Reynold: Jadi Jubir Covid Merupakan Kepercayaan Pimpinan dan Tuhan

Bagikan Bagikan
Reynold Rizal Ubra

SAPA TIMIKA) - Tanpa kenal lelah, kerja keras serta menggerakkan seluruh kemampuannya untuk kemanusiaan di masa pandemi covid-19, itulah sosok Reynold Rizal Ubra. 


Reynold ditunjuk dan dipercaya Bupati Mimika untuk menjadi Juru bicara (Jubir) tim gugus tugas covid -19 dalam menangani virus Corona di Mimika. Kepercayaan itu datang tidak lama setelah ia dilantik menjadi Pelaksana Tugas  (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Mimika, menggantikan Mantan Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Alfred Douw  yang memasuki masa purna tugas (pensiun). 

Bupati EltinusOmaleng menyerahkan surat Pelaksanaan Tugas Kepada Reynold Ubra menggantikan Mantan Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Alfred Douw,  pada Senin (13/1/2020) lalu. Pengangkatan Reynold Ubra sebagai Plt Kepala Dinas Kesehatan itu sesuai dengan Surat Pelaksanaan tugas Bupati Mimika nomor 821.2/28/BKPSDM.

Berselang waktu yang tidak lama,Reynold kembali ditunjuk sebagai  Jubir Covid-19 Kabupaten Mimika. Baginya ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi dirinya untuk lebih banyak belajar. 

Sebagai seorang aparatur sipil negara (ASN), dalam situasi apapun harus siap dan loyal kepada pimpinan. Itulah kalimat yang diucapkan seorang Reynold ketika ditanya wartawan, Minggu (14/6/2020) 

"Apapun yang ditunjuk oleh pimpinan bagi saya itu adalah suara Tuhan atau kepercayaan Tuhan kepada saya. Bagi saya materi bukanlah segalanya," kata Reynold lagi.

"Setiap hari saya bisa bangun pagi, bernapas dengan sehat dan itu sudah luar biasa bagi saya. Dan Tuhan tempatkan saya melalui pimpinan dan ditunjuk untuk menyelesaikan tugas ini dan ini merupakan satu kepercayaan yang harus saya jalankan," sambung lria kelahiran Fak- Fak 1 Agustus 1974 itu.

Tanggungjawab yang diberikan pimpinan kepadanya, sebagai ASN yang siap mengabdi pada tanah air, ayah dari 4 orang anak itu mengatakan sangat menikmati pekerjaan yang diberikan kepadanya. 

"Saya tidak pernah mengeluh terhadap apa yang saya jalankan atau pekerjaan saat ini sebagai Jubir covid-19, karena banyak orang yang memberikan dukungan kepada saya. Dengan dukungan, doa bagi saya itu melebihi segalanya. Bagi saya itu sudah cukup, dan dengan kondisi seperti ini saya bisa banyak belajar. Kapan lagi saya punya kesempatan seperti ini untuk bisa belajar, menjadi kepercayaan pimpinan bagi saya sangat luar biasa dan saya harus bisa mengambil pelajaran dari situ,"  ujar Reynold.

Pria yang menamatkan pendidikan terakhir di Universitas  Indonesia (UI) itu berkomitmen, tidak akan menerima sepersen  uang hasil kerja dalam menangani covid-19, karena baginya tugas yang diberikan merupakan kesempatan untuk bekerja lebih profesional. 

Diakuinya, untuk memastikan dirinya sehat dan siap melayani masyarakat di Mimika, ia telah menjalani rapid test sebanyak 6 kali dan 1 kali swab, dan hasilnya negatif.

"Saya beryukur bahwa sampai hari ini saya masih diberikan kesehatan untuk terus melakukan aktivas dan terus berupaya bersama pimpinan daerah dan semua stakeholder di Mimika untuk mencegah, mengendalikan dan menangani covid-19, " sebut  pria yang akrab disapa Rey itu.

Menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Kesehatan Mimika dan sebagai Jubir Tim Gugus Covid-19 Kabupaten Mimika,  Rey mengatakan ada dua wabah dunia yang dihadapinya yakni HIV/AIDS dan Virus Corona Disease 2019 (Covid-19).

"Menghadapi dan mengendalikan covid-19 itu betul- betul ada didalam genggaman saya dan juga setiap individu," katanya.

Covid-19 harus mampu dikendalikan oleh masing-masing pribadi, dan saat ini semua orang sudah bisa mengendalikan virus corona, karena dasar untuk mencegahnya telah ada dalam genggaman semua orang. Mau tidak mau  semua orang harus mengikuti protokol kesehatan untuk melindungi diri dan orang lain. 

Rey mengatakan saat ini banyak  orang dengan status pasien Covid-19 yang sembuh bukan karena vaksin, namun imunitas tubuh. Saat ini hanya imunitas tubuh yang mampu menyelamatkan seseorang dari virus. 

Secara nasional ia menjelaskan kasus di Indonesia dengan angka kematian kurang dari 5 persen dan di Mimika sendiri dibawa 2 persen angka kematian. Pasien yang meninggal karena covid itu dijelaskan bahwa selain karena terpapar virus Corona tapi juga ada penyakit penyerta.

Suka tidak suka semua orang akan hidup berdampingan dengan virus, dan disitu setiap orang disadarkan dengan  pola hidup yang sehat.

Gugus Tugas covid-19 Mimika sampai hari ini menyelesaikan kasus-kasus secara komprehensif. Dalam menangani masalah covid-19, dirinya sehari harus bekerja maksimal 20 jam.

"Saya pulang kerja paling lambat pukul 23:00 atau jam 11 malam. Ketika tiba di rumah saya masih harus menyelesaikan pekerjaan lain dan merencanakan untuk pekerjaan besok harinya, lanjut dengan membaca, lalu saya istirahat. Jam 5 pagi saya harus bangun, mengawali pagi saya dengan doa, kemudian membaca dan mulai beraktivitas seperti apa yang menjadi tanggung jawab saya," terangnya.

"Keinginan saya setelah ini adalah kembali bekerja di lapangan sebagai public health menjadi epidemiologi sejati, yang setiap harinya sepatu saya harus kotor karena berada di lapangan, bukan menjadi seorang birokrat. Itu keinginan saya namun saya diikat oleh aturan dan sebagai ASN apa yang ditunjuk pimpinan harus dijalankan," tutur Reynold. (Jefri Manehat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar