Injil Menyelamatkan Budaya Mendesain Respons

Bagikan Bagikan

Oleh Pdt Dr. Ebenhaezer I. Nuban Timo *)

“JANGAN kamu melawan orang yang berbuat jahat.” Ini menjadi pokok bahasan utama dari bacaan hari ini Mathius 5 ; 38 - 48.

Apakah perintah Yesus ini sama artinya dengan kita diminta untuk membiarkan kejahatan merajalela? Rasanya tidak begitu. Kata-kata Yesus memiliki beberapa arti.

Pertama, kita tidak boleh memberi hak kepada diri sendiri untuk melakukan pembalasan. Pada saat kita dirugikan atau dilukai karena kejahatan seseorang, janganlah kejahatannya memberikan ijin kepada korban untuk otomatis untuk melakukan pembalasan. Percayakanlah pembalasan kepada pihak yang memiliki otoritas untuk itu, yakni pemerintah (Rom. 1:4-5).

Kita mungkin saja tidak puas dengan solusi ini, misalnya kalau pembalasan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan luka yang kita derita; atau bisa juga karena meminta pemerintah melakukan pembalasan kita mengalami kerugian ekstra karena harus menanggung ongkos. Jadi kita cenderung langsung melakukan pembalasan.

Itu jalan yang murah dan langsung ada terbayar. Tetapi negatif dari solusi ini ialah luka batin yang terjadi di kedua belah pihak bukan hanya akan sulit disembuhkan, tetapi akan menurun ke anak cucu. Berpikirlah dua kali sebelum mengambil keputusan untuk memberi hak pada diri sendiri untuk melakukan pembalasan.

Hal kedua,Yesus meminta para pengikutNya untuk tidak melawan orang yang berbuat jahat karena, kalau pembalasan sudah kita buat, murka Allah kepada pelaku kejahatan tidak lagi berlaku. Pada saat kita membalas sebuah kejahatan maka skor akan menjadi 1;1. Dalam situasi ini bonus yang Allah siapkan bagi kita tidak bisa diambil, juga hukuman yang Allah siapkan untuk si pelaku kejahatan juga gugur.

Tuhan Yesus meminta kita tidak melakukan pembalasan supaya kita tidak merampas hak Allah. Paulus menegaskan hal itu dalam Roma 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Hal ketiga, dengan melarang pengikut-pengikutNya untuk tidak melakukan pembalasan, Tuhan Yesus tidak sedang menyepelehkan kejahatan. Yesus juga tidak sedang merekomendasikan sikap acuh tak acuh, pasrah menerima pukulan dan kejahatan terhadap kita.

Larang ini Tuhan Yesus sampaikan karena Yesus mau mengajarkan para pengikutNya untuk hidup melebihi standar, tidak menjadi serupa dengan dunia, tetapi menjadi serupa dengan sorga, betapa pun masih hidup dalam dunia. Mengapa begitu? Karena anak-anak Allah dipersiapkan untuk surga dan memerintah bersama Allah. Dalam rangka persiapan itulah Matius menulis pasal 5:38-48.

Di sini Matius memperhadapkan kita dengan dua tata cara atau adat istiadat dalam menjalani kehidupan. Yang pertama adalah kehidupan yang dijalani menurut hukum alam atau prinsip hidup kerajaan manusiawi (dunia) yang banyak terdapat dalam budaya dan adat istiadat masyarakat.

Tata cara kedua adalah kehidupan yang dijalani menurut hukum Allah, prinsip hidup kerajaaan Allah yang terkandung dalam Injil. Jelasnya teks Matius 5:38-48 menempatkan kita dalam pilihan untuk hidup apakah menurut adat atau menurut Injil.

Perbedaan orientasi hidup dari kedua tata cara itu terlihat dengan jelas. Hidup menurut hukum adat menjadikan kebahagiaan dan keuntungan ego (akunya pribadi atau kelompok) menjadi kriteria dalam bertindak terhadap sesama.

Sementara itu hidup menurut hukum Allah menampilkan orientasi yang mengejutkan; bukan ego pribadi atau kelompok yang perjuangkan melainkan merelatifkan ego. Hidup menurut hukum adat bersifat melanggengkan pembentukan masyarakat etnosentris dan melestarikan struktur yang lama. Sedangkan hidup menurut hukum Allah menerobos keluar batas-batas etnosentris dan membongkar struktur yang lama untuk membentuk masyarakat yang baru, masyarakat yang membangun perdamaian.

Matius menunjukkan dua modus kehidupan tadi bukan dengan maksud meminta kita menolak adat-istiadat dan ketentuan-ketentuan hidup seperti yang terdapat dalam budaya dan kearifan lokal persekutuan darah dan daerah untuk diganti dengan adat dan hukum yang berasal dari luar masyarakat dan daerah.

Matius menunjukkan dua modus ini untuk mengajar para pengikut Yesus memberlakukan adat-istiadat dan ketentuan-ketentuan hukum alam dengan menjadikan hukum Allah di dalam Injil sebagai kuasa yang membaharui dan mentrasformasi.

Artinya dengan berpijak kepada Injil, para pengikut Kristus diminta untuk melakukan redefenisi dan rekonstruksi adat-istiadat dan kebudayaan. Kalau pada dirinya sendiri adat-istiadat dan budaya bertujuan untuk melestarikan ego kelompok dan menegakkan superioritas daerah, maka dengan menjadikan Injil sebagai pijakan, adat-istiadat dan budaya perlu dipakai untuk membebaskan sesama dan menyaksikan kasih Kristus.

Perubahan orientasi ini perlu sebagai persiapan untuk dua hal. Memerintah bersama Allah dan ambil bagian dalam sukacita sorga. Yang diijinkan ada di sorga sebagaimana disaksikan dalam Wahyu 21:24 peradaban terbaik manusia dan kekayaan-kekayaan terindah milik para raja. “Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya.”

Dalam kehidupan sorgawi adat dan budaya tidak diremehkan, melainkan yang terindah dan termulia yang akan diterima. Para pengikut Kristus yang memang dipersiapkan untuk sorga perlu sejak dini, selama di bumi membiasakan diri mengerjakan transformasi, pembaharuan dan pembebasan adat, budaya dari roh pementingan diri dan pemerasan sesama dan penghancuran peradaban.

Matius menunjukkan 4 ilustrasi dari transformasi dan pembebasan adat dan budaya oleh Injil. Yang pertama adalah memberi pipi kiri kepada orang yang menampar pipi kanan. Menampar pipi kanan seseorang hanya bisa digunakan dengan punggung tangan kanan. Ini memang tindakan penghinaan dan sangat memalukan. Tapi si korban tidak boleh membalas. Dia diharuskan memberikan lagi pipi kirinya untuk ditampar. Untuk menampar pipi kiri si pelaku akan menggunakan telapak tangan kanan. Bagi orang Yahudi menampar pipi kiri artinya si pelaku mengaku sebagai pelaku pelanggaran kemanusiaan. Si korban tidak membalas, karena si pelaku sudah mengakui sendiri kejahatannya, lalu yang akan dia terima adalah pembalasan dari Tuhan.

Ilustrasi kedua adalah memberikan jubah kepada orang yang mengambil baju. Keluaran 22:25-27 mengatur bahwa adalah terlarang mengambil jubah sesama. Siapa mengambil jubah sesama dia dianggap sebagai perampok.

Dari pada melawan saat baju diambil, Yesus meminta para pengikutNya untuk menyerahkan jubah. Itu sama dengan si korban tidak lagi memiliki pakaian alias telanjang. Tindakan ini sama dengan memposisikan si pelaku sebagai perampok. Dia tidak hanya berhadapan dengan hukuman dari pemerintah. Dia juga akan berurusan dengan pembalasan dari Allah karena menelanjangi sesamanya.

Ilustrasi ketiga ialah kerja paksa. Di jaman romawi, para tentara diperolehkan meminta rakyat memikul barang-barang beratnya sejauh satu mil. Kalau itu diberlakukan kepada para pengikutNya, Yesus meminta mereka memikul sampai sejauh dua mil. Artinya mereka perlu hidup melebihi standar, melatih diri dengan nilai-nilai sorga.

Hal ini berlaku juga pada ilustrasi keempat, yakni kalau orang meminta pinjaman, berikan kepadanya tanpa perlu menagih pengembaliannya.

Contoh-contoh yang Matius tunjukkan ini membawa kita pada satu ranah pergumulan iman yang patut digumuli secara serius, yakni memahami hubungan-hubungan yang sepantasnya antara Injil dan adat, antara hukum Allah dan hukum alam, antara Kristus dan kebudayaan.

Pemahaman akan hubungan Injil dan adat adalah perlu karena orang kristen memang tidak bisa lepas dari adat, tetapi juga tidak mungkin hidup tanpa Injil. Hidup hanya berdasarkan adat akan membuat kita menjadi orang yang berjalan di tempat, berputar tanpa arah dan tak mampu menanggapi dan memanfaatkan peluang-peluang baru yang tentulah juga mengandung elemen-elemen keselamatan.

Sementara hidup hanya mengandalkan Injil tanpa peduli dengan ketentuan sosial dan budaya justru menjadikan kita sebagai manusia di awan-awan, orang asing bagi budaya, tidak berakar pada relasi-relasi sosial.

Hidup dari orang-orang yang bersiap diri untuk sorga dan memerintah bersama Allah adalah hidup orang-orang yang dibangun di atas basis adat dan budaya, tetapi sekaligus membaharui dan mentransformasi adat dan budaya itu untuk menyongsong kemanusiaan yang bermartaat. Injil diterima sebagai kekuatan Allah menyelamatkan, sementara adat dan budaya dipakai sebagai yang membentuk suara kita untuk menjawab atau menanggapi keselamatan. *) Dosen UKSW Salatiga
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment