Antisipasi Konflik, Jajaran Polres Mimika Diminta Melek Medsos

Bagikan Bagikan

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto menyampaikan arahan kepada anggotanya di Mako Polres Mimika. (Foto-Saldi)
SAPA (TIMIKA) – Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto meminta agar anggota atau jajaran dibawahnya melek dengan perkembangan teknologi digital di era saat ini. Karena itu, media sosial (Medsos) yang merupakan bagian dari perkembangan teknologi digital sangat perlu untuk diketahui untuk membantu tugas kepolisian mengantisipasi indikasi terjadinya gangguan kamtibmas atau konflik.

Kapolres Mimika dalam arahannya kepada anggota di Mako Polres Mimika, Jalan Agimuga-Mile 32, Jumat (14/6), mengatakan, media sosial yang merupakan produk dari perkembangan teknologi digital, kini dapat digunakan menjadi senjata.

Dijelaskan Kapolres, dalam buku yang dibacanya berjudul Digital World War, atau yang artinya perang dunia digital, dengan sub judul Islamists, Extremist and the Fight for Cyber Supremacy, menggambarkan kalau penggunaan media sosial tidak hanya sebagai media atau wadah untuk berkomunikasi jarak jauh. Melainkan media sosial kini dijadikan sebagai satu senjata untuk melakukan penggalangan baik itu merekrut pelaku teror, pelaku untuk membuat anarkis, memobilisasi massa, memprovokasi, menyebar isu hoaks (bohong), dan segala bentuk hal lainnya yang mengarah atau berindikasi menggangu kamtibmas.

“Oleh karenanya, ini menjadi tantangan kita. Kita harus pelan-pelan melek digital, melek teknologi. Jangan kemudian kita pasrah dengan apa yang kita miliki sekarang. Apalagi yang usianya diatas saya, yang sudah senior-senior, yang mungkin kalau buka handphone saja agak kesulitan, yang tahunya, maaf ya, handphone-nya itu hanya cuma bisa untuk menghubungi, tapi tidak bisa untuk, contohnya searching di internet atau mencari artkel-artikel yang menarik untuk membantu pelaksanaan tugas kita,” terang Kapolres.

Hal-hal yang diposting melalui media sosial yang berindikasi menganggu kamtibmas di wilayah hukum Polres Mimika, Kapolres memerintahkan agar para Kapolsek dapat segera melakukan penertiban kepada mereka oknum-oknum yang melakukan hal-hal di atas. Tentunya hal itu juga dapat menjadi perhatian serius agar isu atau informasi yang dimunculkan tidak menyeruak dan merebak di masyarakat, sehingga bisa menimbulkan potensi konflik.

“Ini kita laksanakan kemarin sangat baik, pada saat perselisihan dua komunitas, dua suku yang ada, yang diisukan itu adalah penyerangan antar suku. Tapi kenyataanya tidak, atau bukan. Itu hanya kejadian pidana yang dilakukan oleh perorangan yang kemudian mendapat reaksi dari masyarakat sekitar kemudian ada korban di situ,” ungkap Kapolres.

Hal yang sudah terjadi tentunya menjadi sangat berbahaya. Sehingga, kata Kapolres, Kepolisian perlu dan harus mengambil langkah antisipatif ketika hal-hal seperti itu mulai beredar di media sosial baik Facebook maupun WhatsApp dan media sosial lainnya.

“Ini menjadi sangat berbahaya, dan harus kita lakukan langkah-langkah antisipatif ketika itu ada di media sosial. Jangan cuek, jangan acuh. Temukan sikap kepedulian ketika ada informasi sekecil apapun, terutama di daerah masing-masing. Segera laporkan kepada pimpinan melalui intelijen, kanit intel kepada pak kasat intel, kasat intel laporkan ke saya agar cepat kita lakukan terapi atau kita cari solusinya,” katanya.

Karena, menurut Kapolres, hanya dengan hitungan menit bahkan detik penyerangan di beberapa wilayah bisa saja terjadi, sebagai dampak dari informasi provokasi yang beredar melalui media sosial. Jika hal itu tidak cepat ditangani kepolisian dan terjadi konflik, maka akan menjadi pekerjaan besar bagi Kepolisian sendiri.

“Sebagai contoh beberapa hari yang lalu di SP 2. Itu kita hitungannya sudah terlambat. Tidak boleh ada pemalangan, tidak boleh ada gangguan terhadap pengendara, tidak boleh ada gangguan kepada masyarakat yang ada disekitar situ,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kapolres mengharapkan hal ini dapat diterapkan anggotanya guna mengantisipasi segala bentuk kemungkinan dari gangguan kamtibmas yang dapat mengarah pada terjadinya suatu konflik yang lebih besar. (Saldi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment