Pedagang Sumbar Ingin Kembali Ke Wamena Meski Kios Telah Terbakar

Bagikan Bagikan
Kondisi kios-kios yang dirusak massa saat demonstrasi berujung kerusuhan terjadi di Wamena, ibu kota Jayawijaya, pada 23 September 2019. (Foto-Antara)

SAPA (PADANG) - Seorang pedagang asal Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan tetap ingin kembali ke Wamena meski kiosnya sudah terbakar saat kerusuhan meletus di ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, tersebut pada 23 September 2019.

"Karena di sana terasa enak berusaha dan bisa berbaur antar sesama, kalau pelaku kerusuhan sekarang ini kan datang dari luar," kata Defrizul (45) di Padang, Jumat.

Kios Defrizul di Pasar Misi terbakar saat kerusuhan meliputi Wamena dan dia tidak sempat menyelamatkan harta benda saat kerusuhan terjadi.

"Saat itu saya sedang berada di kios, lalu pelaku kerusuhan datang secara tiba-tiba pada Senin sekitar pukul 08.30 WIT," kata

Ia menuturkan, saat itu suasana berubah menjadi tegang karena perusuh datang dan melemparkan batu dan bom Molotov ke arah deretan kios di Pasar Misi, membuat sejumlah kios terbakar.

Ketika itu, ia melanjutkan, sejumlah warga asli Wamena berusaha menghalangi perusuh membakar kios-kios di pasar namun tidak membuahkan hasil karena jumlah mereka kalah banyak jika dibandingkan dengan jumlah perusuh.

"Sejumlah kios mulai terbakar, dan saya bersembunyi ke belakang tanpa menutup kios. Tidak ada yang bisa diselamatkan selain pakaian di badan dan anak-istri," katanya.

Setelah sekitar satu jam bersembunyi, ada personel TNI datang dan mengevakuasi keluarga Defrizul dan ratusan warga lain ke markas Kodim 1702/Jayawijaya di Wamena.

"Jika petugas terlambat sedikit saja saat itu, entah bagaimana nasib saya dan para pedagang lain," katanya.Defrizul merantau ke Wamena sejak tahun 2000. Di sana, ia berdagang bahan pangan pokok dan barang kebutuhan sehari-hari.

Meskipun kiosnya terbakar, Defrizul bersyukur istri dan satu anaknya selamat dari kerusuhan yang terjadi di Wamena dan bisa pulang ke Sumatera Barat.

Defrizul bersama istrinya, Puspita Mujiastuti (30), dan seorang anaknya menginjakkan kaki di Sumatera Barat pada Kamis malam (3/10). Mereka ada di antara 50 perantau Sumbar yang mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman, pukul 20.40 WIB.

Keluarga Defrizul memutuskan kembali ke Sumatera Barat untuk sementara waktu demi keamanan. Mereka berencana kembali ke Wamena setelah daerah itu aman.(Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment