Tim Asistensi Dampingi RSUD Jayapura Raih Akreditasi Paripurna

Bagikan Bagikan
Kepala Seksi Rujukan Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Papua Darwin Rumbiak, S.Kep memberikan sambutan saat pertemuan perdana Tim Asistensi dengan Pokja di Aula RSUD Jayapura,(Foto-Papuabangkit)

SAYA (JAYAPURA) - Dinas Kesehatan Provinsi Papua menginisiasi pembentukan Tim Asistensi Pendamping RSUD Jayapura terdiri dari sebanyak 20 orang yang berasal dari berbagai instansi, antara lain Dinas Kesehatan Provinsi Papua, RS Dian Harapan, RS Marthen Indey, Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan (UP2KP) dan BPD Papua.

Tim tersebut dibentuk untuk mempersiapkan standar pelayanan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura sebagai rumah sakit rujukan nasional harus lulus akreditasi paripurna bintang lima.

Kepala Seksi Rujukan Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Papua Darwin Rumbiak mewakili Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai saat pertemuan perdana Tim Asistensi dengan kelompok kerja RSUD Jayapura (Pokja) di Aula rumah sakit itu, Selasa, mengemukakan tim ini akan melakukan pendampingan akreditasi Paripurna bintang lima bagi Pokja Akreditasi RSUD Jayapura dengan menggunakan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1 tahun 2018.

"Tim yang datang bukan berarti yang paling pintar tetapi pernah punya pengalaman dan sama-sama mau perbaiki RSUD Jayapura untuk kembalikan kejayaan RSUD di masa lalu sebagai salah satu rumah sakit tebaik di Pasifik," katanya.

Menurut Darwin, Tim Asistensi ini akan bekerja dari Agustus hingga Desember 2019. Oleh karena itu, tim akan berkoordinasi dengan para Ketua Kelompok Kerja (Pokja), terutama Pokja yang belum lulus dalam akreditasi sebelumnya.

"Kapan saja konsultasi kami siap 24 jam. Kami juga punya kekurangan, kita ini saling belajar dan menyempurnakan. Saya ingat pesan orang Kemenkes, akreditasi itu mudah dan menyenangkan. Mudah karena dikerjakan tiap hari, menyenangkan karena dikerjakan dengan hati yang ikhlas," kata Darwin yang juga Koordinator Bidang Medis Tim Asistensi Akreditasi RSUD Jayapura ini.

Koordinator Bidang Managemen Tim Asistensi Akreditasi RSUD Jayapura Jhon Turot mengatakan untuk tahap awal, pihaknya ingin mengetahui empat Pokja yang belum lulus akreditasi itu.

Sementara itu, Koordinator Bidang Keperawatan Tim Asistensi Marjin Syam mengaku, bersedia saat diminta masuk tim asistensi karena dirinya sangat peduli dengan kondisi RSUD Jayapura. Oleh karena itu, kata dia, dibutuhkan komitmen seluruh jajaran direksi dan manajemen RSUD Jayapura untuk menyukseskan akreditasi berpedoman pada SNARS Edisi I 2018 ini.

"Saya turun ke sini berhadapan dengan para guru saya, para ibu dan bapak, karena saya di Marthen Indey bisa lulus akreditasi juga saya curi ilmu dari sini, dari rumah sakit ini. Mari kita kerjasama untuk tujuan akreditasi ini," ujarnya. Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Jayapura Financia E. Watungadha dalam sambutannya mengapresiasi Tim Asistensi Pendamping Akreditasi RSUD Jayapura yang mau datang untuk membagi pengalaman dan ilmunya untuk memberi masukan kepada RSUD Jayapura guna menyiapkan diri menghadapi survei dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

"Sebagaimana laporan Ketua Harian Akreditasi RSUD Jayapura, ada empat Pokja yang memiliki kekurangan sehingga tidak lulus. Tetapi Pokja lain (yang lulus) akan membantu. November akan dilakukan survey untuk akreditasi paripurna bintang lima sebagai rumah sakit rujukan nasional. jadi kita harus siap," ujarnya.

Menurut Financia, kunci sukses ada pada kerjasama saling melengkapi dari seluruh Pokja Akreditasi RSUD Jayapura, baik dari tingkat direksi, staf hingga petugas cleaning service dan satpam. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jajaran karyawan dan karyawati RSUD Jayapura untuk berpikir positif, optimis guna melakukan perubahan dalam paradigma pelayanan.

Ketua Harian Akreditasi RSUD Jayapura dr. Ade S. Cahyani mengatakan RSUD Jayapura sudah dua kali melakukan akreditasi yakni pada 2011 dengan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) versi 2007 dan pada 2017 dengan SNARS versi 2012.

"Pada 2011 kita mulai dan kita lulus dengan enam pelayanan dengan versi 2007. Kemudian, 2017 kita mulai dengan versi SNARS 2012. Dari hasil survey selama 11-14 Desember 2017, dari 15 Pokja, kita lulus di 11 Pokja. Pada akreditasi, empat Pokja yang tidak lolos ialah Pokja Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), akses ke rumah sakit dan kontinuitas pelayanan (ARK), Manajemen Komunikasi dan Edukasi (MKE), dan Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM) terkait belum adanya SIMRS," ujarnya. (Antara)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment