Pedagang Ikan Ungkap Penyebab Bangun Lapak Liar Dekat Pasar Sentral

Bagikan Bagikan
Pedagang ikan, Daeng Roa. (Foto: SAPA/Saldi)

SAPA (TIMIKA) - Puluhan pedagang yang mayoritas berjualan ikan pada lapak liar yang dibangun sendiri disamping area Pasar Sentral, Jalan Hasanuddin, mengungkap alasan mengapa membangun lapak secara mandiri dilahan milik saudara Valen Kei yang kini dibongkar lalu dimusnahkan materialnya oleh petugas saat melakukan penertiban, Senin (16/9). 

Daeng Roa, pedagang ikan, sekaligus koordinator pedagang dari total 28 lapak yang dibangun secara mandiri tersebut, mengaku sangat kecewa atas langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dalam menertibkan lapak yang mereka tempati. 

Menurut dia, penertiban dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Apalagi lapak yang dibangun hanya bersifat sementara hingga mendapatkan lapak di dalam area Pasar Sentral. 

Ia mengungkapkan, sebelumnya memang sudah mendapatkan lapak, namun lapak yang didapat dan ditempati ternyata milik orang lain. Dengan terpaksa beberapa pedagang yang mengalami nasib serupa mencari jalan untuk mendapatkan lahan didekat Pasar Sentral untuk berjualan, lalu diizinkan Valen Kei salah satu pemilik lahan dekat Pasar Sentral untuk ditempati sementara berjualan mengais rejeki.

"Memang dulu di lot, kita dapat meja. Begitu kita duduki, orang yang punya datang. Kepala Dinas (Kepala Disperindag) tempatkan kita masuk di dalam, ternyata yang punya tempat ada semua. Sedangkan yang punya tempat didalam itu (kebanyakan) orang-orang dari pasar lama," ungkapnya. 

Bahkan, sempat ada penyampaian dari kepala pasar bahwa pedagang yang berada diluar area Pasar Sentral tidak diizinkan lagi masuk ke dalam untuk berjualan. Hal itu pun dibenarkan juga oleh pedagang lainnya yang mengetahui penyampaian kepala pasar tersebut. 

"Kepala pasar sendiri yang bilang, yang di luar (tetap) di luar, yang di dalam (tetap) di dalam, (katanya) itu sudah melanggar pemerintah. Nah, itu maksudnya apa? Sedangkan kita masuk di dalam juga, semua orang tidak terima kita di dalam lagi. Dibilang tidak bisa masuk lagi," ujarnya. 

Karena itu, para pedagang 28 lapak tersebut mengharapkan pemerintah memberikan perhatian serius kepada mereka untuk mendapatkan lapak di dalam pasar. Sebab, lapak yang dibongkar petugas sudah sangat merugikan mereka, apalagi dana yang mereka gunakan untuk membangun lapak kebanyakan dari koperasi, sehingga jika tidak menjual mereka akan kesulitan membayar koperasi maupun menafkahi keluarga. 

"Ini dibongkar begini, dimana ditempatkan? Kira-kira bagaimana ini ikan kami, kalau busuk bagaimana kira-kira? Inikan modal besar, ini sebagian orang pakai uang koperasi, kita kelola bagaimana caranya kita bisa menghidupkan anak istri," ujar Daeng Roa. 

"Jangan dipecahkan piring kita (lalu) tidak ada gantinya," ujarnya lagi. 

Selain itu, para pedagang juga mengungkap bahwa lapak-lapak yang ada di dalam Pasar Sentral ada yang dikontrak dan dijual-belikan oleh oknum pedagang ke pedagang. Bahkan, ada pedagang yang bisa memiliki lapak lebih dari satu. 

"Di dalam itu kontrak jual-beli. Bisa kalau kita mau buktikan. Cuma kita tidak mau baku bentrok," ungkapnya. (Saldi)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment