Uskup Jhon Philip Saklil Telah Pergi Menghadap Bapa di Surga, Tapi Ia Telah Menciptakan Kehidupan Bagi Banyak Orang

Bagikan Bagikan
Pemberkatan Jenazah Uskup Timika,  Mgr. Jhon Philip Saklil, Pr pada perayaan misa pemakaman (Foto: SAPA/Jefri Manehat) 

SAPA (TIMIKA) -   Uskup Timika,  Mgr. Jhon Philip Saklil, Pr telah meninggal dan menghadap Bapa dalam kerajaan surga namun sebelum ia pergi, ia telah menciptakan kehidupan bagi banyak orang.

Uskup  Asmat Mgr.  Aloisius Murwito, OFM, mengatakan hal itu saat menyampaikan kesannya dalam misa pemakaman yang mulia Uskup Keuskupan Timika Mgr. Yhon Philip Saklil,  Pr,  pada Rabu (7/8) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika. 

Misa yang diawali dengan pembacaan riwayat hidup Uskup Timika,  Mgr. Yohanes Pelipus Saklil,  Pr itu dipimpin oleh  Uskup Jakarta yang juga Ketua KWI,  Mgr. Ignasius Suharyo, Sj.  

"Tahun 1976, saya menjalani pastoral di Kokonao, saya hidup bersama keluarga Bapa Uskup Timika, Jhon Philip Saklil dan saya mengenal almarhum sendiri sejak lama, " Ungkap Uskup Asmat Mgr. Aloisius Murwito, OFM.

Ia menceritakan, Kokonao dulu adalah satu daerah yang sangat menantang karena dikelilingi laut dan sungai,  dan sering terjadi kecelakaan,  dan di sana orang tuanya menetap dan Uskup Jhon dilahirkan dan dibesarkan. Orang tuanya,  bertahun-tahun hidup di tempat yang menantang itu dan alm juga lahir besar di sana.  

"Bapa Uskup punya kesabaran yang sangat tinggi,  dimana ia selalu ikut dengan orangtuanya di mana pun mereka ditugaskan, Dan sampai pada ia dipanggil Tuhan untuk menjadi sebagai pengembala. Bapa Uskup menjadi sosok perwakilan orang Papua itu sangat cocok karena ia banyak mengetahui bagaimana kehidupan orang Papua, karena ia memang lahir besar di Tanah Papua, " ujar Uskup Aloisius.

Sosok ini,  kata Uskup Aloisius ia bawa sejak lahir.  Sosoknya terbentuk sejak lahir di tanah Papua di Kokonao, semua yang ia lakukan adalah pengalaman masa kecilnya.

Ia juga banyak menerima tugas,  tetapi ia menjalankan itu dengan penuh sukacita. Ia tetap menerima itu,  dan semua itu terbentuk di tanah Papua Bumi Kamoro. Ia selalu menciptakan komunikasi yang baik dalam setiap rapat dan ia juga banyak memberikan ide-ide cemerlang dalam setiap pertemuan. 

"Kami sangat kehilangan,  sosok penginspirasi, tapi kita harus mengahadapi dengan iman,  karena semua orang akan mati dan akan dibangkitkan," tuturnya.

" Ia mati tapi ia menciptakan kehidupan bagi banyak orang. Tuhan memberi pengembala yang baik (Uskup Jhon) kepada kita,  namun Tuhan pula yang mengambilnya. Kita mati itu bagi Kristus,  kalau kita hidup dalam Kristus,  karena Kritus adalah kehidupan. Seperti apa yang tertulis dalam Alkitab. ‘Barang siapa yang percaya padaKu maka ia akan hidup untuk selama-lamanya, Amin," ujarnya. 

Misa pemakaman itu diakhiri dengan pemberkatan Jenazah. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment