Wabup Dan DPRD Sayangkan Sriwijaya Air Biarkan Masyarakat Berbaur Antri Mengambil Uang Tiket

Bagikan Bagikan
Anggota DPRD Mimika Tansil Aslzhari memantau pengembalian uang tiket di depan loket Srieijaya Air. (Foto: SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) - Wakil Bupati Mimika, Yohannes Rettob menyayangkan pihak Sriwijaya Air yang membiarkan para calon penumpang yang gagal terbang berbaur mengantre saat mengambil kembali uang tiket di depan loket di Bandara Mozes Kilangin, Kamis (26/3/2020).

"Masyarakat itu ada yang refund dan reschedule tiket mereka. Tapi sangat disayangkan Sriwijaya Air tidak mengatur mereka. Seharusnya ada petugas yang berdiri mengatur jarak. Ini persoalan virus berbahaya. Bukan hal yang main-main. Apalagi pemerintah sudah instruksikan supaya masyarakat tidak boleh berbaur sebanyak itu," kata wabup di Bandara Mosez Kilanginn, Kamis (26/3/2020).

Dijelaskan, meski bukan dalam situasi pencegahan Covid-19, tapi setiap antrian di khalayak ramai harus diatur. Dalam urusan ini, berarti manajemen Sriwijaya yang mengambil alih agar apa yang kita upayakan benar-benar ada hasilnya, karena semua mengharapkan agar Covid-19 tidak ada di Mimika.

"Saya juga sudah sampaikan ke securty untuk mengatur supaya besok-besok situasi itu tidak boleh ada lagi. Antrian boleh, tapi harus diatur jarak antar satu orang dengan yang lainnya," ujar Wabup Jhon.

Situasi masyarakat yang berbaur di tengah pandemi covid-19 ini juga disaksikan oleh Anggota DPRD Mimika, Tansil Azhari. Karena itu, Tanzil juga mengaku kecewa atas layanan Sriwijaya Air.

Menurut dia, Sriwijaya Air tidak komitmen dengan apa yang telah disepakati bersama Pemkab Mimika. Sebab, dalam instruksi tertuang bahwa masyarakat tidak boleh berbaur dalam jumlah yang besar guna mencegah penularan virus Cirona. Selain itu, proses yang dilaksanakan dalam pengembalian uang tiket sangat lama sehingga masyarakat mulai takut jika tiketnya diklaim hangus.


"Ini berarti Sriwijaya Air tidak punya komitmen dan tidak siap mengatasi situasi ini. Seharusnya layanan seperti ini dilakukan di kantornya bukan di bandara," tuturnya.

Dalam situasi seperti ini, tidak bisa menyalahkan masyarakat lantaran masyarakat canggung berdesak-desakan di depan loket. Sebab, di antara sekian banyak masyarakat yang antri ada beberapa orang yang takut berbaur dan memilih berjauhan. Karena itu, Sriwijaya harus buatkan nomor antrian dan mengatur antriannya.

"Ini tidak bisa salahkan masyarakat. Masyarakat sebetulnya takut antri, tapi karena harus pertahankan uang jutaan rupiah, makanya mereka rela menunggu," ujarnya.

Sedangkan Manager Bandara Mosez Kilangin, Bambang Subagyo mengatakan bahwa kondisi pelayanan yang terjadi di loket Sriwijaya memang cukup mengkwatirkan.

"Karena menangani refund tiket itu urusannya operator Sriwijaya. Kami akan koordinasikan hal ini ke Sriwijaya supaya bagaimana caranya mereka mengatur antrian masyarakat," kata Bambang.

Selanjutnya GM Avco, Edwar Hutahean mengharapkan agar Pemerintah mengecek kebijakan dari setiap air line. Sebab, persoalan yang terjadi harus disikapi oleh masing-masing air line guna mengetahui setiap kondisi. Dalam artian, lockdown ini merupakan kondisi house mager atau bukan.

Saat ini yang harus disikapi adalah bukan hanya persoalan percepetan pengembalian tiket. Namun juga persoalan jumlah pemotongan dan hal lainnya. Untuk situasi saat ini, seharusnya setiap maskapai bisa sesuaikan dengan apa yang telah diarahkan dalam rapat kebijakan lockdown itu.

"Kalau saat situasi normal bisnis biasa, pastinya semua orang tahu, tapi kalau ini kondisi house mager, maka harusnya masing-masing bisa lebih bijak menyikapi pembatalan refund dan yang lainnya," kata Edwar. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a comment