Pengukir Patung Komoro Hampir Punah, Perlu Ada Perhatian Serius dari Pemkab Mimika

Bagikan Bagikan

Ukiran Kamoro

SAPA (TIMIKA) - Kepala Distrik Mimika Timur (Miktim), Marike Warinusi menyebut kearifan lokal di Distrik Mimika Timur sangatlah banyak,  baik itu  seni tari (Sekka),  seni ukir dan seni merajut noken.

Agar kearifan lokal tersebut tidak punah, Marike menuturkan setiap ada kegiatan yang dilakukan oleh Distrik Miktim, pihaknya selalu merangkul semua masyarakat.

"Saya melihat budaya-budaya seni itu sudah hampir hilang,  dimana minat masyarakat untuk mengukir patung, khusus ketertarikan anak-anak muda untuk mengukir patung sudah mulai mengikis. Anak-anak lebih banyak mulai mengikuti perkembangan dan mulai melepaskan budaya sendiri, " ungkap Kadistrik Marike kepada Salam Papua saat ditemui,  Selasa (14/5).

Marike Wiranusi

Banyak patung hasil ukir dari masyarakat lokal (Komoro)  kata Marike,  Distrik tidak mampu untuk menampung karena dana yang sedikit. Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui Dinas Koperasi dapat melihat hal tersebut dapat  menyiapkan galeri bagi ukiran-ukiran patung dari masyarakat lokal.

Sehingga masayarakat ketika mengukir patung,  tidak hanya sebatas meluapkan kreatifitasnya,  tapi bisa menghasilkan uang.

"Selama ini masayarakat pengukir patung,  selesai mengukir hanya dibiarkan begitu saja. Belum ada perhatian serius dari Pemkab.  Selama ini masayarakat berusaha sendiri menjual kepada kenalan mereka, " ujarnya.

Menurut Marike,  jika kearifan lokal tersebut tidak diperhatikan baik,  maka tidak ada generasi penerus yang dapat mengembangkan krearifan lokal tersebut. Dan suatu saat bisa punah.


Sebenarnya,  kata Marike, masayarakat punya kemauan untuk terus berkarya,  tapi banyak masyarakat yang berpikir setelah mereka buat tidak ada tempat yang tepat untuk bisa menampung itu, dan barang itu hanya akan tinggal diam dan rusak begitu saja.

Untuk lebih memajukan kearifan lokal dan terus mendorong masyarakat. Kadistrik Marike menyebut terbentur dengan dana yang kurang.

"Kalau kita ingin mendorong itu,  tidak bisa kita lakukan satu atau dua kali terus habis.  Yang harus kita lakukan adalah bagaimana terus dan terus mendorong,  setidaknya pola pikir masyarakat dapat dirubah agar tidak hanya menjaga kearifan lokal itu,  namun bisa mengembangkan kearifan lokal ini menjadi peluang bagi pendapatan ekonomi masyarakat, " jelas Marike. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment