Usai Mediasi Dan Penandatanganan Nota Kesepakatan, 15 Siswa SMKN 01 Temon Dipulangkan Ke Yogjakarta

Bagikan Bagikan
Penandatanganan nota kesepakatan dilakukan oleh Kepsek SMKN 01 Temon Progo, Fauzi Rohman disaksikan oleh Kepsek SMKN 02 Rembang, Darusallam, Ketua KKJB Mimika, Imam Parjono serta Anggota Fraksi Gerindra, TAnzil Azhari . (Foto: SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) - Usai proses mediasi dan  penandatanganan nota kesepakatan bersama, sebanyak 15 siswa PKL asal SMKN 01 Temon, Kulon Progo Yogyakarta akan dipulangkan pada 15 Januari 2020 menggunakan maskapai penerbangan Sriwijaya Air.

Mediasi dilakukan antar Kepala Sekolah SMKN 1 Temon, SMKN 2 Juana Rembang, Nahkoda dan ABK Kapal  Rafindo Jaya 01 dan Feru Ardana III, PSDKP Mimika, Bidang Pengawasan Disdik Mimika, KKJB, Pengurus peguyuban Jogja Kedu Mimika dan perwakilan DPRD Mimika. Mediasi dan penandatanganan nota kesepakatan dimaksud setelah adanya peristiwa persekusi yang dialami oleh 15 Siswa Kelas II, angkatan XV SMKN 01 Temon, saat melaksanakan PKL pada kapal penjaring ikan yakni KM Rafindo Jaya 01 dan Feru Ardana III, tanggal 7 Desember 2019 lalu, yang menyebabkan 15 siswa tersebut melarikan diri.

Isi nota kesepakatan adalah memulangkan 15 siswa SMKN 01 Temon dari Timika ke Jogja dengan biaya yang ditanggung bersama. Menjamin tidak adanya tindakan diskriminasi dan intimidasi dari pihak sekolah ketika semua siswa kembali ke SMKN 01 Temon. Menjamin sertifikasi PKL 15 siswa dan dibicarakan dengan melibatkan semua orang tua siswa. Klarifikasi dan permintaan maaf di depan media atas terjadinya miskomunikasi sehingga menyinggung nama baik KKJB.

Ketua KKJB Mimika, Imam Parjono mengatakan bahwa di setiap persoalan pasti ada jalan keluar ketika dilakukan mediasi bersama. Mediasi dilakukan secara maraton sejak tanggal 7 Januari hingga tanggal 12 Januari 2020 dan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepakatan tanggal 13 Januari 2020.

Selanjutnya, diharapkan kepada SMKN 01 Temon agar lebih teliti dalam memutuskan tempat PKL bagi siswanya. Pelaksanaan PKL bagi setiap siswa, maksimal harus dilakukan koordinasi bersama dinas terkait di setiap wilayah sebagai tempat tujuan PKL siswa. Hal ini dilakukan, sehingga bisa mengatasi persoalan jika ada permasalahan serupa yang terjadi.

“Mediasi ini kita lakukan semata mata untuk anak-anak kita agar bisa dipulangkan kembali ke Yogya. Kedepannya untuk SMKN 01 Temon harus menjalin koordinasi baik sebelum siswanya dikirim untuk PKL. Harus libatkan orang tua serta menentukan wilayah yang dekat supaya keberadaan siswa bisa dipantau,” ungkap Parjono di Sekretariat KKJB Mimika, Jalan Budi Utomo Ujung, Jalur SP1, Senin (13/1/2020).

Isi nota kesepakatan.

Sedangkan anggota Fraksi Gerindra, Tanzil Azhari mengatakan bahwa harus bersyukur lantaran Pemerintah masih memperhatikan persoalan-persoalan serupa yang terjadi, sehingga mediasi yang dilakukan bisa membuahkan hasil atau satu keputusan. Kehadiran, Disdik, Perwakilan perusahan kapal dan PSDKP Mimika menurut dia, telah membuktikan adanya perhatian.

Politisi Gerindra Pusat juga sempat memberikan masukan untuk mengantisipasi adanya permasalahan terhadap siswa PKL di kapal-kapal serta persoalan kelautan untuk ke depannya.

“Gerindra sudah mulai membahas agar bagaimana ke depannya mengantisipasi persoalan yang berkaitan dengan HAM. Kemungkinan kedepannya, Gerindra juga akan tekankan agar bagaimana caranya Pemerintah bisa menata adanya satu pintu di bagian kelautan khususnya di wilayah pelabuhan,” tutur Tanzil.

Selain itu,  ia mengatakan bahwa ke depannya KKJB akan terus diperkuat, karena merupakan salah satu percontohan kerukunan di Mimika. 

Koordinator Pengawas Sumberdaya Kelautan, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) Mimika, Hariyadi mengusukan agar untuk mengantisipasi adanya peristiwa yang sama, maka ke depannya  pihak SMKN 01 Temon harus menentukan wilayah PKL yang tidak terlalu jauh. Disarankan agar PKL hanya dilakukan di sekitaran pulau Jawa, sehingga hari operasinya singkat dan mempunyai waktu bagi setiap siswa untuk pulang.

“Jujur saja kalau di usia-usia siswa SMK itu belum bisa dilepas jauh untuk PKL. Mental mereka belum terlalu kuat untuk terpisah jauh dari keluarga. Apa lagi posisi gelombang laut untuk wilayah timur Indonesia, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah laut di pulau jawa,” kata Hariyadi.

Ia juga menyarankan, bagi setiap siswa yang dipulangkan untuk segera menghadap ke sekolah agar bisa memperoleh solusi PKL selanjutnya. Sebab, PKL merupakan salah satu program untuk menyelesaikan studi di SMK dan sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir.

Sedangkan Kepsek SMKN 01 Temon, Fauzi Rohman menyampaikan ucapan terimakasih kepada KKJB Mimika serta seluruh pihak terkait yang memfasilitasi mediasi. Adanya mediasi ini, memberikan kelegahan bagi pihak SMKN 01 Temon. Dengan demikian, ketika nanti sampai di Yogyakarta, pihak SMKN 01 Temon akan melakukan penyerahan kepada masing-masing orangtua siswa.

“Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pengurus dan anggota KKJB Mimika yang telah memfasilitasi mediasi. KKJB juga telah menampung anak-anak kami selama ini. Kami mohon maaf juga karena adanya miskomunikasi yang terjadi. Miskomunikasi ini murin terjadi karena ketidaktahuan kami,” ungkap Fauzi.

Sedangkan perwakilan SMKN 02 Rembang, Darusallam menyampaikan permintaan maaf atas terjadinya miskomunikasi dari pihak sekolah, sehingga menyinggung nama baik KKJB. Selanjutnya, pihak sekolah mengucapkan terimakasih atas partisipasi KKJB sehingga 15 siswa SMKN 01 Temon bisa mendapatkan perlindungan dan selanjutnya dimediasi hingga memulangkan kembali ke Yogya. 

“Dari hati yang dalam mewakili pihak sekolah, saya  memohon maaf atas  ucapan yang tidak elok sehingga menyinggung KKJB. Setelah kami melihat apa yang dilakukan KKJB, ke depannya kami akan tetap menjalin kerja sama dengan KKJB Mimika. Terima kasih banyak untuk semuanya,” ungkap Darusallam. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar