Wartawan Mimika Ikuti Pelatihan Jurnalistik Berbasis Perspektif Gender

Bagikan Bagikan
Narasumber dari Unpad Bandung, Dr. Eni Maryani, M.Si saat memberikan materi. (Foto-Saldi)

SAPA (TIMIKA) – Puluhan wartawan dari media cetak, televisi, online se-Kabupaten Mimika serta beberapa akademisi dan mahasiswa mengikuti pelatihan jurnalistik berbasis perspektif gender (Jurnalism training based on gender perspective). Pelatihan ini bertujuan untuk menggugah sensitivitas jurnalis dalam membuat suatu berita terkait isu gender, secara khusus di Papua. Pelatihan ini digelar selama dua hari, Jumat-Sabtu (5-6/4), bertempat di Hotel Horison Ultima Timika, Jalan Hasanuddin.

Dr. Nahria, S.Sos., M.Si selaku project leader Jurnalism Training Based On Gender Perspective Papua Committee dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura, dalam sembutannya mengatakan, kegiatan ini terlaksana atas dukungan penuh dari Kedutaan Besar Amerika (Embassy of the United States of America) di Jakarta, Indonesia. Yang mana sebagai implementasi dari small grants competations yang berhasil dimenangkannya bersama Kedutaan Besar Amerika Jakarta, Indonesia.

Pelatihan yang digelar dengan tujuan menggugah sensitivitas jurnalis terhadap isu-isu gender di Papua yang selama ini dinilai masih sangat rendah, yang mana jika dibandingkan ketika wartawan berhadapan dengan persoalan konflik yang menjadi komoditas seksi dan menonjol untuk diberitakan. Dalam arti, ketika berbicara tentang isu gender di Papua, hanya sedikit atau sebagian kecil saja wartawan yang memiliki perhatian lebih dalam mengangkat isu gender.

"Saat ini menjadi tahun ke dua pelaksanaan jurnalistik training di Papua setelah tahun 2018 lalu dilaksanakan bersama puluhan wartawan di Kota Jayapura. Tahun ini Mimika mendapatkan pilihan sebagai daerah pelaksanaan training ini. Tapi diharapkan agar kegiatan ini akan terus berlanjut untuk di seluruh wilayah Papua dan Papua Barat," kata Nahria.

Memang, menurut dia, persoalan isu gender bukan hanya menjadi sesuatu yang semata-mata dipersalahkan kepada wartawan, tetapi itu kembali kepada kondisi pemahaman masyarakat terhadap gender, dan isu-isunya yang masih kurang. Karena itu, Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, Indonesia hadir untuk mendorong peningkatan pemahaman wartawan tentang arti gender, pemetaan setiap isu gender yang ada di sekitar wilayah tugas atau di Papua secara umum, lalu dituangkan dalam pemberitaan.

"Kami berharap, akhirnya pelatihan ini bisa memberikan keterampilan kepada wartawan untuk menulis berita yang berprespektif gender. Kalau mungkin selama ini dalam penulisan rekan-rekan wartawan masih banyak yang bias gender, maka dengan pelatihan ini kedepannya diharapkan bisa sensitif gender," tuturnya.

Karena dilatarbelakangi oleh hal-hal tersebut sehingga target dari semua peserta adalah sensitivitas gender. Dalam hal ini tidak dibedakan antara wartawan tingkatan muda, madya maupun utama, ataupun asal usul dari media cetak, online maupun televisi. Karena hal ini sangatlah diperlukan oleh semua yang berprofesi sebagai wartawan.

"Sebetulnya bukan hanya jurnalis saja yang jadi peserta, tapi juga mengundang beberapa peserta dari akademisi dan mahasiswa dengan program studi ilmu komunikasi. Dengan harapan ketika nantinya para mahasiswa ini punya keinginan menjadi jurnalis profesional, minimal mereka sudah mendapatkan bekal. Begitu juga diharapkan kepada setiap akademisinya untuk terus memberikan bekal kepada mahasiswanya agar memiliki sesitivitas gender sedini mungkin," jelasnya.

Narasumber atau trainer dalam pelatihan ini merupakan insan yang sangat berpengalaman dalam bidangnya masing-masing. Pada hari pertama diisi oleh narasumber Dr. Eny Mariyani, M.Si yang merupakan akademisi, penggiat gender dan media dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat.

Kegiatan pelatihan ini sebelumnya dibuka oleh Atase Pers Kedutaan Besar Amerika, Rakes Surampudi yang tidak sempat hadir karena sedang mengikuti kegiatan diluar Indonesia, sehingga diwakili oleh Senior Information Specialist, Indar Juniardi. Dilanjutkan pemaparan materi yang dirangkai dengan tanya jawab, namun sebelum itu diawali dengan pre-test terkait pemahaman gender bagi semua peserta.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini terkait kebijakan gender di Indonesia dan implementasinya, pemetaan isu-isu gender, potensi perkembangan industri media di Indonesia, peran media terkait isu gender, representasi perempuan di media, nilai-nilai yang dilekatkan pada perempuan, perwakilan gender dalam konten berita serta contoh-contoh berita bias gender dan tidak sensitif gender.

Kegiatan pelatihan hari pertama dimulai pukul 13.30 hingga 20.30 WIT, dan akan dilanjutkan tanggal 6 April dengan materi pemetaan isu bias gender di media massa, resolusi konflik dan liputan berperspektif gender, menganalisis berita bias gender dan berperspektif gender (praktek/presentasi), post-test, serta akan ditutup dengan penghargaan dan kesan-kesan dari peserta. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment