PT Freeport Kembali Buka Papuan Bridge Program, Peserta Akan Magang Selama Empat Bulan

Bagikan Bagikan
Foto bersama peserta dan jajaran manajemen Freeport dalam pembukaan Papuan Bridge Program. (Foto: SAPA/Saldi)

SAPA (TIMIKA) - PT Freeport Indonesia (PTFI), Jumat (24/1/2020), bertempat di ruang serbaguna Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), Kuala Kencana, kembali membuka Program Papuan Bridge yang pada tahun 2020 ini merupakan angkatan ke 19. Angkatan 19 ini terdiri dari 14 peserta yang direkrut dari berbagai universitas dan institut di Papua dan luar Papua.

Peserta program Papuan Bridge ini akan mengikuti pelatihan atau magang selama empat bulan ke depan di area kerja PT Freeport Indonesia, mulai dari area low land hingga high land. 

Turut hadir mewakili manajemen PTFI sekaligus membuka program Papuan Bridge, EVP Human Resources Development PTFI, Ahmad Didi Arianto beserta beberapa perwakilan departemen di PTFI maupun privatisasi, kontraktor dan sub kontraktor. 

Kepala atau Senior Manager IPN, Soleman Faluk, pada kesempatan itu menerangkan bahwa, program ini sudah berjalan sejak tahun 2012, yang mana mereka yang direkrut dan lolos adalah fresh graduate minimum S1 dari berbagai kampus baik di Papua maupun luar Papua. 

"Tujuan dari program ini sebenarnya kita membantu mereka anak-anak muda ini menjadi orang yang punya karakter yang kuat, kemudian motivasi yang tinggi. Dan harapan lebih jauh, mereka bisa berhasil membuka lapangan pekerjaan dengan proses pembekalan dan pelatihan yang nanti kita lakukan," kata Soleman. 

"Lebih fokus, mereka diharapkan jadi pengusaha. Tujuan akhir dari mereka adalah, nanti mereka bisa membuka usaha, hidup mandiri dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki," katanya lagi. 


Proses seleksi dalam perekrutan peserta cukup ketat, dan menggunakan standar PTFI, mulai dari tes verbal, interview, hingga tes kesehatan. Setelah dinyatakan lolos dalam tahapan tersebut, peserta akan ditugaskan merangkum kembali dengan mata kuliah jurusan masing-masing. 

"Namanya Papuan Bridge Program, jadi sasarannya anak-anak Papua, yaitu entah bapaknya Papua atau mamanya non Papua, atau mamanya Papua bapaknya non Papua. Pokoknya definisi Papua yang masuk dalam otonomi khusus," jelasnya. 

Peserta akan mengikuti program ini selama empat bulan, berakhir pada Mei 2020 mendatang. Kemudian pada bulan Juli akan dilanjutkan dengan angkatan berikutnya yang kini sudah lolos seleksi, tinggal pemanggilan untuk mengikuti proses yang sama. 

Karena konteksnya adalah magang, perusahaan pun akan memberikan benefit kepada peserta berupa uang saku, serta makan minum dijamin. Dan peserta juga difasilitasi berupa akomodasi tempat tinggal dan pelayanan kesehatan. 

"Output dari sini kan kita tidak memberikan pekerjaan. Dengan pelatihan yang kita berikan, mereka bisa buat sesuatu. Sesuatu yang dimaksud, mungkin bisa jadi pengusaha. Dengan materi-materi yang kita siapkan mungkin bisa membuat mereka percaya diri dan mereka bisa melakukan sesuatu," kata Soleman. 

"Kalau kami ini kan cari kerja dan menjadi pegawai, kalau mereka generasi muda harus bisa berbuat sesuatu untuk membuka lapangan kerja," katanya lagi. (Saldi)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment