Yohannes Rettob, Putra Kamoro Asal Kepulauan Kei

Bagikan Bagikan
Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob

Pengabdian Orangtua di Bumi Amungsa Tanah Komoro

TAHUN 1920-an Gereja Katolik Keuskupan Amboina yang juga melingkupi daerah Papua dan sekitarnya, memiliki misi khusus untuk terang bagi wilayah dataran Papua, terutama di daratan wilayah pesisir selatan.

Melalui Mgr. Yohanes Arts, orang-orang muda dari Kepulauan Kei diutus gereja untuk membawa terang ke Tanah Papua. Secara bertahap 75 orang diutus saat itu untuk menyebarkan Agama Katolik, menjadi guru dan tukang bangunan. 

Salah satu diantaranya adalah pasangan Alexander Rettob dan istinya, Everesta Mariasyembun dari Desa Faan, Pulau Kei Kecil yang merupakan kakek John Rettob yang ditutus ke Kokonao (Distrik Mimika Barat saat ini) pada Tahun 1928.

Beberapa tahun kemudian menyusul lagi saudara Alexander bernama Tobias Rettob yang berperan sebagai juru mudi motor laut untuk mengantar para utusan dari Kei ke Kokonao.

Tepatnya tahun 1941, Mgr Uskup Yohanes Aerts mengutus orang tua John Rettob ke Kokonao. Caspar Rettob (21) dan Fransina Kebubun (20) saat itu terbilang masih sangat muda. Mereka diutus menjadi guru.

Awal bertugas, ayah Johny Ipiri melakukan tugas perdana di Kekwa sebagai kepala sekolah. Aktifitas belajar mengajar sempat terhenti akibat Perang Dunia ke II. Selanjutnya Caspar Rettob ditugaskan ke Kokonao, menjadi guru di Sekolah Rakyat (SR) Dorp School dan kepala asrama bagi anak-anak Kei dan Komoro.

Dari Kokonao, Caspar Rettob kemudian ditugaskan ke kampung Amar, Pronggo, Iwaka, Kaugapu, Ipaya dan pensiun tahun 1975 di sana. Caspar Rettob kemudian hijrah ke Kokonao hingga meninggal tahun 1990. Sementara ibunya Fransina Kebubun meninggal di Timika tahun 2003.

Saat masih mengabdi, Caspar Rettob dikenal dengan panggilan Guru Ipiri. Selama di Papua, ia dan keluarganya hanya sekali kembali ke pulau Kei. Dalam menjalankan tugas di Mimika (saat ini) John Rettob bersama 10 saudaranya dilahirkan. Mereka ada empat laki-laki dan 7 perempuan. Saat ini semuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hanya satu bekerja sebagai wartawan senior di Media Kompas Indonesia.

Masyarakat Kamoro Memberinya Nama Painiti

Johanes Rettob lahir di Kokonao 19 Oktober 1962. Baru berusia tiga hari, John diboyong keluarga pindah ke Ipaya salah satu daerah pesisir yang namanya merupakan gabungan tiga kampung yaitu Ipiri, Paripi dan Yaraya. Dan nama itu adalah pemberian ayah John Rettob.

John yang lahir di Tanah Kamoro lantas diangkat sebagai anak adat dengan nama Painiti Rettob. Ketika remaja, ia mengikuti ritual mitoro dan karapau, salah satu ritual adat menuju kedewasaan.

Saat masih di bangku Kelas 4 SD tahun 1972, John kecil hampir meninggal karena keracunan makanan. Keluarga membawanya menggunakan perahu menuju rumah sakit Kokonao. “Waktu itu semua keluarga sudah menangis, mereka pikir saya sudah meninggal, rumah sakit satu-satunya ada di Kokonao,” ungkapnya. Berkat bantuan medis dan obat tradisioal, dia selamat dari peristiwa naas itu.

Namun sejak peristiwa itu, kedua orang tua memutuskan menyekolahkan John di Kokonao hingga akhirnya lulus Tahun 1974 dari SD YPPK St Fransiskus Xaverius Kokonao. Saat SD, John menyaksikan sejarah Mimika dimana pada Tahun 1973, Bandara Timika atau sekarang Bandara Internasional Mozes Kilangin diresmikan oleh Presiden Soeharto sekaligus mengumumkan perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya. “Saya juga hadir saat itu,” katanya.

Setelah tamat SD tahun 1974, ia masuk SMP Lecoq De Armandville Kokonao hingga tamat tahun 1977. Berbekal prestasi yang gemilang, membuat sang ayah memutuskan John melanjutkan studi di SMA gabungan Jayapura. Menggunakan pesawat Cesna milik AMA berkapasitas empat penumpang, John terbang dari Kokonao menuju Jayapura.

Selama menempuh pendidikan, jiwa kepemimpinan John juga terlihat, dengan terpilihanya sebagai Ketua OSIS. Bahkan dia juga diangkat menjadi ketua Ikatan OSIS semua sekolah (IKOSIS) menengah di Jayapura.

Menjadi Pilot atau Pastor adalah Pilihan Yang Sulit

Selama menjalani masa pendidikan di SMA Gabungan Jayapura, John mengembangkan bakat dibidang olahraga, terutama bola kaki dan basket. Bahkan karena kepiwaiannya dalam mengolah ‘si kulit bundar’, era 1978-1980 dia terpilih sebagai kiper Persipura inti junior dan cadangan senior.

Namun karier olahraganya terhenti ketika mengalami cedera lutut saat menggeluti laga Persipura melawan PSPB Biak. “Tempurung lutut saya terlepas sehingga harus dioperasi setelah ditendang pemain PSPB Biak namanya Sing Betay. Tidak lama setelah itu Sing Betay diangkat sebagai pemain PSSI,” kenang John.

Menjadi pesepakbola ternyata bukan jalan hidupnya. Malah ia terpaut pada dua cita-cita besar yaitu menjadi pilot atau pastor. Keinginan menjadi pilot tumbuh ketika semasa SD dia sering bertemu pilot angkatan udara yang pesawatnya mengalami kecelakaan di Kokonao. Ia ingin agar masyarakat Kamoro bisa berpergian dengan pesawat dari pada harus lelah dayung di sungai. Sedangkan keinginan menjadi pastor lantaran ingin mengikuti jejak ayahnya melayani masyarakat Kamoro di wilayah pesisir.

Gagal Jadi Pilot, Joni Ipiri Lulusan Terbaik PLP Curug

Sebagai bahan pertimbangan dalam memilih cita-cita, jika selama SMA dirinya mendapat jurusan IPA maka keputusan akhir jadi pilot, namun jika jurusan bahasa maka keputusan jadi pastor. Namun yang terjadi ia dipilih masuk jurusan IPA sehingga keputusan sekolah pilot dianggap final.

“Pada saat itu saya sangat dekat dengan gereja. Saya minta di Uskup Herman Muninghoff untuk daftarkan diri jadi pilot pesawat AMA. Mulai kelas 2 sampai kelas 3 SMA, untuk mengerti bagaimana cara pilot selama masa liburan saya bekerja di AMA sebagai penimbang barang. Saya juga biasa ikut pilot terbang ke wilayah pedalaman Papua,” katanya.

Tahun 1981, setelah tamat dari SMA Gabungan Jayapura, ia mendatangi AMA dan mendapat kepastian akan dikirim dua tahun kemudian untuk menjalani sekolah pilot di Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) Curug. Tapi karena menunggu terlalu lama, diam-diam, John mengikuti tes sekolah pilot di PLP Curug dan dinyatakan lulus namun belum dipanggil. Ia kemudian mengikuti tes AKABRI dengan tujuan menjadi pilot pesawat tempur dan dinyatakan lulus.

Akhirnya John berangkat menuju Magelang mengikuti pendidikan calon taruna AKABRI menjadi pilot Angkatan Udara. Tiga tahun sebagai taruna ia akhirnya dinyatakan tidak lulus karena menderita farises. Lalu, pada Oktober 1981, ia dipanggil masuk PLP Curug. Ia pun berangkat menggunakan pesawat Hercules Pelita (angkut transmigran) yang seharusnya ke Jakarta ternyata mendarat di Surabaya.

“Saya bingung karena harus ke Jakarta, sedangkan Jakarta bagi saya masih baru, memang waktu di AKABRI saya sudah cukup tahu tapi belum hafal betul Jakarta seperti apa. Akhirnya saya naik kereta api ke Jakarta dengan uang pas-pasan. Puji Tuhan saya tiba di Jakarta dan saya cari keluarga di sana. Oleh paman saya, Frans Rettob, saya diantar ke Curug langsung memulai pendidikan,” bebernya.

Rupanya pilot bukan garis tangan hidupnya. PLP Curug menawarkan John pindah jurusan setelah gagal lulus pilot. Ia memilih jurusan pengatur teknik radio penerbangan. Alumnus PLP Curug angkatan 21 itu mengemukakan, pendidikan teknik radio sebenarnya lebih mengarah pada sistem elektronika komunikasi dan navigasi yang bagi dia merupakan hal baru. Tidak heran, ketika memulai pendidikan semester satu (untuk mengejar diploma 2), dia mendapat ranking ketiga terakhir, dari 29 mahasiswa.

Semester dua, prestasi meningkat, ia berhasil menduduki rangking 15, dan semester tiga meningkat tajam hingga rangking 3. Pada ujian akhir, ia berhasil lulus peringkat pertama dan mendapat penghargaan dari Menteri Perhubungan.

Tidak Ada Uang, John Rettob Jual Odol dan Sabun

Dalam menjalani masa kuliah, John Rettob terbilang mandiri. Sebagai mahasiswa sekolah ikatan dinas, John dan mahasiswa lainnya hanya diberi jatah beras, sabun mandi dan odol. Terkadang mereka tidak mempunyai uang sama sekali, apalagi kiriman dari orang tua Rp 10 ribu tiap bulannya diterima sekali dalam empat bulan. “Terpaksa kami bayar barang yang kami beli pakai sabun dan odol. Misalnya ada penjual tahu dan pisang goreng, kami bayar pakai barang-barang itu,” tuturnya sambil tersenyum.

Saat hari minggu atau hari raya, John biasa mengikuti teman-temannya yang mempunyai keluarga di Jakarta. Meskipun disibukkan dengan urusan kuliah, hobinya sebagai pebasket tidak hilang. Ia pernah terpilih sebagai pemain basket mengikuti PON DKI Jakarta.

“Saya juga cari uang dengan main basket. Pada saat itu saya punya lulut kiri pecah karena main basket,” kenangnya.

Pendidikan di Empat Negara

Profesionalisme John Rettob di bidang perhubungan tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, ia mengejar ilmu sampai ke empat negara yakni Bangkok, Prancis, Jerman dan terakhir meraih titel diploma engineering (dipl.eng) di Universitas Long Beach California Amerika Serikat. Sedangkan sarjana dan pasca sarjana diraih di universitas STIA LAN.

Setelah tamat dari PLP Curug pada November tahun 1983 diangkat sebagai PNS tahun 1984 dan bekerja sebagai teknisi penerbangan dan diperbantukan di PT Angkasa Pura di Bandara Kemayoran Jakarta yang saat itu dalam masa peralihan menjadi Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Akhir tahun 1985, John dipindahkan ke Bandara Simpang Tiga Pekan Baru yang saat ini berubah nama jadi Bandara Hasan Syarif Kashim Pekan Baru.  Kurang lebih empat bulan bekerja di tempat tersebut, John memilih melarikan diri karena hidupnya sangat menderita.

“Saya merasa hidup di perantuan sangat jauh, saya minta pindah ke Biak. Tapi oleh Ditjen Perhubungan Udara saya tidak diizinkan dan ditempatkan di Direktorat Fasilitas Elektronika dan Listrik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang saat ini disebut Direktorat Navigasi Penerbangan. Sejak itulah saya hidup di Jakarta dengan banyak kenangan, sampai gang-gang pun saya tahu,” ungkapnya sambil tertawa.

Tahun 1987, John menjalani pendidikan di salah satu lembaga pendidikan Kota Touluse Prancis jurusan Teknik Radar System dan Teknik Komunikasi Penerbangan. Tinggal di Jakarta dan luar negeri membuat komunikasi John dan keluarga hampir terputus total. Dia sangat terpukul dan mulai merubah gaya kehidupannya ketika pada tahun 1990 mendapat kabar jika ayahnya meninggal dunia.

“Saya kembali ke Kokonao dibantu naik pesawat gratis. Sadar dari kejadian itu, saya memutuskan tidak mau kembali ke Jakarta, saya temani mama empat bulan di Kokonao. Mama bilang saya harus pulang lanjutkan kerja di Jakarta. Akhirnya saya putuskan pulang,” ungkapnya.

Kariernya terus menanjak. Setelah kembali ke Jakarta, tahun 1991-1992 ia melanjutkan pendidikan di Bangkok, Thailand mengambil pendidikan komputer system informasi manajemen penerbangan, sampai belajar program komputer. Kembali dari Bangkok, tahun 1992 sampai 1993 meneruskan pendidikan diploma tiga di PLP Curug selama satu tahun.

“Kepergian bapak membuat hidup saya berubah. Sejak tahun 1991 saya aktif sebagai pemuda gereja, aktif di paduan suara Gereja Katedral Jakarta, sebagai anggota Mudika sampai akhirnya kenal dengan istri saya di kegiatan gereja tahun 1993,” papar John.

Tahun 1994, dia menjalani pendidikan di pabrik peralatan x-ray Weis Baden Jerman. Pada tahun 1995, dia balik lagi ke Jerman mengambil pendidikan system komunikasi penerbangan di Kota Rasstat.

Disela-sela kesibukan pendidikan, tahun 1995 ia menikahi seorang gadis Tionghoa kelahiran Pontianak, Susana Herawaty dan dikaruniai lima orang anak.

Tahun 1997 John berhasil meraih sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara pada Lembaga Administrasi Negara (LAN). “Saya menamatkan pendidikan S1 mengambil jurusan program pembangunan.  Kenapa saya sekolah administrasi karena sebagai teknisi kami praktis tidak pernah berpikir administrasi. Maka ketika saya duduk sebagai staf, saya harus belajar administasi. Saya juga mengikuti sejumlah kursus dan pelatihan yang berserifikasi di Indonesia, salah satunya adalah penyidik pegawai negeri sipil atau PPNS,” ujarnya.

Tahun 1998, dia melanjutkan studi di Long Beach University untuk mengambil pendidikan lanjutan Teknik Radio dan Navigasi Penerbangan yang kemudian meraih diploma empat (diploma engineering).

Tidak berhenti sampai di situ saja, John mengambil studi pasca sarjana di STIE IPWI hingga tamat 2000 dengan titel magister managemen. 

“Sebenarnya saya ambil S2 karena menunggu Jakarta macet. Waktu itu setiap pulang kerja sore jalanan Jakarta selalu macet, jadi kami putuskan sekolah dulu sore sampai malam baru pulang, intinya mau sekolah cuma itu, karena pulang malam tidak macet,” ungkapnya.

Bekerja di Jakarta sampai tahun 2001 hingga mendapat jabatan dengan SK Dirjen sebagai pelaksana tugas Kepala Seksi Peralatan Security dan Audio Visual. Selama di Jakarta, dia bertugas sebagai teknisi penerbangan instruktur dan inspector untuk peralatan komunikasi, radar dan security system.

“Saya yang membuat ujian agar para teknisi penerbangan bisa mendapat Surat Tanda Kecakapan Personil. Saya dipercaya memberi pelatihan kepada para operator, pasukan pengamanan presiden, bea cukai, dan kantor pos dalam mengoperasikan peralatan xray,” kata pria yang pernah menjabat sebagai anggota dewan standarisasi nasional Indonesia (SNI), dan ikut dalam penyusunan peraturan-Peraturan Menteri dan Dirjen tentang Perhubungan Udara itu.

John dan keluarga pindah ke Timika ketika tahun 2001 setelah diminta Bupati Mimika, Titus Potereyauw (saat ini mantan) untuk membantu Dinas Perhubungan. Ketika itu dia mejabat sebagai Kepala Sub Bidang Perhubungan Udara yang dijalaninya selama kurang lebih 15 tahun. Barulah pada 9 Februari 2015, Bupati Eltinus Omaleng mengangkatnya sebagai Kepala Dishubkominfo Kabupaten Mimika.

John baru saja mengalami kedukaan lantaran kehilangan dua putranya. Robert Charles meninggal di Surabaya tahun 2016, disusul Thendra Cendana meninggal dunia di Denpasar tahun 2017. Jenazah kedua putranya itu dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta.

“Yang sekarang masih hidup Maria Elisabeth, Maria Veronika, dan Maria Fransina Karen. Mereka adalah kebahagiaan hidup kami,” bebernya dengan mata berkaca-kaca.

Sama seperti kebanyakan masyarakat Komoro dan Kei, ikan adalah makanan favoritnya. Iapun menyukai musik. Salah satu lagu yang selalu menjadi inspirasi dalam berkeluarga dan berkarya adalah lagu lawas ‘Jangan Salah Menilaiku’.

Pribadi pria tinggi dengan corak rambut putih ini sedari kecil hingga saat ini sangat dekat dengan lingkungan gereja. Semasa sekolah hingga di Jakarta, ia aktif dalam berbagai kegiatan mudika (saat ini OMK). Ia bahkan pernah menjadi ketua mudika di Jakarta.

Bapak John sudah dikenal semua umat Katolik Mimika. Dia terlibat aktif dalam berbagai urusan, mulai dari pembangunan gereja Katedral Tiga Raja, Gereja Paroki St Stefanus Sempan, SMP/SMA St Bernadus, hingga Kantor Keuskupan Timika. Diangkat oleh Uskup Timika sebagai ketua pembangunan, sedangkan di gereja Paroki St Stefanus Sempan sebagai ketua dewan paroki selama 10 tahun dan kini dipercayakan sebagai penasehat dewan paroki.

Mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Satya untuk 10 tahun sebagai PNS dari Presiden Gus Dur dan 20 tahun oleh Presiden Susila Bambang Yudhoyono (SBY) adalah puncak kebanggaan meniti karirnya sebagai seorang PNS.

“Saya sudah mengabdi sebagai PNS selama 34 tahun. Pangkat saya yang terakhir 4C Pembina Utama Muda. Masa pensiun saya 5 tahun lagi. Ini merupakan pilihan paling sulit (politik) dalam hidup saya, namun saya percaya, Tuhan punya maksud dibalik semua ini,”  ujarnya mengimani. 

Data Pribadi
Nama  : Yohannes Rettob, Ssos MM
Tempat Tanggal Lahir : Kokonao 19 Oktober 1962
Ayah : Caspar Rettob
Ibu : Fransina Kebubun
Istri : Susana Herawaty
(tim)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment