Umat Katolik Sesalkan Pemilu Tahun Ini Bertepatan Dengan Hari Raya Paskah

Bagikan Bagikan
Pastor Maximilanus Dora, OFM.(Foto-Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) - Umat Katolik menyesalkan pelaksanaan Pemihan Umum (Pemilu)  tahun  2019 ini yang diselenggarakan pada Rabu (17/4) bertepatan dengan perayaan Jumat Agung (20/4)  dan Paskah pada Minggu (21/4). 

Pastor Paroki St.  Stefanus Sempan, Maximilanus Dora,  OFM pada Jumat (19/4) merasa kecewa karena Pemilu bertepatan dengan Minggu tenang bagi umat Kristiani, dimana umat Kristiani akan melaksanakan atau merayakan Paskah untuk mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus yang mati di kayu salib. 

"Satu minggu sebelum Paskah merupakan hari dimana umat Kristiani mempersiapkan diri untuk menghadapi Paskah agar dalam menuju Paskah umat dapat menjalankan dengan hati yang penuhi damai.  Tapi disisi lain kita juga dihadapkan dengan Pemilu, " tutur Pastor Maxi saat ditemui di Gereja Sempan, Jalan Busirih Timika, Jumat (19/4). 

Pastor Maxi mengatakan,  adanya Pemilu dapat menggangu konsentrasi umat Kristiani untuk mempersiapkan diri mengadapi perayaan Paskah.

Khususnya di Papua, Pastor Maxi meminta kepada seluruh stakeholder, Gubernur, Bupati dan semua pemangku kepentingan untuk dapat memperhatikan hal tersebut  agar pada lima tahun mendatang pelaksanaan Pemilu diusahakan tidak bertepatan dengan hari raya,  bukan saja hari raya dari umat Kristiani  tapi juga untuk semua hari raya dari agama-agama lain. 

"Kita harap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk kedepan dapat memperhatikan hal seperti ini dan kedepan lebih baik lagi, " Ujarnya

Ia juga memandang Pesta Demokrasi yang ada di Kabupaten sudah berjalan dengan baik dan ia meminta semua masyarakat dan semua pemangku kepentingan dapat menjaga kerukunan dan persaudaraan  sehingga dapat tercapai bonum commune (kebaikan bersama)  dan tidak terjadi adanya pecah belah pada masyarakat.

Dijelaskan, untuk membangun kebaikan bersama, dan tidak adanya pecah belah,   Tokoh-tokoh Agama yang ada dapat membangun itu semua dan diharapkan tidak terpancing dengan adengan Pemilu atau dunia politik. 

"Karena jika kita sudah terjun kedalam dunia politik maka akan ada pemihakan pada satu orang. Saya harapkan parah tokoh agama tidak terjun secara langsung pada politik praktis dan tokoh agama harus bersifat netral. Diharapkan tokoh agama lebih membangun dan  memberikan penguatan iman kepada masyarakat dalam menghadapi era globalisasi yang serba teknologi ini, " ujarnya.

“Jika umat atau masyarakat mengalami krisis kepercayaan pada kepemimpinan maka yang diharapkan adalah tokoh agama, sehingga tokoh agama harus bersifat netral dan tidak masuk dalam politik praktis,” katanya.   (Jefri Manehat)  
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment