Oscar Kobogau, Orang Papua Pertama Yang Menjadi Instuktur Pilot Dalam Usia Sangat Muda

Bagikan Bagikan
Dosen Instruktur Pilot, Oscar Kobogau, ia menjadi instruktur pilot dengan usia  termuda  dan merupakan putera asli Papua. (Foto-Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah , dan hanya mengandalkan kekuatan seorang ibu dengan kehidupan yang pas- pasan,  tidak menghalangi niat Oscar Kobogau untuk menggapai cita- citanya menjadi seorang pilot. 

Oscar lahir di Tembagapura, 30 Oktober 1995. Merupakan anak Papua asli yang berketurunan suku Moni. Saat ini ia bekerja sebagai seorang dosen atau isntruktur pilot di Jakarta dengan penerbangan Bandara Fatmawati Bengkulu, Bandara Budiarto Tangerang, Bandara Cakrabhuwana Cirebon

Oscar lahir dari pasangan, Titus Kobogau (ayah) dan  Elka Selegani (ibu), Ayahnya merupakan mantan karyawan PTFI dimana dirinya masih berumur balita. Oscar memiliki adik perempuan satu- satunya, Osena Kobogau,   

Kedua orang tuanya berpisah saat dirinya masih duduk dibangku  Sekolah Dasar Kelas IV, tepat pada tahun 2015 silam.  Perpisahan tersebut berawal dari konflik antara keluarga. Kejadian tersebut membuat ayah dan ibunya harus berpisah (bercerai).

Pada saat itu ia hanya hidup bertiga bersama ibu dan adik perempuanya. Untuk mencukupi kehidupan dalam rumah tangga, ibunya terpaksa menggantikan peran ayahnya untuk mencari nafkah dengan berkebun dan menjadi kepala rumah tangga sekaligus menjadi ibu bagi Oscar dan adiknya. Berkat  kerja keras dan bantuan Ilahi, ibunya  dapat menafkahi kedua anaknya.  Ibunya terus berusaha untuk kedua anaknya tetap meraih cita-cita dengan bersekolah.

Oscar pun tidak putus asa. Ia terus berusaha untuk tetap melanjutkan sekolahnya hingga pada akhirnya bisa tamat dari bangku sekolah dasar (SD) Inpres SP13.

“Setelah saya tamat, saya sempat terdiam dan bertanya kepada orang tua saya  yakni ibu, bagaimana, apakah saya tetap melanjutkan sekolah atau tidak? Dan ibu tetap ingin anak-anaknya tetap melanjutkan pendidikan walau dengan hidup yang kurang berkecukupan,” cerita Oscar, Senin (10/6).

Setelah melepaskan pakaian merah putihnya (tamat SD), Oscar diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ia masuk SMP Negeri 6. Lokasi sekolah tidak jauh dari rumahnya. Ia sengaja memilih sekolah yang lebih dekat agar ia memiliki waktu bisa membantu ibunya ketika pulang sekolah.

Selama menempuh pendidikan SMP, ia dipermudah oleh kendaraan roda dua, yang sengaja dibeli ibunya untuk digunakan ke kebun. Setelah pulang sekolah dan ketika ada waktu luang ia sempatkan waktu menarik penumpang (ojek) untuk mencari uang fotocopy tugas sekolah.

Seiriing berjalannya waktu, iapun tamat dari bangku SMP dan siap untuk melepas pakian putih biru. Ia  kembali bertanya, apakah ibunya sanggup membiayai dirinya masuk Sekolah Menengah kejuruan (SMK)?

Selain mengharapakan dari ibunya, ia juga  mencoba mencari jalan ke luar dengan mengharapkan adanya bantuan biaya pendidikan dari Lembaga- Lembaga dan juga Pemerintah Daerah (Pemda). Namun hal tersebut tidak membuahkan hasil.

Dengan rasa cinta dan juga pengorbanan kepada anaknya dan ingin melihat anaknya bisa mencapai pendidikan yang tinggi,  ibunya  berupaya untuk terus membiayai anaknya untuk masuk pada sekolah yang menjadi impian dari anaknya yaknin, Sekolah Penerbangan di Timika.

Karena jarak rumahnya dengan sekolah yang begitu jauh , Oscar memutuskan untuk mencari keluarga terdekat untuk tinggal bersama. Oscar kemudian tinggal bersama pamannya (Yeki) yang mana rumahnya dekat dengan Sekolah Penerbangan, sehingga memudahkan dia  pergi ke sekolah hanya dengan berjalan kaki.

Namun untuk lebih berkosentrasi pada dunia pendidikannya, iapun mencari kos- kosan untuk tinggal sendiri dengan catatan ia membayarkan kos tersebut dari jerih payahnya sendiri. Dimana setelah pulang sekolah ia mencari pekerjaan yang halal yang bisa mendatangkan uang dan bisa membayar kos dan biaya makan. Terkadang ia juga meminta bantuan kepada keluarganya yang tinggal di perkotaan. Hal tersebut menjadi motivasi untuk dirinya hidup lebih mandiri dan terus berusaha hingga ia selesai dari bangku SMK.

Cita- cita Oscar ingin menjadi seorang pilot sangatlah kuat. Namun kepercayaan dirinya pudar karena untuk melanjutkan sekolanya dan mengejar cita- citanya sangatlah tidak mungkin. Dengan keadaaan ekonomi ibunya yang pas-pasan, tidak mungkin bisa membiayainya  meraih cita-cita untuk menjadi seorang pilot. Oscarpun sempat putus asa.

Ia mencoba kembali untuk mencari peluang di Lembaga, namun sayangnya tidak membuahkan hasil. Dengan segala cara, ia menunjukkan pada orang lain bahwa ia bisa. Namun nasib berkata lain. Tidak hanya itu, ia terus berusaha dengan mencari informasi tentang adanya beasiswa, agar ia bisa menggapai cita- citanya itu.

Jatuh bangun, gagal coba lagi, itulah kata yang tepat untuk mengibaratkan perjuangan Oscar untuk menjadi seorang pilot. Walau Ekonomi keluarganya terbatas, dukungan dari ibunya terus mengalir. Dan ucapan rasa syukur terus ia panjatkan kepada yang maha kuasa agar usahanya tidak sia- sia.

Jadi doanya akhirnya terjawab. Ia diangkat dan dijadikan anak angkat oleh Pdt Yan R Kobogau. Lalu Pdt Yan selaku orang tua angkatnya sponsori hingga selesai dari Deraya Flying School.

“Saya sangat bersyukur karena Bapak Yan sudah menganggap saya seperti anaknya sendiri. Beliau terus membiayai hingga saya menyelesaikan studi di Sekolah Penerbangan,” ujarnya. 

Ia berhasil lulus tahun 2017 lalu. Setelah itu, ia mencoba mulai terjun pada dunia kerja. Sambil menunggu ia mencoba memasukan lamaran pada maskapai- maskapai. Namun belum ada kesempatan yang pas. Ia terus belajar,   karena katanya, jika ilmu yang ada tidak diterapkan maka ilmu akan mulai memudar dari otak. Karena itu ia memutuskan untuk bekerja. Ia tidak digaji. Namun dengan semangat yang begitu tinggi, membuat ia terus bersabar dan terus berusaha untuk mencoba mencari lowongan pekerjaan. Hingga pada suatu ketika ada lowongan sebagai Dosen Pilot atau Insturktur Pilot. Berkat doa dan usahanya, saat mengikuti seleksi ia dinyatakan lulus menjadi instruktur pilot.

Saat ini ia  sudah menjadi seorang dosen atau isntruktur pilot di Jakarta dengan penerbangan Bandara fatmawati Bengkulu, Bandara Budiarto Tangerang, Bandara Cakrabhuwana Cirebon.

“Saya sangat bersyukur, berkat dukungan dari orang tua, terutama mama dan bapak Yan. Juga Tuhan yang maha kuasa, sehingga apa yang saya cita- citakan bisa tercapai. Saya juga punya keinginan dan yang menjadi kerinduan saya adalah, bisa menerbang maskapai yang lebih besar lagi,": kata Oscar.

Ia berpisah dengan ibunya dan adik perempuannya untuk menggapai impiannya menjadi pilot,  sejak ia tamat SMK. Sudah 5 tahun ia berpisah dengan ibu dan adiknya, hal tersebut menjadi kerinduan terbesar bagi dirinya untuk bertemu dengan keduanya di  Utikini Timika.

Untuk  meredamkan kerinduannya, ia hanya bisa berkomunikasi dengan ibunya melalui telephone. Ia juga punya keinginan untuk terbang bersama ibunya. Untuk menyenangkan ibunya. Saat ini ia juga membantu ibunya membiayai adiknya untuk sekolah. Ia juga berkeinginan membeli rumah untuk ibunya. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

6 komentar:

  1. Luar biasa kisah yang sangat mengispirasi dan saya tauh betul perjalanan kk oscar sedih kadang kalau kami dua duduk dan bercerita biasanya air mata mengalir sendiri ���� entah kenapa tapi itulah perjuangan yang luarbiasa hasilnyapun luar biasa salam hormat kkku jadi kebanggaan buat kami orang papua

    ReplyDelete
  2. Semangat, ayo OAP harus maju, kerja keras jangan mudah menyerah.

    ReplyDelete
  3. karyaknya salah... sebelum itu ada Emmanuel Dumupa. Istruktur di Deraya Flying SChool.

    ReplyDelete
  4. Luar biasa, kisahnya sangat menginspirasi bagi kami yang masih berada di bangku study. GBU kaka oscar

    ReplyDelete