Sepenggal Cerita dari Kejadian Tragis di Wamena, Dua Orang Asli Papua 'Mengawal' Seorang Ibu Pendatang dan Bayinya Saat Dievakuasi dari Gedung Gereja

Bagikan Bagikan
Dua orang asli Papua mengawal seorang ibu warga pendatang dan bayinya saat dievakuasi. (Foto: Istimewa)

INILAH  sepenggal cerita dari kejadian tragis dan memilukan di Wamena tanggal 23 September 2019. Sekitar pukul 16.00 WIT, dengan memantapkan hati, tim penolong mulai bergerak menuju daerah Pikhe di Wamena, salah satu tempat terparah saat kejadian siang itu.

Seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, berbagai 'blokade' menumpuk di tengah jalan raya, baik itu bangkai mobil dan motor yang dibakar, pohon-pohon besar yang ditumbangkan perusuh dengan tujuan mempersulit pergerakan aparat keamanan menuju titik-titik yang hancur.

"Kami tetap yakin melaju karena memikirkan nasib kurang lebih 300 pengungsi pendatang yang masih terisolasi di dua gedung gereja. Mereka tidak bisa dikeluarkan karena massa masih memblokade akses jalan.  Setelah negosiasi yang cukup alot dengan massa yang ingin beberapa pelajar yang di tangkap dibebaskan, akhirnya massa melunak dan membuka jalan bagi pengungsi lewat untuk dievakuasi," kata sumber tersebut.

Satu persatu pengungsi berjalan melewati massa dengan isak tangis yang tak henti-hentinya. Ada ibu-ibu, anak kecil dan bayi di antara mereka. Dalam benak mereka pun pasti tidak percaya jika Tuhan masih menjaga dan melindungi sehingga mereka selamat dari keberingasan perusuh.

"Dan moment yang membuat saya terkejut, ada dua orang asli Papua tampak 'mengawal' seorang ibu dan anak balitanya. Seorang membantu membawa tas sang ibu dan seorang lagi berjalan di belakangnya dengan tangannya memegang pundak sang ibu, Karena tangan sang ibu seakan tak ingin lepas dari rangkulannya. Ini menjukkan tidak semua orang Papua ingin ada kekacauan seperti saat ini, Mereka ingin Wamena damai, mereka juga ingin terus hidup berdampingan," ujarnya.

Meski keberagaman dan kebersamaan di Wamena sempat terkoyak-koyak, namun Tuhan masih sisakan beberapa penggal kisah untuk kita ceritakan bahwa kasih itu masih ada. 

"Bukan karena keriting atau lurus,bukan karena putih atau hitam tapi semua karena kasih," katanya. (*)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment