baru buka lahan yang baru. Misalnya yang di Distrik Yalengga, itu lahan kopi cukup besar tetapi tidak dirawat jadi sudah mirip hutan. Ini petaninya harus dibina," katanya. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment