Pleno Hasil Pemilihan DPD Di Papua Barat Diwarnai Protes

Bagikan Bagikan
Abdullah Manaray  Calon anggota DPD nomor urut 21 dari Dapil Papua Barat memprotes perolehan suara pada pleno rekapitulasi tingkat provinsi.(Foto-Antara)

SAPA (MANOKWARI) - Pleno rekapitulasi suara pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Provinsi Papua Barat, Rabu (15/5), diwarnai protes dari sejumlah calon.

Calon anggota DPD nomor urut 21, Abdullah Manaray mempertanyakan perolehan suara nomor urut 27, Sanusi Rahaningmas yang naik signifikan di Kabupaten Maybrat.

Menurutnya, hasil perolehan suara Sanusi berbeda antara saat penetapan yang dilakukan KPU Maybrat dengan yang tertera pada formulir DB yang dikeluarkan dan dibacakan pada pleno provinsi.

"Pada saat ditetapkan perolehan suara saudara Sanusi sebesar 7.212. Tapi yang tertera dalam formulir DB yang dibacakan di pleno tingkat provinsi 9 ribu lebih," kata dia, di tengah pleno KPU Provinsi Papua Barat, di Manokwari tersebut.

Manaray tidak akan menerima hasil penetapan suara DPD yang dilakukan ditingkat provinsi. Ia berencana memproses kasus ini ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Calon nomor urut 23, Filep Wamafma pun pada kesempatan itu memprotes perolehan suaranya di Maybrat. Ia kehilangan lebih dari 2.000 suara di daerah tersebut.

"Suara saya di Maybrat 3 ribu lebih, tapi yang dibacakan KPU pada pleno ini hanya 667. Yang ribuan suara lainnya lari ke mana," katanya lagi.

Filep pada kesempatan itu, mengaku tidak akan menandatangani hasil pleno suara DPD tingkat provinsi.

"Saya tidak akan mempersoalkan suara yang sudah dibacakan. Tapi saya tidak menandatangani berita acara, saya tidak mengakui ketidakbenaran ini," katanya lagi.

Hal serupa disampaikan calon anggota DPD nomor urut 29, Sofia Maipauw.

Ia menuntut KPU membuka kotak suara pemilihan di Maybrat pada pleno provinsi. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment