Klinik Asiki Berhasil Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak di Boven Digoel

Bagikan Bagikan
Klinik Asiki. (Foto-Antara)
SAPA (BOVEN DIGOEL) - Keberadaan Klinik Asiki di Kabupaten Boven Digoel, Papua menjadi bukti nyata kontribusi Korindo Group dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di daerah terpencil. Tentu dengan berada di wilayah perbatasan yang minim dengan dukungan infrastruktur memadai, ada berbagai tantangan di bidang kesehatan yang harus dihadapi oleh tim medis. Salah satunya adalah menurunkan tingkat kematian ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi baru lahir.

Angka kematian tersebut memang cukup tinggi di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Sekretariat ASEAN, nilai Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia adalah terbesar kedua setelah Laos di antara negara-negara ASEAN lainnya. Nilai AKI di Indonesia mencapai 309/100.000 ibu melahirkan. Kasus kematian ibu hamil, melahirkan, serta bayi baru lahir di Indonesia ini pun kerap terjadi di daerah yang kurang mendapatkan pelayanan kesehatan memadai.

Oleh karena itu, upaya penurunan nilai AKI maupun bayi baru lahir menjadi salah satu dari delapan program prioritas di Klinik Asiki. Tim medis turun langsung ke lapangan dalam menangani kasus ini melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita, dan keluarga berencana (KB).

Untuk menjangkau para ibu yang ada di pelosok desa, Klinik Asiki pun menggalakkan program Mobile Service yang bekerja sama dengan puskesmas setempat. Melalui Mobile Service ini, tim dokter mengunjungi para ibu yang berada di pelosok-pelosok untuk diberikan penyuluhan tentang kesehatan.

Kami melakukan promosi dari kampung ke kampung, mengimbau agar mereka melahirkan di klinik dengan fasilitas yang lengkap, ujar dr. Firman Jayawijaya selaku Manager Klinik Asiki. Alhasil, berkat kerja keras bersama ini, tercatat tidak ada satupun kejadian kasus kematian ibu hamil dan ibu melahirkan selama periode tahun 2015-2018.

Menurut kisah dr Firman, sebelum hadirnya Klinik yang didirikan Korindo Group ini, penyebab tingginya kasus AKI di wilayah tersebut adalah karena faktor budaya yang turun menurun. Sejak dulu, masyarakat setempat selalu percaya bahwa lebih baik melahirkan di befak (tenda) ataupun di dalam hutan ketimbang di tempat lain.

Padahal dengan melahirkan di tengah hutan dengan minimnya fasilitas kesehatan yang steril dan tenaga medis yang kompeten, akan sangat membahayakan kondisi sang ibu dan juga bayi yang dilahirkan. Pemikiran semacam inilah yang perlahan-lahan diubah oleh tim klinik dengan mengajak para ibu untuk melahirkan di Klinik Asiki dengan fasilitas dan tenaga yang lebih lengkap.

Di sisi lain, faktor geografis tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu kesulitan yang harus dihadapi. Banyak ibu hamil yang berada di kampung-kampung yang cukup jauh dengan lokasi Klinik Asiki. Namun para dokter dengan semangat terus berupaya untuk menjemput ibu satu per satu agar bisa dibawa dan melahirkan di klinik dengan prosedur medis yang tepat, demi menekan nilai AKI di wilayah pedalaman.

Keistimewaan yang diberikan lainnya, segala pelayanan kesehatan yang disediakan oleh Klinik Asiki kepada masyarakat asli Papua diberikan secara gratis. Ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan pelayanan kesehatan non komersial yang prima bagi masyarakat Papua.

Anna Ametong, salah seorang pasien Klinik Asiki pun turut bersyukur atas pelayanan kesehatan gratis ini. Pengobatan jadi lebih dekat dan lebih bagus, ujar Anna saat memeriksakan kesehatan dirinya dan anaknya.

Di samping itu, Klinik Asiki juga memberikan pelayanan kesehatan melalui pelayanan poli umum, poli gigi, laboratorium yang memadai, serta penyuluhan kesehatan dan perbaikan status gizi masyarakat. Atas komitmennya dan kontribusinya kepada masyarakat, Klinik Asiki pun diberikan penghargaan sebagai klinik terbaik tingkat nasional sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh BPJS Kesehatan pada Agustus 2019 kemarin.(Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment